Jumat, 02 Oktober 2026

Cerpen: Di Atas Semen yang Masih Basah

Matahari pagi Buaran belum terlalu tinggi, tapi peluh sudah membasahi kaus kerjaku. Bersama teman-teman pekerja, kami berdiri mengawasi bentangan Jalan Letjen Suprapto. Lapisan semen segar yang kami garap mati-matian sejak kemarin malam masih basah kuyup, memantulkan kilau kelabu.

Semalaman kami tidak tidur, menahan kantuk dan pegal demi memastikan pengecoran jalan jalur Watusalam–Karangdadap ini rapi dan kokoh. Pagi ini, kemacetan di luar area proyek memang mengular panjang. Tapi kami sudah memasang palang pembatas dan rambu penutup jalan dengan jelas di barisan terdepan. Semen ini butuh waktu untuk mengeras. Jika dilindas sekarang, hancurlah sudah seluruh kerja keras kami.

Tiba-tiba, suara pintu mobil berkedak keras di depan palang.

Aku menoleh. Seorang pria berseragam rapi ASN turun dari mobil putihnya. Kupikir dia hanya ingin bertanya atau melihat keadaan. Namun, tanpa mengacuhkan kami yang berdiri tak jauh di sana, tangannya dengan santai menggeser palang pembatas kayu yang kami pasang.

"Pak! Jangan digeser, Pak! Semennya masih basah!" teriak salah seorang temanku sambil melambaikan tangan.

Suara kami kalah oleh deru mesin. Pria itu sama sekali tak peduli. Dengan wajah dingin, ia kembali masuk ke mobil, menginjak gas, dan langsung menerobos melindas semen yang masih lembek itu.

Krrrrkk.

Dada ini rasanya sesak dan panas seketika. Roda-roda mobil putih itu dengan tega melindas karya yang kami jaga semalaman, meninggalkan alur lecekan dalam dan merusak tatanan semen. Lebih parahnya lagi, aksi egois pria berseragam itu memicu efek domino. Beberapa pemotor di belakangnya ikut-ikutan menerobos, memperparah kerusakan jalan yang baru kami cor.

"Aduh, Pak... kok tega banget, sih?" gumam temanku dengan nada suara lemas dan kecewa.

Kami cuma bisa berdiri terpaku memandangi jalan yang kini berlubang dan berbekas roda. Rasa lelah semalaman bertukar jadi amarah dan keputusasaan. Seragam rapi yang dikenakannya sama sekali tak mencerminkan rasa hargai pada peluh rakyat kecil seperti kami.

Siang harinya, kabar mengejutkan datang. Ternyata ada warga yang merekam aksi nekat mobil putih itu dan mengunggahnya ke media sosial hingga viral. Pria berseragam itu diketahui merupakan PNS di Dinas Pertanian dan Pangan Kota Pekalongan. Pihak Pemkab Pekalongan dan BKPSDM bertindak tegas—oknum tersebut langsung dipanggil, diperiksa, dan dijatuhi Surat Peringatan (SP) serta sanksi disiplin.

Mendengar dia harus berhadapan dengan sanksi dan rasa malu di hadapan publik, ada sedikit keadilan yang kami rasakan. Alasan "terburu-buru takut terlambat kantor" yang diucapkannya saat diperiksa terasa begitu picik dibandingkan kerja keras kami di lapangan.

Meski begitu, sanksi yang diterima oknum itu tidak otomatis merapikan jalanan yang rusak. Sambil memegang cangkul dan perata semen, kami kembali turun ke jalan di bawah sengatan matahari. Kami mengaduk semen baru, menambal lubang-lubang bekas lindasan roda mobil putih itu, dan merapikannya kembali dari awal.

Sambil meratakan semen basah itu, aku membatin: Seragam dan jabatan tinggi mungkin bisa membuatmu merasa penting, tapi di atas jalanan ini, kerja keras dan rasa saling menghargailah yang membuat kita tetap menjadi manusia.

Cerpen: Karma Ngebut ke kantor

Senin pagi itu, jarum jam di dasbor mobil putihku seolah berdetak dua kali lebih cepat. Di depan, antrean kendaraan di jalur Watusalam–Karangdadap mengular tanpa ujung, merayap bak siput. Deru mesin dan desing klakson yang bersahutan di sekelilingku membuat kepalaku makin pusing.

Aku menatap jam di pergelangan tangan. Gawat. Waktu apel dan jam absen kantor makin dekat. Pikiran tentang sanksi keterlambatan dan tatapan para atasan di kantor Dinas Pertanian dan Pangan langsung menari-nari di kepala, memicu kepanikan yang membakar dada.

