Jumat, 02 Oktober 2026

Cerpen: Di Antara Senter Malam dan Bayang-Bayang

Pagi itu, 1 Oktober 1965, keheningan Istana Negara mendadak retak oleh kegentingan yang membisu. Di dalam kamar, Rachmawati muda dan saudara-saudaranya diminta oleh pengawal untuk tetap diam dan tidak melangkah keluar. Namun, keheningan yang dipaksakan justru memicu gelisah. Didorong rasa penasaran yang membakar, Rachmawati menyelinap keluar menuju pantry—tempat para ajudan biasanya berkumpul.

Langkahnya terhenti. Di sana berdiri sejumlah prajurit bertubuh tegap. Meski mengenakan seragam Batalyon Cakra Bawa, ada asing yang menyengat dari gerak-gerik mereka.

“Kok ada pasukan aneh gitu, lho. Gue tahu dia pakai seragam Cakra, tapi kayaknya nggak pernah naik begini ke dalam,” bisik hatinya penuh tanya.

Di tengah kesenyapan pantry, suara prajurit-prajurit itu terdengar menuntut, membelah udara pagi:

“Presiden di mana? Putra-putrinya di mana?”

Seseorang memberi kode keras. Rachmawati buru-buru menarik diri, kembali masuk ke kamar dengan dada berdebar kencang. Tak lama kemudian, perintah tegas berbunyi: putra-putri Presiden harus segera dievakuasi.

Mereka bergegas masuk ke dalam mobil, meninggalkan istana yang mendadak terasa mencekam. Di tengah jalan, iring-iringan mereka dihentikan oleh barikade pasukan tak dikenal. Tegangan membumbung tinggi sebelum akhirnya identitas mereka dikonfirmasi dan perjalanan diperbolehkan berlanjut.

Namun, Halim—tujuan utama mereka—tidak bisa langsung dituju. Mobil berbelok dan berhenti sejenak di kawasan Sriwijaya. Bayang-bayang mata-mata mengintai di balik kaca spion.

“Karena takutnya diikutin, gitu lho. Sama intel tuh diikutin berarti,” kenang Rachmawati tentang saat-saat menegangkan itu.

Setelah memastikan jalur aman, rombongan akhirnya tiba di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma. Di sanalah Rachmawati kembali bertemu dengan sang ayah, Presiden Soekarno. Di tengah pusaran krisis yang belum pernah ia lihat sebelumnya, Rachmawati menatap wajah ayahnya. Soekarno hanya mengusap pelan dan menatap matanya dalam-dalam, menguarkan satu kalimat pendek yang ketat:

“Ya ini namanya Politik, jadi kamu harus belajar.”

Kata “politik” itu diulangi Soekarno berkali-kali sepanjang hari, seolah menjadi satu-satunya mantra untuk menjelaskan kegilaan yang sedang melanda negeri.

Hingga petang merayap di Halim, situasi kian tak menentu. Rachmawati dan saudara-saudaranya kembali dipindahkan, kali ini membubung ke udara menggunakan helikopter menuju Bandung.

Ketika baling-baling helikopter melambat dan mendarat di Bandung, kegelapan gulita menyambut mereka. Lampu bandara sengaja dipadamkan total. Di tengah kegelapan pekat, kedipan cahaya senter dari bawah menjadi satu-satunya tanda navigasi agar mereka aman melangkah keluar.

“Udah kayak film,” gumam Rachmawati muda dalam hati, tak percaya pada rentetan adegan cepat yang menimpa hidupnya hanya dalam hitungan jam.

Dari pangkalan udara, mereka dilarikan menuju Wisma Siliwangi. Di sana, Rachmawati akhirnya berhambur ke pelukan ibunya. Sang ibu, yang juga dilingkupi kabut ketidaktahuan, mendengarkan dengan wajah pucat saat Rachmawati menuturkan rentetan peristiwa sejak pagi di Jakarta—termasuk desas-desus kelam yang mulai berembus sayup-sayup:

“Banyak jenderal diculik pagi-pagi…”

Hari-hari setelah 1 Oktober 1965 tidak pernah lagi sama. Roda sejarah berputar hebat, menumbangkan kenyamanan yang pernah mereka kenal. Sempat kembali sebentar ke Istana Jakarta, sebuah perintah dingin tiba-tiba dijatuhkan: seluruh keluarga Presiden harus mengosongkan istana dalam waktu 2 × 24 jam.

Terdepak dari rumah sendiri, mereka dievakuasi ke Istana Cipanas. Lebih dari dua bulan mereka terisolasi di sana, terpisah jarak dari Soekarno yang berada di Istana Bogor. Tak ada tatap muka, tak ada pelukan hangat ayah. Informasi mengenai nasib sang Proklamator hanya tiba dalam sepi lewat bisikan para ajudan.

Bagi Rachmawati yang masih begitu muda, gelombang sejarah yang menerjang keluarganya terasa begitu dahsyat, kolosal, sekaligus mengerikan.

“Udah pikirannya kayak Revolusi Oktober 1917.”

Malam-malam di Cipanas berlalu dalam bisikan angin pegunungan, menyisakan ingatan abadi tentang pagi di mana pasukan asing bertanya di pantry istana, dan pelajaran pertama dari sang ayah tentang arti sebenarnya dari sebuah kata: Politik.

Tidak ada komentar:

Cerita Rakyat Kalimantan Barat: Riya Sinir dan Dara Hitam

          P ada zaman dahulu kala, ketika hutan Kalimantan masih membentang luas tanpa terputus, hiduplah seorang pemuda bernama Riya Sinir...