Sabtu, 28 Maret 2026

Hikayat Nek Cing Kong, Cerita Rakyat Dari Singkawang Selatan, Kalimantan Barat

 

Hikayat Nek Cing Kong

Alkisah, maka tersebutlah kisah di sebuah negeri bernama Pakunam, hiduplah seorang saudagar tua yang amat kaya lagi termasyhur, bernama Nek Cing Kong. Maka heranlah segala orang yang memandangnya, karena walaupun hartanya melimpah ruah, namun pakaiannya amatlah sederhana, bahkan menyerupai seorang pengemis adanya.

Adapun sehari-hari, Nek Cing Kong berjalan dengan sebuah sepeda tua yang berderit bunyinya. Kepalanya senantiasa bertopi lusuh, kakinya tiada beralas, menapak tanah dengan tenang. Maka barang siapa melihat dia, tiadalah menyangka bahwa ia seorang saudagar besar yang memiliki kebun kelapa, durian, dan asam yang luas terbentang, serta peternakan ayam dan babi yang tiada terbilang banyaknya.

Maka tersebut pula, di dalam rumahnya yang besar, Nek Cing Kong tiada memilih tempat tidur yang elok. Ia lebih gemar berbaring di kamar yang kumuh, beralaskan tikar buruk, berselimut kain yang usang, dan berbantal kucel. Maka isterinya, seorang perempuan yang bijaksana, mengurus rumah tangga serta membantu mengatur segala usaha dengan penuh ketekunan. Adapun anaknya, ramailah mereka mengelola segala perniagaan, sehingga bertambah-tambahlah kekayaan keluarga itu.

Sebermula, segala orang kampung sering mencemooh melihat keadaan Nek Cing Kong. Maka kata mereka, “Alangkah hinanya orang tua itu, hidup seperti tiada berharta.” Akan tetapi tiadalah Nek Cing Kong menghiraukan segala perkataan orang, karena hatinya teguh dan pikirannya dalam.

Adapun suatu rahasia yang tiada diketahui orang banyak, bahwasanya Nek Cing Kong senantiasa menyimpan uang yang banyak jumlahnya, digulung rapi lalu diikat, dan dimasukkan ke dalam kantong rokoknya. Maka dengan cara demikianlah ia berjalan ke sana kemari, tiada seorang pun menyangka akan kekayaannya.

Hatta, pada suatu masa, tibalah hari pernikahan anaknya yang sulung. Maka pada hari itu, barulah Nek Cing Kong mengenakan pakaian yang indah lagi bersih. Segala orang yang melihatnya menjadi takjub, karena nyata terlihat kewibawaannya sebagai saudagar besar. Maka berkatalah orang-orang, “Inilah rupanya Nek Cing Kong yang sebenarnya.”

Setelah berlangsung pesta itu dengan meriah, maka kembalilah Nek Cing Kong kepada kehidupannya yang sederhana. Maka berkatalah ia kepada anak-anaknya, “Wahai anak-anakku, harta yang banyak tiada akan berarti jika hati dipenuhi kesombongan. Hendaklah kamu hidup sederhana, walau rezeki melimpah, agar selamat dunia dan akhirat.”

Maka demikianlah kisah Nek Cing Kong menjadi teladan bagi sekalian orang di negeri Pakunam. Barang siapa hidup dengan rendah hati dan bijaksana, niscaya dihormati orang sepanjang masa, adanya.

 

Hikayat Asu Rebutan Balung

 

Hikayat Asu Rebutan Balung

Alkisah, pada suatu masa di negeri yang permai, hiduplah dua orang sahabat bernama Eman dan Joni. Mereka dikenal sebagai pemuda yang rajin, namun hatinya kerap diuji oleh godaan dunia. Maka tersebutlah kisah yang menjadi pengajaran bagi sekalian manusia.

Pada suatu hari, datanglah kabar bahwa di tengah hutan terdapat sebuah peti berisi harta peninggalan seorang saudagar kaya. Maka berangkatlah Eman dan Joni dengan penuh harap. Setelah berhari-hari berjalan, sampailah mereka ke tempat yang dimaksud, lalu didapatinya peti itu terletak di bawah pohon besar.