Lalu, mataku tertuju pada ujung barisan mobil: sebuah palang kayu pembatas proyek pengecoran jalan. Di baliknya, terhampar jalan semen yang tampak sepi dan lengang. Lapisan semennya memang terlihat masih basah, sedikit memantulkan kilau matahari pagi. Tapi dalam benakku yang dilanda panik, jalan lengang itu terasa seperti satu-satunya jalur penyelamat.

“Ah, kalau cuma mobilku yang lewat sebentar, tak bakal jadi masalah besar,” pikirku mencoba membenarkan diri.

Tanpa berpikir panjang, aku menarik rem tangan dan membuka pintu mobil. Dengan seragam dinas yang melekat di badan, aku melangkah mantap mendekati palang pembatas itu. Aku tahu puluhan pasang mata pengendara lain menatapku heran, tapi rasa takut terlambat sudah membungkam rasa maluku.

Tanganku memegang kayu pembatas itu, merasakannya sedikit kasar, lalu menggesernya ke tepi jalan.

Selesai. Jalan terbuka.

Aku kembali ke dalam mobil, memegang kemudi dengan telapak tangan yang agak berkeringat, lalu menginjak pedal gas. Mobil putihku meluncur di atas hamparan semen basah yang belum mengeras.

Krrrrkk.

Suara lecekan roda yang melindas semen basah terdengar halus dari bawah ban. Dari kaca spion, aku sempat melihat beberapa pemotor di belakangku ikut mengekor masuk ke jalur yang baru saja kubuka. Ada rasa lega sesaat karena berhasil melepaskan diri dari cengkeraman macet parah itu. Aku memacu mobil lebih cepat menuju kantor, merasa telah memenangkan pertarungan melawan waktu.

Namun, rasa lega itu tidak bertahan lama.

Siang harinya, ponselku tak berhenti bergetar. Sebuah video singkat mendadak menjadi perbincangan hangat di media sosial. Dari sudut pengambilan gambar di pinggir jalan, terlihat jelas mobil putihku menerobos palang yang kugeser sendiri, meninggalkan jejak roda yang merusak semen basah hasil jerih payah para pekerja proyek.

Dada yang pagi tadi sesak karena takut terlambat, kini terasa jauh lebih sesak oleh rasa malu dan penyesalan yang membuncah.

Namaku tercoreng. Pihak Pemkab hingga Pemkot Pekalongan memberikan respons keras atas tindakanku. Panggilan dari tim penegak disiplin BKPSDM langsung datang bagai petir di siang bolong.

Di ruang pemeriksaan yang dingin, hilang sudah seluruh keberanianku pagi tadi. Aku duduk tertunduk lesu di hadapan para petugas. Seragam dinas yang biasanya kukenakan dengan bangga, kini terasa sangat berat dan menekan pundakku.

"Saya terpaksa menerobos karena kondisi jalanan saat itu macet parah dan saya merasa terburu-buru takut terlambat masuk ke kantor..." kataku bergetar saat memberikan klarifikasi, tak berani menatap langsung mata mereka.

Namun, rasa panik dan alasan terburu-buru yang kusampaikan tak bisa menghapus tindakan egoisku. Nasi sudah menjadi bubur. Surat Peringatan (SP) dijatuhkan ke mejaku, disusul ancaman sanksi disiplin PNS yang kini membayangi karier yang telah kubangun bertahun-tahun.

Hari itu aku pulang dengan kepala tertunduk. Aku membayangkan para pekerja proyek di Buaran yang harus mandi keringat kembali, menambal dan merapikan bekas jejak roda mobilku. Sebuah penyesalan mendalam menghantamku: seragam dan jabatan yang kupakai sama sekali tak memberi izin bagiku untuk berdiri di atas aturan publik dan mengabaikan rasa hormat pada sesama.

Cerpen: Di Antara Senter Malam dan Bayang-Bayang

Pagi itu, 1 Oktober 1965, keheningan Istana Negara mendadak retak oleh kegentingan yang membisu. Di dalam kamar, Rachmawati muda dan saudara-saudaranya diminta oleh pengawal untuk tetap diam dan tidak melangkah keluar. Namun, keheningan yang dipaksakan justru memicu gelisah. Didorong rasa penasaran yang membakar, Rachmawati menyelinap keluar menuju pantry—tempat para ajudan biasanya berkumpul.

Langkahnya terhenti. Di sana berdiri sejumlah prajurit bertubuh tegap. Meski mengenakan seragam Batalyon Cakra Bawa, ada asing yang menyengat dari gerak-gerik mereka.

“Kok ada pasukan aneh gitu, lho. Gue tahu dia pakai seragam Cakra, tapi kayaknya nggak pernah naik begini ke dalam,” bisik hatinya penuh tanya.

