Sabtu, 30 Agustus 2025

Hikayat Umbel Molor dari Pedalaman Kalimantan Barat


 

Hikayat Umbel Molor dari Pedalaman Kalimantan

Adapun tersebutlah kisah dari tanah pedalaman Kalimantan, pada zaman tatkala hutan masih lebat, sungai masih jernih, dan negeri-negeri diperintah oleh raja-raja yang bersemayam dalam istana kayu ulin. Syahdan, adalah seorang raja besar bergelar Raja Indra Bungsu, yang memerintah rakyatnya dengan adil lagi bijaksana. Negeri baginda aman sentosa, akan tetapi hutan sekitarnya terkenal dengan suatu makhluk aneh yang bernama Umbel Molor.

Adapun Umbel Molor itu bukanlah manusia, melainkan hantu malam yang ajaib lagi mustahil keadaannya. Mukanya pucat bagai bulan kabur, matanya merah menyala seperti bara, dan hidungnya panjang menjulur, menitis lendir yang tiada henti-henti. Kata orang tua-tua, hantu itu muncul tatkala bulan gelap, keluar dari celah pohon raksasa, sambil memperlihatkan segala kotoran yang keluar dari hidungnya, akan menakut-nakuti anak-anak kecil yang berani bermain di malam hari.

Hatta, tiada seorang pun berani mengganggu Umbel Molor, kerana katanya, barang siapa menertawakan hantu itu, nescaya dikejarnya sampai ke tengah kampung. Kadang-kadang Umbel Molor berlari tiada berpijak bumi, melainkan melayang di atas angin, suaranya menderu bagaikan ribut malam. Maka anak-anak kecil yang nakal pun ngeri mendengarnya, lalu mereka segera pulang ke rumah sebelum senja, kerana takut akan dikejar hantu Umbel Molor.

Maka sampailah cerita itu ke telinga Raja Indra Bungsu. Baginda pun berasa hairan bercampur gusar, lalu bertitah kepada segala hulubalang:
“Adapun negeri kita ini aman, janganlah kiranya diganggu oleh makhluk aneh. Siapa di antara kamu berani menghadapi hantu itu?”

Maka bangunlah seorang hulubalang muda bernama Panglima Seriang, gagah berani, bertubuh besar laksana pohon kelapa, suaranya lantang bagai guntur. Katanya:
“Daulat tuanku, biarlah patik turun ke hutan, menahan segala hantu yang mengganggu anak negeri.”

Syahdan, tatkala malam menjelang, Panglima Seriang pun masuklah ke hutan seorang diri. Maka benar jua kata orang, Umbel Molor pun muncul, mengeluarkan lendir panjang seperti benang emas, berkilauan disinari bulan. Tatkala ditiup angin malam, lendir itu melayang bagai tali, hendak mengikat Panglima Seriang. Akan tetapi, Panglima Seriang membaca mantera sakti warisan nenek moyangnya, lalu keris pusaka dihunus, mengeluarkan cahaya menyilaukan.

Maka Umbel Molor menjerit dengan suara yang menggetarkan bumi. Katanya:
“Jangan kau ganggu daku, kerana aku hanyalah penunggu hutan, diperintah menjaga anak-anak agar jangan berkeliaran di malam hari.”

Mendengar kata itu, Panglima Seriang pun tersentak, lalu kembali menghadap raja, menyampaikan titah hantu tersebut. Maka Raja Indra Bungsu pun maklum, bahawa Umbel Molor bukanlah musuh, melainkan penjaga alam.

Sejak itu, Umbel Molor tidak lagi dianggap hantu jahat, melainkan tanda pengingat bagi rakyat, supaya anak-anak jangan keluar di malam hari. Dan demikianlah adanya kisah dari pedalaman Kalimantan, turun-temurun dari mulut orang tua-tua, menjadi hikayat ajaib penuh teladan.

Hikayat Glundhung Pringis dari Negeri Sungkung Pedalaman Kalimantan Barat

 

Hikayat Glundhung Pringis dari Negeri Sungkung

    Adapun tersebutlah suatu kisah di tanah pedalaman Kalimantan, iaitu di daerah yang bernama Sungkung, suatu negeri terpencil di balik hutan rimba yang tebal. Negeri itu diperintah oleh seorang raja yang adil lagi berani, bergelar Raja Suria Alam Syah. Segala rakyat hidup aman sentosa, tiada kekurangan suatu apa, kerana bumi Sungkung penuh dengan hasil hutan, sungai besar mengalir deras, dan segala binatang bertebaran di rimba.

    Syahdan, pada suatu malam tatkala bulan purnama menggantung di langit, maka terdengarlah khabar aneh. Orang-orang hutan berkata, ada suatu makhluk ghaib bergelinding di jalan, tiadalah bertubuh melainkan hanya kepala, botak licin bagai buah kelapa, berekor usus panjang terurai. Makhluk itu dinamakan orang tua-tua dengan sebutan Glundhung Pringis.