Tatkala peti itu dibuka, tampaklah emas dan permata yang berkilauan. Maka berubah hati keduanya. Eman berkata, “Baiknya harta ini kita bagi sama rata.” Akan tetapi Joni, yang telah dikuasai nafsu, berkata, “Akulah yang lebih dahulu melihat tempat ini, maka lebih patut bagiku mengambil bagian lebih.”

Maka berselisihlah mereka dengan kata-kata keras, hingga lupa akan persahabatan yang telah lama terjalin. Perkelahian pun hampir terjadi, bagaikan asu rebutan balung, tiada lagi ingat akan budi dan malu.

Tiba-tiba datanglah seorang tua yang arif. Maka katanya, “Wahai anak muda, harta ini tiada akan membawa berkah jika diperebutkan dengan cara demikian. Barang siapa tamak, niscaya kehilangan segalanya.”

Mendengar kata-kata itu, tersadarlah Eman dan Joni. Maka mereka pun menangis menyesali perbuatan. Lalu harta itu dibagi dengan adil, dan sebagian disedekahkan kepada fakir miskin.

Maka demikianlah kisah ini menjadi teladan, bahwa keserakahan hanya membawa kehinaan, sedangkan kebijaksanaan mendatangkan kemuliaan adanya.

 

Minggu, 08 Maret 2026

HENDRA BAHARI SINGKAWANG: Hikayat Mungkar Lala

HENDRA BAHARI SINGKAWANG: Hikayat Mungkar Lala:   Hikayat Mungkar Lala Sebermula, adalah sebuah kampung di tepi sungai nan bernama Maringa. Adapun kampung itu sangatlah makmur, tanahnya ...

Kamis, 05 Maret 2026

Cap Go Meh

 

Cap Go Meh

 

Perayaan Cap Go Meh merupakan salah satu tradisi budaya Tionghoa yang paling meriah di Kota Singkawang, Kalimantan Barat. Cap Go Meh dirayakan pada hari kelima belas setelah Tahun Baru Imlek dan menandai berakhirnya rangkaian perayaan Tahun Baru Tionghoa. Di Singkawang, perayaan ini memiliki ciri khas yang sangat kuat karena kota ini dikenal sebagai salah satu pusat komunitas Tionghoa terbesar di Indonesia.

Perayaan Cap Go Meh di Singkawang tidak hanya menjadi acara keagamaan, tetapi juga menjadi agenda wisata budaya berskala nasional dan internasional. Ribuan wisatawan datang setiap tahun untuk menyaksikan kemeriahan festival ini. Salah satu daya tarik utama adalah atraksi para tatung, yaitu orang-orang yang dipercaya memiliki kemampuan spiritual dan menjadi perantara roh leluhur atau dewa. Para tatung melakukan ritual tolak bala dengan atraksi yang menegangkan, seperti menusukkan benda tajam ke pipi atau berdiri di atas pedang, tanpa terlihat merasakan sakit. Atraksi ini dipercaya sebagai simbol pembersihan dan perlindungan bagi masyarakat.

Selain pertunjukan tatung, perayaan Cap Go Meh juga dimeriahkan dengan arak-arakan naga dan barongsai yang mengelilingi pusat kota. Musik tradisional, tabuhan genderang, serta pakaian adat berwarna merah dan emas menambah semarak suasana. Masyarakat dari berbagai etnis, seperti Tionghoa, Melayu, dan Dayak, turut berpartisipasi sehingga mencerminkan kerukunan dan toleransi antarbudaya di Singkawang.

Secara keseluruhan, Cap Go Meh di Kota Singkawang bukan sekadar perayaan tradisional, melainkan simbol identitas budaya dan persatuan masyarakat. Tradisi ini terus dilestarikan sebagai warisan budaya yang memperkaya keberagaman Indonesia.

Hikayat Nek Mincai Ngan Jaéje (Cerita Rakyat Dayak Salako Sakawokng, Singkawang, Kalimantan Barat)

  Hikayat Nek Mincai Ngan Jaéje Sakawokng merupakan sebuah wilayah di Pulau Kalimantan yang sejak dahulu dikenal sebagai daerah yang indah...