Di tengah kesenyapan pantry, suara prajurit-prajurit itu terdengar menuntut, membelah udara pagi:

“Presiden di mana? Putra-putrinya di mana?”

Seseorang memberi kode keras. Rachmawati buru-buru menarik diri, kembali masuk ke kamar dengan dada berdebar kencang. Tak lama kemudian, perintah tegas berbunyi: putra-putri Presiden harus segera dievakuasi.

Mereka bergegas masuk ke dalam mobil, meninggalkan istana yang mendadak terasa mencekam. Di tengah jalan, iring-iringan mereka dihentikan oleh barikade pasukan tak dikenal. Tegangan membumbung tinggi sebelum akhirnya identitas mereka dikonfirmasi dan perjalanan diperbolehkan berlanjut.

Namun, Halim—tujuan utama mereka—tidak bisa langsung dituju. Mobil berbelok dan berhenti sejenak di kawasan Sriwijaya. Bayang-bayang mata-mata mengintai di balik kaca spion.

“Karena takutnya diikutin, gitu lho. Sama intel tuh diikutin berarti,” kenang Rachmawati tentang saat-saat menegangkan itu.

Setelah memastikan jalur aman, rombongan akhirnya tiba di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma. Di sanalah Rachmawati kembali bertemu dengan sang ayah, Presiden Soekarno. Di tengah pusaran krisis yang belum pernah ia lihat sebelumnya, Rachmawati menatap wajah ayahnya. Soekarno hanya mengusap pelan dan menatap matanya dalam-dalam, menguarkan satu kalimat pendek yang ketat:

“Ya ini namanya Politik, jadi kamu harus belajar.”

Kata “politik” itu diulangi Soekarno berkali-kali sepanjang hari, seolah menjadi satu-satunya mantra untuk menjelaskan kegilaan yang sedang melanda negeri.

Hingga petang merayap di Halim, situasi kian tak menentu. Rachmawati dan saudara-saudaranya kembali dipindahkan, kali ini membubung ke udara menggunakan helikopter menuju Bandung.

Ketika baling-baling helikopter melambat dan mendarat di Bandung, kegelapan gulita menyambut mereka. Lampu bandara sengaja dipadamkan total. Di tengah kegelapan pekat, kedipan cahaya senter dari bawah menjadi satu-satunya tanda navigasi agar mereka aman melangkah keluar.

“Udah kayak film,” gumam Rachmawati muda dalam hati, tak percaya pada rentetan adegan cepat yang menimpa hidupnya hanya dalam hitungan jam.

Dari pangkalan udara, mereka dilarikan menuju Wisma Siliwangi. Di sana, Rachmawati akhirnya berhambur ke pelukan ibunya. Sang ibu, yang juga dilingkupi kabut ketidaktahuan, mendengarkan dengan wajah pucat saat Rachmawati menuturkan rentetan peristiwa sejak pagi di Jakarta—termasuk desas-desus kelam yang mulai berembus sayup-sayup:

“Banyak jenderal diculik pagi-pagi…”

Hari-hari setelah 1 Oktober 1965 tidak pernah lagi sama. Roda sejarah berputar hebat, menumbangkan kenyamanan yang pernah mereka kenal. Sempat kembali sebentar ke Istana Jakarta, sebuah perintah dingin tiba-tiba dijatuhkan: seluruh keluarga Presiden harus mengosongkan istana dalam waktu 2 × 24 jam.

Terdepak dari rumah sendiri, mereka dievakuasi ke Istana Cipanas. Lebih dari dua bulan mereka terisolasi di sana, terpisah jarak dari Soekarno yang berada di Istana Bogor. Tak ada tatap muka, tak ada pelukan hangat ayah. Informasi mengenai nasib sang Proklamator hanya tiba dalam sepi lewat bisikan para ajudan.

Bagi Rachmawati yang masih begitu muda, gelombang sejarah yang menerjang keluarganya terasa begitu dahsyat, kolosal, sekaligus mengerikan.

“Udah pikirannya kayak Revolusi Oktober 1917.”

Malam-malam di Cipanas berlalu dalam bisikan angin pegunungan, menyisakan ingatan abadi tentang pagi di mana pasukan asing bertanya di pantry istana, dan pelajaran pertama dari sang ayah tentang arti sebenarnya dari sebuah kata: Politik.

Cerpen: Di Atas Semen yang Masih Basah

Matahari pagi Buaran belum terlalu tinggi, tapi peluh sudah membasahi kaus kerjaku. Bersama teman-teman pekerja, kami berdiri mengawasi bent...