    Hatta, tatkala makhluk itu muncul, bergelindinglah ia di tanah bagaikan bola api, sambil tersenyum ngeri. Barang siapa melihatnya nescaya terperanjat, menjerit ketakutan, bahkan ada yang jatuh sakit kerana tiada tahan akan dahsyat rupanya. Akan tetapi kata orang tua-tua, Glundhung Pringis itu tiada berniat membunuh manusia, hanyalah menakut-nakuti sahaja, menjadi tanda bahawa alam ghaib masih bersemayam di sekitar negeri Sungkung.

    Maka sampailah kabar itu kepada Raja Suria Alam Syah di istana. Baginda pun bersabda:

“Jika benar adanya makhluk ajaib itu, maka hendaklah hamba-hamba sekelian jangan gentar, kerana tiap-tiap kejadian adalah tanda kekuasaan Yang Maha Kuasa. Akan aku sendiri keluar melihat akan hakikat makhluk itu.”

    Maka berangkatlah baginda dengan segala hulubalang, turun ke tepi hutan pada malam yang terang bulan. Tiba-tiba terdengarlah bunyi “glundhung… glundhung…”, maka muncullah kepala botak bergelinding, berekor usus panjang, tertawa dengan suara menakutkan. Hulubalang pun lari tunggang-langgang, tetapi raja tetap berdiri teguh.

    Syahdan, tatkala makhluk itu hampir menyentuh baginda, maka Raja Suria Alam Syah pun menghunus keris pusaka bernama Si Kilat Petir, lalu dihunusnya ke langit. Seketika itu cahaya kilat menyambar, dan Glundhung Pringis pun berhenti bergelinding. Maka terdengarlah suaranya berkata:

“Hai Raja yang mulia, jangan takut akan daku. Tiadalah aku musuh, hanyalah utusan dari alam ghaib, menjadi peringatan bagi manusia agar jangan lupa kepada asal usul dan adat pusaka. Barang siapa lupa pada adat dan agama, nescaya aku datang menampakkan diri, supaya mereka ingat akan janji nenek moyang.”

    Maka setelah berkata demikian, lenyaplah Glundhung Pringis bagai asap disambar angin malam. Raja Suria Alam Syah pun kembali ke istana, lalu menitahkan rakyatnya supaya jangan lalai dalam menjalani adat, jangan lupa kepada amanah nenek moyang, serta senantiasa berpegang kepada kebenaran.

    Hatta, semenjak itu, nama Glundhung Pringis termasyhur dalam cerita orang Sungkung. Anak cucu bercerita dari mulut ke mulut, bahawa makhluk itu bukan musuh, melainkan tanda ghaib bagi manusia, agar hidup jangan terleka oleh dunia.

    Demikianlah hikayat Glundhung Pringis dari pedalaman Kalimantan, menjadi kisah mustahil lagi ajaib, berpusat pada istana, dan kekal turun-temurun sebagai pengajaran bagi yang hidup kemudian.

Hikayat Taino ngan Bangas (Cerita Singkawang, Kalimantan Barat)


Hikayat Taino ngan Bangas

Alkisah pada zaman dahulu kala, ketika dunia masih muda dan segala makhluk hidup dapat berkomunikasi dengan bahasa yang sama, hiduplah dua golongan binatang di muka bumi. Mereka adalah binatang-binatang yang baik hati serta rajin bekerja, dan sebagian lagi adalah binatang yang kemudian berubah menjadi pengganggu kehidupan manusia.

Pada mulanya, semua binatang diciptakan sebagai sahabat bagi manusia. Burung pipit, tikus, kelelawar, belalang, dan binatang lainnya hidup damai berdampingan dengan manusia. Mereka memiliki ladang yang luas terbentang, bahkan lebih subur daripada ladang manusia. Ladang mereka penuh padi yang menguning, sayuran yang segar, serta buah-buahan yang lebat. Semua itu mereka usahakan dengan rajin, sebab mereka dipilih oleh Jubato, Sang Pencipta dalam kepercayaan leluhur Dayak Salako, sebagai makhluk pekerja yang tidak mengenal lelah.

Namun, waktu demi waktu, keserakahan manusia mulai tampak. Melihat ladang binatang yang berlimpah, manusia merasa iri dan ingin menguasainya. Mereka merusak tanaman yang telah ditanam binatang, mencuri hasil panen, bahkan memburu binatang untuk dijadikan santapan. Ladang binatang yang berada jauh di tengah hutan pun tidak luput dari ulah manusia. Perbuatan itu membuat binatang-binatang sedih dan marah.

