Senin, 07 September 2026

Cerpen "Perang Kenceng: Bayang-Bayang dari Mandor"

 Bayang-Bayang dari Mandor

Malam itu, Mandor tidak benar-benar tidur.

Angin berembus panjang di antara batang-batang pohon. Kabut turun begitu rendah hingga menelan jalan setapak. Dari kejauhan terdengar suara anjing melolong, lalu tiba-tiba terdiam, seolah ada sesuatu yang membuat seluruh makhluk di hutan memilih untuk membisu.

Jaka berdiri di dekat sebuah tugu batu.

Tangannya gemetar.

Di hadapannya berdiri Tugu Peringatan Mandor, dingin dan pucat di bawah cahaya bulan. Tulisan pada batu itu hampir tidak terlihat. Lumut telah menutup sebagian permukaannya.

“Di sini mereka mati,” bisik Jaka.

Kakeknya, Marso, yang berdiri di belakangnya, tidak segera menjawab.

Mata lelaki tua itu justru menatap hutan.

Seolah-olah ia tidak sedang melihat pohon-pohon.

Seolah-olah ia sedang melihat sesuatu dari masa lalu.

Kemudian—

DOR!

Suara tembakan tiba-tiba menggema.

Jaka terkejut dan menoleh.

Tidak ada siapa-siapa.

Hanya angin.

Hanya hutan.

Namun wajah kakeknya berubah pucat.

“Jangan berdiri terlalu dekat dengan batu itu,” katanya pelan.

“Mengapa, Kek?”

Marso menutup matanya.

“Karena kadang-kadang,” katanya, “masa lalu tidak suka dilupakan.”


Puluhan tahun sebelumnya, ketika Marso masih seorang pemuda, Kalimantan Barat sedang berada dalam ketakutan.

Berita tentang Perang Dunia Pertama telah sampai ke berbagai tempat. Namun jauh di pedalaman dan kampung-kampung Kalimantan Barat, perang lain sedang tumbuh.

Perang yang akan dikenang rakyat sebagai—

Perang Kenceng.

Saat itu, sebuah organisasi dan gerakan Cina bernama Sam-Tiam mulai melakukan pemberontakan terhadap pemerintah Belanda. Nama itu beredar dari mulut ke mulut, dibicarakan dengan suara pelan di warung-warung dan di bawah rumah panggung.

Tidak semua orang berani menyebutnya keras-keras.

“Sam-Tiam sudah bergerak,” bisik seseorang.

“Jangan bicara terlalu keras!”

“Mereka mencari orang-orang untuk membantu.”

“Kalau kita menolak?”

Orang itu terdiam.

Jawabannya sudah diketahui semua orang.

Di beberapa daerah, orang-orang Melayu dan Dayak ikut terseret ke dalam pemberontakan. Sebagian membantu karena ancaman dan paksaan. Sebagian lagi hanya ingin menyelamatkan keluarga mereka.

Marso masih berusia dua puluh tahun ketika sekelompok lelaki datang ke kampungnya pada suatu malam.

Mereka membawa senjata.

Wajah mereka tertutup bayangan.

“Siapa kepala kampung?” tanya seorang lelaki bertubuh besar.

Tidak ada yang menjawab.

Lelaki itu mengangkat senapannya.

“Jangan membuat kami mengulang pertanyaan.”

Ayah Marso melangkah keluar dari rumah.

“Aku,” katanya.

Marso merasakan darahnya seakan berhenti mengalir.

Sejak malam itu, kampung mereka tidak lagi sama.


Di daerah Sambas, pemberontakan dipimpin oleh orang-orang yang memiliki hubungan dengan bekas keluarga Republik Monterado. Di wilayah Mempawah, kekuatan lain muncul dari bekas keluarga Republik Lan-Fong Mandor.

Pemberontakan menyebar.

Ketakutan menyebar lebih cepat.

Belanda yang melihat keadaan semakin berbahaya menjadikan Singkawang sebagai pusat pergerakan untuk menghadapi pemberontakan tersebut.

Marso ingat ketika kabar pertama datang ke kampungnya.

“Belanda bergerak dari Singkawang!”

Orang-orang langsung berlarian.

Perempuan membawa anak-anak mereka ke dalam rumah. Para lelaki memeriksa parang dan senjata seadanya.

Tidak lama kemudian, kabar yang lebih buruk menyusul.

Pertahanan kuat di Montrado telah menjadi sasaran.

Setelah itu—

Mandor.

Marso berdiri di antara kerumunan warga ketika seorang lelaki tua berkata dengan suara gemetar.

“Kalau Mandor jatuh, perang akan semakin dekat.”

Tidak seorang pun menjawab.

Mereka hanya mendengarkan suara hutan.

Di kejauhan, burung-burung terbang meninggalkan pepohonan.

Seolah-olah bahkan alam tahu bahwa sesuatu yang mengerikan sedang datang.


DOR! DOR! DOR!

Tembakan pecah sebelum matahari terbit.

Marso terbangun.

Ibunya menjerit.

“Bangun! Mereka datang!”

Asap sudah memenuhi udara.

Dari luar rumah terdengar orang-orang berlari. Ada suara kaki menghantam tanah. Ada tangisan. Ada teriakan perintah dalam bahasa yang tidak seluruhnya dipahami Marso.

Lalu suara seseorang menjerit.

Jeritan itu pendek.

Terlalu pendek.

Kemudian sunyi.

Marso mengintip dari celah dinding rumah.

Api.

