Hikayat Pangoer
Alkisah, pada zaman dahulu kala, di sebuah bantang bernama Sakawokng, hiduplah seorang lelaki bernama Nek Olotn. Sehari-harinya ia bekerja sebagai pekebun karet. Setiap pagi-pagi buta, sebelum matahari menampakkan sinarnya, Nek Olotn berangkat menuju kebun untuk menoreh batang pohon karet. Bila cuaca cerah dan bersahabat, banyaklah getah karet yang ia peroleh. Namun, jika hujan turun membasahi bumi, ia memilih berdiam diri di rumah, karena pekerjaan itu tiada dapat dilakukan.
Sejak kecil, Nek Olotn telah diajarkan oleh kedua orang tuanya cara menanam karet, merawatnya hingga menyadap getahnya. Selain itu, ia pun pandai mengolah ladang padi. Maka tiap musim panen tiba, hasil padinya berlimpah-ruah. Oleh sebab itu, ia dikenal oleh penduduk sekitar sebagai juragan padi, seorang yang berkecukupan hasil bumi.
Syahdan, pada suatu hari, ketika matahari telah naik tinggi di atas kepala, Nek Olotn yang bekerja di ladangnya merasa penat. Maka pulanglah ia ke pondok kecilnya yang berada di tengah ladang, tempat ia beristirahat dan berteduh. Ia pun berniat memasak sayur-mayur yang telah dibawanya dari rumah. Tetapi tatkala diperiksa, alangkah terkejutlah ia, sebab ia lupa membawa nasi.
“Ya ampun, bagaimana mungkin aku lupa membawa nasi? Namun, syukurlah masih ada beras dalam tempayan ini,” kata Nek Olotn dalam hati. Bergegaslah ia mencuci beras itu, memasukkannya ke dalam periuk, lalu diletakkan di atas tungku api.
Sambil menunggu masakan itu matang, ia termenung seorang diri. “Jika tahun ini aku memperoleh hasil panen berlimpah, maka aku akan segera menikah,” demikianlah ia berangan-angan. Tetapi karena lamunan panjang itu, ia lalai menjaga nasi yang dimasaknya. Air rebusan nasi telah meluap hingga tutup periuk terlepas dan jatuh ke dalam perapian.
Melihat kejadian itu, ia terkejut lalu mengambil sendok kayu—yang disebut pangoer—untuk mengaduk nasi. Namun karena terburu-buru, periuk itu terguncang dan nasi pun tumpah ke dalam api. Marahlah Nek Olotn, lalu dipukulkannya sendok kayu itu ke periuknya.
Tiba-tiba, periuk dan pangoer itu berbicara! Maka terkejutlah ia hingga tubuhnya bergetar ketakutan. Berkatalah periuk, “Wahai manusia, mengapa engkau begitu jahat memperlakukan kami? Bukankah kami telah membantumu menanak nasi, mengapa engkau menyakiti kami?”
Sahut Nek Olotn, “Justru kalianlah yang salah! Mengapa nasi yang kumasak tumpah semua? Bukankah aku ingin segera makan?”
Jawab sang pangoer, “Bagaimana tidak tumpah? Engkau hanya melamun, sehingga lupa menjaga nasi yang mendidih. Maka terjadilah semua ini.”
Mendengar itu, Nek Olotn menjadi semakin murka. Dipukulkannya kembali pangoer itu ke periuk hingga patah, dan periuk pun retak berderai. Maka menangislah periuk dan pangoer itu. Dengan pilu mereka bersumpah, “Mulai hari ini, engkau tidak akan lagi merasakan makanan yang enak. Kesalahanmu telah mencelakai kami, maka begitulah balasanmu.”
Sumpah itu rupanya terdengar oleh Jubato, penjaga alam yang berkuasa atas hasil bumi. Maka dikabulkannyalah sumpah tersebut. Sejak hari itu, tiap kali musim panen tiba, ladang Nek Olotn tiada lagi menghasilkan. Padi yang ditanamnya selalu puso, dimakan hama dan binatang pengerat. Biji padinya hampa, sayurannya layu, tiada lagi hasil yang bisa dinikmati.
Maka menyesallah Nek Olotn atas perbuatannya dahulu. Namun apa daya, nasi telah menjadi bubur. Waktu tiada dapat diputar kembali. Sejak itulah hidupnya miskin dan menderita, kelaparan karena ulahnya sendiri.
Konon, semenjak peristiwa itu, masyarakat di sekitar Sakawokng percaya adanya larangan atau pamali. Yaitu, saat memasak nasi, janganlah memukul-mukulkan sendok kayu pangoer ke periuk, sebab perbuatan itu dipercaya mendatangkan celaka.
Demikianlah hikayat Pangoer, yang memberi pengajaran kepada kita agar berhati-hati dalam menjaga sesuatu, tidak berbuat aniaya pada barang sekalipun, karena segala sesuatu di dunia ini memiliki jiwa dan martabat.