Rabu, 05 November 2025

Teks Anekdot: “Kenalan Sendiri-sendiri”

 

Teks Anekdot: “Kenalan Sendiri-sendiri” 

Di sebuah acara seminar internasional, suasananya cukup ramai. Perwakilan dari berbagai negara duduk melingkar, saling memperkenalkan diri dengan penuh percaya diri. Salah satu peserta dari Indonesia, bernama Dimas, duduk tenang sambil memperhatikan percakapan yang semakin riuh.

Seorang peserta dari luar negeri, sebut saja Mr. Parker, tiba-tiba menegur Dimas dengan nada ramah, “Hey, you must know Professor Jonathan, right? He’s quite famous in your country!”

Dimas tersenyum sopan. “Hmm, maaf, saya kurang kenal, Pak. Siapa beliau?”

Mr. Parker tampak terkejut. “What? Everyone knows him! He’s an important figure in international education! You should know him!”

Beberapa peserta lain mulai ikut-ikutan menyebut nama orang terkenal lainnya. “You also know Dr. Samantha? She visited Jakarta last month!” kata seorang peserta lain dengan antusias.

Dimas mulai merasa jengah. Ia bukan tidak sopan, hanya heran kenapa orang-orang itu menganggap semua orang Indonesia pasti mengenal tokoh yang sama. Dengan nada santai tapi tajam, ia berkata sambil tersenyum lebar,
Nah, itulah! Masing-masing orang kan punya kenalan sendiri! Jangan paksakan saya mengenal orang-orang yang Anda sebutkan tadi itu! Emang gue pikirin …

Ruangan seketika hening. Lalu, perlahan tawa kecil mulai terdengar. Mr. Parker bingung, tapi peserta lain tertawa geli mendengar nada jujur Dimas yang khas orang Indonesia.

Seorang peserta dari Malaysia berbisik, “Wah, kalau orang Indonesia ngomong ‘emang gue pikirin’, tandanya diskusinya udah selesai!”

Dimas tertawa kecil sambil meneguk kopinya. “Bukan marah, cuma realistis. Kadang, yang penting bukan kenal siapa, tapi dikenal karena jadi diri sendiri.”

Semua akhirnya ikut tertawa. Seminar pun berlanjut dengan suasana yang lebih akrab dan ringan.

Teks Anekdot: “Kenalan Siapa Lebih Hebat?”

 

Teks Anekdot: “Kenalan Siapa Lebih Hebat?”

Suatu sore yang cerah di sebuah kafe pinggir jalan, Masbayu dan Yoel duduk sambil menikmati secangkir kopi. Obrolan awal mereka ringan—tentang pekerjaan, lalu lintas, dan harga bensin yang makin naik. Namun seperti biasa, Yoel selalu punya cara untuk membuat percakapan berubah arah.

“Bayu,” katanya dengan nada bangga, “kamu tahu nggak, minggu lalu aku makan malam bareng influencer terkenal. Habis itu, aku juga ketemu anggota dewan waktu acara komunitas. Wah, kenalanku makin banyak!”

Masbayu hanya tersenyum. Ia sudah hafal gaya Yoel yang suka membanggakan koneksinya. “Wah, hebat, Yoel,” jawabnya tenang. “Tapi, kamu bener-bener kenal mereka atau cuma sempat foto bareng aja?”

Yoel terdiam sebentar, lalu tertawa canggung. “Ya, pokoknya mereka tahu aku ada, itu juga termasuk kenalan dong,” ujarnya membela diri. Ia lalu mulai menyebut nama-nama lain—mulai dari selebritas, pejabat, sampai pengusaha yang bahkan Masbayu tak pernah dengar namanya.

Sambil menatap ke luar jendela, Masbayu mengaduk kopinya perlahan. “Kalau begitu, aku juga punya banyak kenalan,” katanya tiba-tiba. “Aku kenal tukang parkir yang selalu bantu jagain motorku, ibu warung yang selalu ingat pesananku, dan anak kecil yang tiap pagi senyum waktu aku lewat.”

Yoel terdiam lagi, kali ini lebih lama. Masbayu menatapnya sambil tersenyum lebar. “Nah, itulah, Yoel! Masing-masing orang punya kenalan sendiri-sendiri. Kamu kenal yang terkenal, aku kenal yang tulus. Sama-sama berharga, kan?”

Yoel akhirnya tertawa kecil sambil mengangkat cangkirnya. “Oke, aku kalah, Bayu. Kenalanmu memang nggak terkenal, tapi kayaknya lebih penting buat hidupmu.”

Masbayu mengangguk. “Dan lebih sering nyapa, dibanding kenalanmu yang cuma muncul di foto.”

Jumat, 17 Oktober 2025

Puisi "Aku" Karya Chairil Anwar

 

Aku
Karya: Chairil Anwar

 

Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang 'kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi.

HENDRA BAHARI SINGKAWANG: Hikayat Mungkar Lala

HENDRA BAHARI SINGKAWANG: Hikayat Mungkar Lala :   Hikayat Mungkar Lala Sebermula, adalah sebuah kampung di tepi sungai nan bernama Maring...