Teks Anekdot: “Kenalan Sendiri-sendiri”
Di sebuah acara seminar internasional, suasananya cukup ramai. Perwakilan dari berbagai negara duduk melingkar, saling memperkenalkan diri dengan penuh percaya diri. Salah satu peserta dari Indonesia, bernama Dimas, duduk tenang sambil memperhatikan percakapan yang semakin riuh.
Seorang peserta dari luar negeri, sebut saja Mr. Parker, tiba-tiba menegur Dimas dengan nada ramah, “Hey, you must know Professor Jonathan, right? He’s quite famous in your country!”
Dimas tersenyum sopan. “Hmm, maaf, saya kurang kenal, Pak. Siapa beliau?”
Mr. Parker tampak terkejut. “What? Everyone knows him! He’s an important figure in international education! You should know him!”
Beberapa peserta lain mulai ikut-ikutan menyebut nama orang terkenal lainnya. “You also know Dr. Samantha? She visited Jakarta last month!” kata seorang peserta lain dengan antusias.
Dimas mulai merasa jengah. Ia bukan tidak
sopan, hanya heran kenapa orang-orang itu menganggap semua orang Indonesia
pasti mengenal tokoh yang sama. Dengan nada santai tapi tajam, ia berkata
sambil tersenyum lebar,
“Nah, itulah! Masing-masing orang kan punya kenalan sendiri! Jangan paksakan
saya mengenal orang-orang yang Anda sebutkan tadi itu! Emang gue pikirin …”
Ruangan seketika hening. Lalu, perlahan tawa kecil mulai terdengar. Mr. Parker bingung, tapi peserta lain tertawa geli mendengar nada jujur Dimas yang khas orang Indonesia.
Seorang peserta dari Malaysia berbisik, “Wah, kalau orang Indonesia ngomong ‘emang gue pikirin’, tandanya diskusinya udah selesai!”
Dimas tertawa kecil sambil meneguk kopinya. “Bukan marah, cuma realistis. Kadang, yang penting bukan kenal siapa, tapi dikenal karena jadi diri sendiri.”
Semua akhirnya ikut tertawa. Seminar pun berlanjut dengan suasana yang lebih akrab dan ringan.