Jumat, 02 Oktober 2026

Cerpen: Karma Ngebut ke kantor

Senin pagi itu, jarum jam di dasbor mobil putihku seolah berdetak dua kali lebih cepat. Di depan, antrean kendaraan di jalur Watusalam–Karangdadap mengular tanpa ujung, merayap bak siput. Deru mesin dan desing klakson yang bersahutan di sekelilingku membuat kepalaku makin pusing.

Aku menatap jam di pergelangan tangan. Gawat. Waktu apel dan jam absen kantor makin dekat. Pikiran tentang sanksi keterlambatan dan tatapan para atasan di kantor Dinas Pertanian dan Pangan langsung menari-nari di kepala, memicu kepanikan yang membakar dada.

Lalu, mataku tertuju pada ujung barisan mobil: sebuah palang kayu pembatas proyek pengecoran jalan. Di baliknya, terhampar jalan semen yang tampak sepi dan lengang. Lapisan semennya memang terlihat masih basah, sedikit memantulkan kilau matahari pagi. Tapi dalam benakku yang dilanda panik, jalan lengang itu terasa seperti satu-satunya jalur penyelamat.

“Ah, kalau cuma mobilku yang lewat sebentar, tak bakal jadi masalah besar,” pikirku mencoba membenarkan diri.

Tanpa berpikir panjang, aku menarik rem tangan dan membuka pintu mobil. Dengan seragam dinas yang melekat di badan, aku melangkah mantap mendekati palang pembatas itu. Aku tahu puluhan pasang mata pengendara lain menatapku heran, tapi rasa takut terlambat sudah membungkam rasa maluku.

Tanganku memegang kayu pembatas itu, merasakannya sedikit kasar, lalu menggesernya ke tepi jalan.

Selesai. Jalan terbuka.

Aku kembali ke dalam mobil, memegang kemudi dengan telapak tangan yang agak berkeringat, lalu menginjak pedal gas. Mobil putihku meluncur di atas hamparan semen basah yang belum mengeras.

Krrrrkk.

Suara lecekan roda yang melindas semen basah terdengar halus dari bawah ban. Dari kaca spion, aku sempat melihat beberapa pemotor di belakangku ikut mengekor masuk ke jalur yang baru saja kubuka. Ada rasa lega sesaat karena berhasil melepaskan diri dari cengkeraman macet parah itu. Aku memacu mobil lebih cepat menuju kantor, merasa telah memenangkan pertarungan melawan waktu.

Namun, rasa lega itu tidak bertahan lama.

Siang harinya, ponselku tak berhenti bergetar. Sebuah video singkat mendadak menjadi perbincangan hangat di media sosial. Dari sudut pengambilan gambar di pinggir jalan, terlihat jelas mobil putihku menerobos palang yang kugeser sendiri, meninggalkan jejak roda yang merusak semen basah hasil jerih payah para pekerja proyek.

Dada yang pagi tadi sesak karena takut terlambat, kini terasa jauh lebih sesak oleh rasa malu dan penyesalan yang membuncah.

Namaku tercoreng. Pihak Pemkab hingga Pemkot Pekalongan memberikan respons keras atas tindakanku. Panggilan dari tim penegak disiplin BKPSDM langsung datang bagai petir di siang bolong.

Di ruang pemeriksaan yang dingin, hilang sudah seluruh keberanianku pagi tadi. Aku duduk tertunduk lesu di hadapan para petugas. Seragam dinas yang biasanya kukenakan dengan bangga, kini terasa sangat berat dan menekan pundakku.

"Saya terpaksa menerobos karena kondisi jalanan saat itu macet parah dan saya merasa terburu-buru takut terlambat masuk ke kantor..." kataku bergetar saat memberikan klarifikasi, tak berani menatap langsung mata mereka.

Namun, rasa panik dan alasan terburu-buru yang kusampaikan tak bisa menghapus tindakan egoisku. Nasi sudah menjadi bubur. Surat Peringatan (SP) dijatuhkan ke mejaku, disusul ancaman sanksi disiplin PNS yang kini membayangi karier yang telah kubangun bertahun-tahun.

Hari itu aku pulang dengan kepala tertunduk. Aku membayangkan para pekerja proyek di Buaran yang harus mandi keringat kembali, menambal dan merapikan bekas jejak roda mobilku. Sebuah penyesalan mendalam menghantamku: seragam dan jabatan yang kupakai sama sekali tak memberi izin bagiku untuk berdiri di atas aturan publik dan mengabaikan rasa hormat pada sesama.

Tidak ada komentar:

Cerpen: Di Atas Semen yang Masih Basah

Matahari pagi Buaran belum terlalu tinggi, tapi peluh sudah membasahi kaus kerjaku. Bersama teman-teman pekerja, kami berdiri mengawasi bent...