Sabtu, 30 Agustus 2025

Hikayat Nek Kelok Pamane Kampouk Pasi (Cerita Rakyat Singkawang, Kalimantan Barat)

 

Hikayat Nek Kelok Pamane Kampouk Pasi

Alkisah, pada zaman dahulu, di sebuah negeri bernama Kampouk Pasi, hiduplah seorang lelaki bijak yang dikenal dengan nama Nek Kelok. Nama itu diberikan oleh ibunya karena pada saat ia lahir, alisnya tampak berkelok indah. Seiring berjalannya waktu, ia tumbuh menjadi seorang yang rajin, giat bekerja, dan penuh kasih sayang terhadap sesama.

Nek Kelok bukanlah orang biasa, ia dikenal sebagai seorang Pamane, tabib yang mampu mengobati segala macam penyakit. Tidak hanya penyakit badan, bahkan penyakit yang dianggap datang dari gangguan roh halus. Banyak sudah orang yang disembuhkannya, dan banyak pula nyawa yang selamat berkat pertolongannya. Namun ia tidak pernah meminta imbalan berupa harta atau emas, melainkan hanya sebatang jarum atau paku, sebagai tanda penolak bala agar penyakit tidak kembali pada orang yang diobatinya.

Pada suatu pagi yang cerah, Nek Kelok dan istrinya duduk di halaman rumah yang luas. Mereka menatap rimbunnya tanaman obat yang ditanam dengan penuh ketelitian: karinapat, kaimabo, angae jaranang, dan berbagai tumbuhan langka lainnya. Sang istri bertanya tentang manfaatnya, dan Nek Kelok dengan sabar menjelaskan khasiat setiap daun, akar, hingga bunga yang bisa menyembuhkan. Suasana pagi itu dipenuhi kicau burung dan semilir angin, tanda kebahagiaan mereka hidup sederhana namun penuh arti.

Tatkala mereka sedang berbincang, datanglah seorang pria dari kampung sebelah. Dengan wajah cemas ia memohon pertolongan, sebab anak lelakinya sakit keras hampir dua pekan lamanya. Dengan hati tulus, Nek Kelok menyanggupi. Ia membawa tas ramuan, berangkat bersama pria itu melewati bukit dan rawa, hingga tibalah di kampung yang masih diselimuti nuansa keramat.

Di rumah yang dituju, tampak seorang anak laki-laki terbaring lemah di atas alas anyaman. Tubuhnya pucat, lidahnya pahit, dan ia hampir tak mampu bergerak. Orangtuanya menangis, memohon kesembuhan. Nek Kelok pun duduk di sisi anak itu, menyiapkan dupa dan sesajian, lalu berdoa dalam bahasa leluhur. Suasana menjadi mencekam; angin bertiup kencang, ayam berkokok, anjing melolong, seolah-olah dunia gaib tengah hadir.

Tampaklah sesosok roh berwajah pucat dengan kuku tajam berdiri di hadapan Nek Kelok. Roh itu mengaku menyiksa sang anak karena tempat tinggalnya diusik oleh orang dewasa yang membuka lahan tanpa izin. Dengan tenang namun tegas, Nek Kelok berbicara:

“Wahai roh, janganlah engkau menyiksa anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Jika engkau marah, bicaralah kepada orang tuanya. Manusia dan roh harus hidup berdampingan di bumi ini.”

Perdebatan panjang terjadi, namun akhirnya roh itu luluh. Ia berkata bahwa bangsa manusia tidak boleh merusak hutan, sungai, dan bukit tempat mereka bersemayam. Setelah itu, roh pun pergi, dan seketika anak tersebut bangun sembari berkata, “Ibu, aku lapar.”

Tangisan berubah menjadi sukacita. Ibunya segera memberi makan, ayahnya berucap syukur, dan seluruh kampung memuliakan jasa Nek Kelok. Sejak saat itu, masyarakat Kampouk Pasi memahami bahwa manusia harus menjaga keseimbangan alam, menghormati makhluk yang tak kasatmata, serta selalu berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.


Tidak ada komentar:

HENDRA BAHARI SINGKAWANG: Hikayat Mungkar Lala

HENDRA BAHARI SINGKAWANG: Hikayat Mungkar Lala :   Hikayat Mungkar Lala Sebermula, adalah sebuah kampung di tepi sungai nan bernama Maring...