Maka berkumpullah para binatang. Mereka sepakat menghadap Jubato untuk mengadukan nasib. Dengan hati penuh luka, mereka berkata,
“Wahai Jubato, lihatlah perlakuan manusia terhadap kami. Ladang kami mereka rusak, hasil panen kami mereka rampas, bahkan kami dibunuh tanpa belas kasihan. Manusia adalah makhluk yang tamak dan serakah. Bagaimana kami bisa hidup damai bila begini adanya?”

Mendengar pengaduan itu, Jubato terkejut. Ia tidak menyangka manusia yang diberinya akal budi justru berbuat semena-mena terhadap binatang. Namun, binatang-binatang itu tidak berhenti. Mereka mendatangkan saksi dan bukti atas kelakuan manusia. Jubato pun terdiam, menyadari kebenaran perkataan mereka.

Lalu Jubato bertanya, “Apakah yang kalian inginkan dariku, wahai makhluk ciptaan-Ku?”

Dengan suara lantang, para binatang menjawab, “Kami tidak mau lagi berladang. Kami ingin menjadi pengganggu bagi manusia. Biarlah tanaman mereka kami makan, biarlah ladang mereka kami rusak, sebagai balasan atas kezaliman yang mereka lakukan terhadap kami.”

Jubato mula-mula menolak, sebab Ia tidak ingin terjadi permusuhan antara manusia dan binatang. Namun, karena desakan itu terus bergema, akhirnya Ia mengizinkan binatang-binatang itu menjadi hama bagi ladang manusia. Meski begitu, Jubato memberikan syarat,
“Jika manusia bersyukur, memberi persembahan dari hasil ladangnya kepada-Ku dan menjaga harmoni dengan alam, maka kalian tidak boleh mengganggu mereka. Barang siapa berbuat baik, akan kulindungi dari gangguanmu. Namun, bagi yang lalai dan serakah, biarlah mereka merasakan akibatnya.”

Sejak saat itu, burung pipit, tikus, kelelawar, belalang, dan hewan lainnya berubah menjadi hama bagi manusia. Mereka tidak lagi menanam, tetapi hidup dari hasil ladang manusia. Itulah asal mula mengapa binatang-binatang itu disebut musuh petani. Namun sesungguhnya, mereka dahulu adalah makhluk rajin dan pekerja keras.

Hingga kini, sebagian orang tua berpesan kepada anak cucunya, “Janganlah berlaku tamak kepada alam. Bersyukurlah atas rezeki yang ada, sebab jika serakah, binatang-binatang akan datang sebagai pengingat, bahwa manusia bukanlah penguasa tunggal di bumi ini.”

Hikayat Nek Jaimah, Dukun Sakong (Cerita Singkawang Kalimantan Barat)

 

Hikayat Nek Jaimah, Dukun Sakong 

Pada zaman dahulu, di kaki bukit yang sejuk di kawasan Sagatani, tinggallah seorang perempuan tua yang dikenal dengan nama Nek Jaimah. Ia adalah seorang dukun sakong penyembuh tradisional yang piawai meracik ramuan dari daun, akar, dan bunga-bungaan hutan. Orang-orang datang dari kampung seberang hanya untuk meminta obat, nasihat, dan pertolongan darinya.

Nek Jaimah bukanlah dukun biasa. Ia dikenal karena kesaktiannya dalam menyembuhkan penyakit yang tak kunjung sembuh oleh tabib biasa. Tapi, di balik ilmunya, ia menyimpan prinsip hidup yang teguh: "Kesembuhan bukan hanya urusan ramuan, tapi juga hati yang bersih dan hidup yang jujur."

Suatu hari, datanglah seorang saudagar kaya dari kota. Ia membawa anaknya yang sakit keras. Tubuhnya kurus, wajahnya pucat, dan ia sering meracau tak karuan. Sudah berobat ke dokter dan orang pintar di mana-mana, tapi tak ada hasil. Dengan harapan terakhir, ia membawa anaknya ke pondok kayu milik Nek Jaimah di pinggir hutan Sagatani.

Setelah menatap anak itu dalam-dalam, Nek Jaimah berkata, “Penyakitnya bukan sekadar tubuh, tapi jiwanya luka. Ada dendam dan ketamakan yang mengikutinya.”

Sang saudagar tersinggung. Ia merasa dihina karena dituduh serakah. Tapi Nek Jaimah tidak gentar. Ia menolak memberi ramuan sebelum sang saudagar mengakui kesalahannya. Akhirnya, dengan hati berat, saudagar itu mengaku bahwa ia telah menggusur lahan petani kecil untuk mendirikan pabrik, dan itu membuat banyak keluarga kehilangan tanahnya.

