Matahari pagi Buaran belum terlalu tinggi, tapi peluh sudah membasahi kaus kerjaku. Bersama teman-teman pekerja, kami berdiri mengawasi bentangan Jalan Letjen Suprapto. Lapisan semen segar yang kami garap mati-matian sejak kemarin malam masih basah kuyup, memantulkan kilau kelabu.
Semalaman kami tidak tidur, menahan kantuk dan pegal demi memastikan pengecoran jalan jalur Watusalam–Karangdadap ini rapi dan kokoh. Pagi ini, kemacetan di luar area proyek memang mengular panjang. Tapi kami sudah memasang palang pembatas dan rambu penutup jalan dengan jelas di barisan terdepan. Semen ini butuh waktu untuk mengeras. Jika dilindas sekarang, hancurlah sudah seluruh kerja keras kami.
Tiba-tiba, suara pintu mobil berkedak keras di depan palang.
Aku menoleh. Seorang pria berseragam rapi ASN turun dari mobil putihnya. Kupikir dia hanya ingin bertanya atau melihat keadaan. Namun, tanpa mengacuhkan kami yang berdiri tak jauh di sana, tangannya dengan santai menggeser palang pembatas kayu yang kami pasang.
"Pak! Jangan digeser, Pak! Semennya masih basah!" teriak salah seorang temanku sambil melambaikan tangan.
Suara kami kalah oleh deru mesin. Pria itu sama sekali tak peduli. Dengan wajah dingin, ia kembali masuk ke mobil, menginjak gas, dan langsung menerobos melindas semen yang masih lembek itu.
Krrrrkk.
Dada ini rasanya sesak dan panas seketika. Roda-roda mobil putih itu dengan tega melindas karya yang kami jaga semalaman, meninggalkan alur lecekan dalam dan merusak tatanan semen. Lebih parahnya lagi, aksi egois pria berseragam itu memicu efek domino. Beberapa pemotor di belakangnya ikut-ikutan menerobos, memperparah kerusakan jalan yang baru kami cor.
"Aduh, Pak... kok tega banget, sih?" gumam temanku dengan nada suara lemas dan kecewa.
Kami cuma bisa berdiri terpaku memandangi jalan yang kini berlubang dan berbekas roda. Rasa lelah semalaman bertukar jadi amarah dan keputusasaan. Seragam rapi yang dikenakannya sama sekali tak mencerminkan rasa hargai pada peluh rakyat kecil seperti kami.
Siang harinya, kabar mengejutkan datang. Ternyata ada warga yang merekam aksi nekat mobil putih itu dan mengunggahnya ke media sosial hingga viral. Pria berseragam itu diketahui merupakan PNS di Dinas Pertanian dan Pangan Kota Pekalongan. Pihak Pemkab Pekalongan dan BKPSDM bertindak tegas—oknum tersebut langsung dipanggil, diperiksa, dan dijatuhi Surat Peringatan (SP) serta sanksi disiplin.
Mendengar dia harus berhadapan dengan sanksi dan rasa malu di hadapan publik, ada sedikit keadilan yang kami rasakan. Alasan "terburu-buru takut terlambat kantor" yang diucapkannya saat diperiksa terasa begitu picik dibandingkan kerja keras kami di lapangan.
Meski begitu, sanksi yang diterima oknum itu tidak otomatis merapikan jalanan yang rusak. Sambil memegang cangkul dan perata semen, kami kembali turun ke jalan di bawah sengatan matahari. Kami mengaduk semen baru, menambal lubang-lubang bekas lindasan roda mobil putih itu, dan merapikannya kembali dari awal.
Sambil meratakan semen basah itu, aku membatin: Seragam dan jabatan tinggi mungkin bisa membuatmu merasa penting, tapi di atas jalanan ini, kerja keras dan rasa saling menghargailah yang membuat kita tetap menjadi manusia.