Teks Anekdot: “Receh yang Berhati”
Sore itu langit mulai berwarna jingga. Di sudut jalan yang ramai, dua pengamen jalanan—Asmaja dan Hendra—duduk di trotoar sambil memetik gitar tua. Suara mereka tidak terlalu merdu, tapi cukup menghibur pejalan kaki yang lelah pulang kerja. Sesekali, beberapa orang melemparkan uang logam ke dalam kaleng bekas yang mereka letakkan di depan kaki.
“Lumayan juga, Mas,” kata Hendra sambil
menghitung hasil sore itu. “Sudah cukup buat makan malam.”
Asmaja tersenyum, “Iya, asal nggak hujan, rezeki kita aman.”
Tiba-tiba sebuah mobil mewah berhenti di dekat mereka. Kaca jendela perlahan terbuka, menampakkan wajah seorang pejabat berdasi rapi. Dengan ekspresi dingin, pejabat itu mengulurkan selembar uang seribu rupiah. Tanpa berkata apa-apa, mobil itu langsung melaju lagi, meninggalkan jejak debu di trotoar.
Hendra menatap uang itu sambil tertawa kecil. “Lihat, Mas! Lagu kita ternyata murah banget. Seribu rupiah dari orang yang jam tangannya aja lebih mahal dari gitar kita!”
Asmaja tidak ikut tertawa. Ia hanya memungut uang itu dengan hati-hati dan menaruhnya ke dalam kaleng. “Tenang, Hendra,” katanya pelan tapi penuh makna. “Yang penting pejabatnya masih punya hati, meski receh. Daripada nggak ngasih sama sekali, kan?”
Hendra terdiam sejenak, lalu ikut tersenyum. “Kamu benar juga, Mas. Mungkin hatinya juga lagi susah, jadi cuma bisa kasih segitu.”
Asmaja menepuk pundaknya. “Yang penting kita tetap nyanyi. Siapa tahu besok bukan uang yang kita terima, tapi senyum yang tulus.”
Keduanya pun melanjutkan lagu sore itu. Meski hanya dengan gitar usang dan suara serak, mereka tampak lebih kaya—setidaknya dalam hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar