Selasa, 02 September 2025

Teks Anekdot “Bantuan untuk Siapa Saja?”

 

“Bantuan untuk Siapa Saja?”

Di sebuah kampung, Pak RT terkenal baik… hanya kalau yang mendapat manfaat adalah keluarganya sendiri. Setiap bantuan pemerintah datang, pasti “khusus untuk keluarga Pak RT dulu!” katanya sambil tersenyum manis.

Warga pun hanya bisa geleng-geleng kepala. “Ah, Pak RT memang lucu, ya. Kalau bantuan berupa beras, ayam, atau sabun, yang lain cuma nonton,” celetuk Bu Tini.

Suatu hari, seekor ayam tetangga tiba-tiba menabrak kantong beras bantuan yang diletakkan di depan rumah Pak RT. Ayam itu dengan lincah mematuk satu persatu kantong. Warga tertawa melihatnya. “Kalau ayam pun bisa menikmati bantuan, kenapa kita tidak?” gumam Pak RT sambil malu-malu.

Sejak itu, setiap kali bantuan datang, warga sengaja menaruh ayam, kambing, bahkan kucing mereka di depan rumah Pak RT. Lucunya, bantuan itu akhirnya tersebar ke seluruh kampung.

Teks Anekdot “Rumah Artis, Warung Gratis?”

 

“Rumah Artis, Warung Gratis?”

Di tengah keramaian demo, kabar beredar: rumah Uya Kuya ikut jadi sasaran.
“Lho, kok bisa?” tanya seorang bapak.

“Katanya sih warga salah alamat. Demo jadi ajang belanja gratis,” jawab pemuda sambil nyengir.

Beberapa warga malah menganggap rumah itu seperti minimarket. “Masuk aja, ambil aja, toh nggak ada kasirnya,” celetuk seorang ibu sambil tertawa pahit.

Pak RT yang kebetulan lewat geleng-geleng kepala. “Lucu ya, negara katanya demokrasi, tapi cara demo malah jadi demo masak: ambil bahan dari rumah orang!”

Semua yang mendengar pun terpingkal.

Ironinya, tujuan demo untuk menuntut keadilan, malah berubah jadi ajang pamer kerakusan. Akhirnya, warga sadar: merampas hak orang lain bukan cara menyuarakan aspirasi.

Karena kalau demo bisa berubah jadi “shopping”, apa bedanya dengan maling yang pakai mikrofon?

Teks Anekdot “Wakil Rakyat atau Wakil Pamer?”

 

“Wakil Rakyat atau Wakil Pamer?”

Di sebuah warung kopi sederhana, warga sedang asyik berdiskusi soal anggota DPR yang sering muncul di layar kaca, Ahmad Sahroni.

“Katanya dia wakil rakyat,” celetuk Pak RT sambil menyeruput kopi, “tapi kok lebih sering kelihatan koleksi mobil mewahnya daripada membahas harga beras?”

Warga pun tertawa.

“Betul!” timpal Bu Ani. “Kalau rapat rakyat, kursinya kosong. Tapi kalau pamer harta, wah… penuh sekali beritanya!”

Semua langsung geleng-geleng kepala.

Lalu seorang pemuda nyeletuk, “Mungkin beliau lupa, DPR itu singkatan Dewan Perwakilan Rakyat, bukan Dewan Pameran Rongsokan—eh maksud saya, kendaraan mewah.”

Tawa pun pecah, sampai-sampai tukang kopi ikut terbahak.

Akhirnya mereka sepakat: wakil rakyat seharusnya fokus pada masalah rakyat, bukan sekadar jadi bintang di media. Sebab rakyat tidak butuh tontonan, tapi tindakan nyata.

HENDRA BAHARI SINGKAWANG: Hikayat Mungkar Lala

HENDRA BAHARI SINGKAWANG: Hikayat Mungkar Lala :   Hikayat Mungkar Lala Sebermula, adalah sebuah kampung di tepi sungai nan bernama Maring...