Nek Jaimah meminta sang saudagar untuk kembali ke kota, meminta maaf, dan mengembalikan sebagian lahan tersebut. Jika tidak, penyakit anaknya tak akan sembuh. Sang saudagar menurut. Dalam waktu sebulan, ia mengembalikan tanah, membayar ganti rugi, dan meminta maaf secara terbuka. Ajaibnya, anaknya mulai sembuh—perlahan, makan teratur, dan bisa berjalan kembali.

Nama Nek Jaimah makin masyhur. Tapi ia tetap hidup sederhana. Setiap malam Jumat, ia mengajar anak-anak kampung membaca aksara Arab-Melayu dan bercerita tentang asal-usul hutan, danau, dan roh penjaga bukit Saboh.

Sebelum wafat, Nek Jaimah berpesan:
“Ilmu yang paling tinggi bukanlah mantra, tapi kasih pada sesama dan alam.”
      Ia dimakamkan di bawah pohon tengkawang tua, tempat ia biasa memetik bahan ramuan. Hingga kini, warga Sagatani masih menaruh sesajen bunga di batu besar dekat makamnya setiap awal bulan, sebagai bentuk penghormatan kepada penjaga jiwa kampung: Nek Jaimah.

Hikayat Raja Kampung Samanok (Seayam) (cerita dari Singkawang-Kalimantan Barat)


 

Hikayat Raja Kampung Samanok (Seayam)

Dikisahkan kembali berdasarkan legenda rakyat lisan Singkawang

 

Pada zaman dahulu kala, di kaki Gunung Raya, terdapat sebuah kampung kecil yang makmur bernama Samanok. Penduduk kampung ini hidup rukun dan sederhana. Mereka dikenal pandai memelihara ayam, menanam padi, dan menjaga hutan. Karena itulah kampung itu juga disebut oleh para pelaut sebagai Seayam, yang berarti “kampung pemelihara ayam.”

Kampung Samanok dipimpin oleh seorang raja bernama Raja Kacam, seorang pemimpin yang adil, cerdas, dan sangat mencintai binatang, khususnya ayam. Ia percaya bahwa ayam bukan hanya sumber pangan, tapi juga simbol peringatan dan kesetiaan. Di setiap rumah rakyatnya, terdapat kandang ayam yang rapi, dan setiap pagi, kokok ayam menjadi tanda dimulainya kerja.

Raja Kacam dikenal memiliki ayam kesayangan bernama Si Labi, seekor ayam jantan berwarna merah menyala yang mampu mengenali orang jahat. Suatu ketika, datang sekelompok pedagang asing yang hendak membuka lahan sawit dan tambang emas di sekitar hutan kampung. Mereka membawa banyak hadiah dan janji kemewahan. Banyak warga tergoda, termasuk para pembesar kampung.

Namun, ketika Raja Kacam menyambut tamu-tamu itu di balai kampung, Si Labi tiba-tiba berkokok keras dan menyerang kaki salah satu pedagang. Raja Kacam segera mencurigai niat mereka.

Ia berkata, “Jika binatang yang tak bisa bicara bisa merasakan ancaman, mengapa manusia yang berakal justru mudah dibutakan oleh janji?”

Para pedagang asing itu marah, dan berencana menculik Si Labi untuk melemahkan kewaspadaan raja. Tapi malam itu, ayam-ayam di seluruh kampung berkokok bersahutan, membangunkan warga dan menggagalkan rencana mereka.

Keesokan harinya, Raja Kacam mengumpulkan rakyat dan mengajak mereka membuat perjanjian adat: tidak boleh menjual tanah warisan leluhur dan tidak boleh menyakiti binatang tanpa alasan. Perjanjian itu ditulis dengan darah ayam putih dan dikuburkan di bawah pohon bulian tua, yang dipercaya sebagai penjaga roh kampung.

Sejak saat itu, kampung Samanok dikenal sebagai negeri yang menolak keserakahan. Ayam-ayam dipelihara sebagai penjaga kampung dan simbol kesetiaan. Hingga kini, masyarakat di sekitar daerah itu masih percaya bahwa jika ayam berkokok tengah malam tanpa sebab, itu adalah tanda akan ada niat buruk yang datang.

Raja Kacam wafat dengan damai dan dimakamkan bersama Si Labi di puncak Bukit Seayam. Penduduk masih merawat kuburan itu, dan setiap bulan purnama, mereka menyuguhkan nasi kunyit dan telur ayam kampung sebagai bentuk penghormatan kepada sang raja yang mengajarkan mereka nilai kesetiaan, kehati-hatian, dan cinta tanah.

HENDRA BAHARI SINGKAWANG: Hikayat Mungkar Lala

HENDRA BAHARI SINGKAWANG: Hikayat Mungkar Lala :   Hikayat Mungkar Lala Sebermula, adalah sebuah kampung di tepi sungai nan bernama Maring...