Di mana-mana ada api.

Bangunan-bangunan di kejauhan terbakar. Langit yang seharusnya mulai terang justru berubah merah.

“Jangan keluar,” bisik ayahnya.

Namun kemudian terdengar suara lain.

“MARSO!”

Ia mengenali suara itu.

Suara sahabatnya, Laman.

Marso bergerak menuju pintu.

Ayahnya langsung menarik lengannya.

“Jangan!”

“Itu Laman!”

“Jangan keluar!”

“Dia minta tolong!”

Sekali lagi terdengar teriakan.

“MARSO!”

Lalu—

DOR!

Semua menjadi sunyi.

Marso tidak pernah tahu apa yang terjadi kepada Laman pada hari itu.

Dan selama puluhan tahun, setiap kali mendengar suara petasan, suara senapan, atau pintu dibanting keras, ia selalu teringat teriakan sahabatnya dari luar rumah.


Pertempuran terus bergerak.

Dari Mandor, kekacauan merambat ke berbagai tempat.

Sangking.

Menjalin.

Anjungan.

Nama-nama itu kemudian menjadi bagian dari cerita yang dibawa para pelarian.

Di Mempawah, keadaan tidak kalah mengerikan.

Controleur Belanda bernama Lever Man dikabarkan melarikan diri dari daerah tersebut. Dalam kekacauan yang terjadi, berbagai bangunan menjadi sasaran amarah.

Gudang garam.

Rumah penjara.

Kantor Controleur.

Satu per satu dilalap api.

Bagi orang-orang yang melihatnya, malam terasa seperti tidak memiliki akhir.

Marso kemudian menjadi salah satu pengantar makanan untuk warga yang bersembunyi di pinggir hutan.

Ia melihat ketakutan dengan matanya sendiri.

Seorang ibu yang kehilangan suaminya.

Seorang anak yang tidak berhenti menangis.

Seorang lelaki yang terus menggenggam parang meskipun tangannya terluka.

Dan seorang perempuan tua yang duduk di bawah pohon sambil menatap rumahnya yang telah menjadi abu.

“Apa yang sedang kita perjuangkan?” tanya Marso suatu malam kepada ayahnya.

Ayahnya tidak langsung menjawab.

Akhirnya lelaki tua itu berkata, “Dalam perang, kadang orang yang paling banyak menderita bukan mereka yang memulainya.”

Kalimat itu terus tinggal dalam ingatan Marso.


Tahun berganti.

Namun perang belum selesai.

Di hutan-hutan, orang-orang masih saling mencurigai. Setiap suara ranting patah dapat membuat seseorang mengangkat senjata.

Setiap orang asing dapat dianggap sebagai musuh.

Setiap malam dapat menjadi malam terakhir.

Kemudian, pada suatu malam yang dingin, Marso melihat sesuatu yang tidak pernah dilupakannya.

Di tengah hutan, beberapa orang berjalan membawa obor.

Salah seorang di antara mereka terluka.

Di belakang mereka terdengar suara tembakan.

DOR!

Orang pertama jatuh.

Yang lain berlari.

Marso bersembunyi di balik pohon bersama ayahnya. Ia menahan napas.

Dari tempat persembunyiannya, ia melihat seorang lelaki muda merangkak menuju semak-semak.

Lelaki itu menatap Marso.

Mata mereka bertemu.

“Tol—”

DOR!

Tubuh lelaki itu terdiam.

Marso hampir berteriak.

Ayahnya langsung menutup mulutnya.

Air mata Marso mengalir tanpa suara.

Untuk pertama kalinya, ia memahami wajah perang.

Perang bukan hanya suara senapan.

Bukan hanya kemenangan.

Bukan hanya pemberontakan.

Perang adalah ketakutan yang membuat manusia bersembunyi dari manusia lain.


Tahun 1916, pemberontakan Sam-Tiam akhirnya berakhir.

Suara senapan perlahan menghilang.

Api padam.

Orang-orang yang selamat mulai kembali ke tempat-tempat yang pernah mereka tinggalkan.

Namun tidak semua orang pulang.

Sebagian rumah telah kosong.

Sebagian keluarga tidak lagi lengkap.

Sebagian nama hanya tersisa dalam cerita.

Pemerintah Belanda kemudian membangun sebuah tugu peringatan di Mandor untuk mengenang para prajurit Belanda yang gugur dalam dua masa pemberontakan: pemberontakan tahun 1854 sampai 1856, dan pemberontakan tahun 1914 sampai 1916.

Namun bagi rakyat Kalimantan Barat—

terutama rakyat Sambas—

nama perang itu lebih dikenal dengan satu sebutan.

Perang Kenceng.


“Jadi, Kek…”

Suara Jaka membawa Marso kembali ke masa kini.

Mereka masih berdiri di depan tugu.

Kabut malam semakin tebal.

“Apakah Kakek benar-benar melihat semua itu?”

Marso menatap cucunya.

“Tidak semua perang tercatat dengan lengkap di buku,” katanya. “Tapi orang-orang yang selamat membawa perang itu di dalam kepala mereka.”

Jaka memandang tugu tersebut.

“Apakah Kakek masih takut?”

Marso tersenyum tipis.

Namun matanya tidak tersenyum.

“Orang tua sepertiku tidak takut mati.”

“Lalu?”

Marso menatap hutan.

Tiba-tiba angin bertiup.

Daun-daun bergesekan.

Dari kejauhan terdengar suara seperti langkah kaki.

Jaka menegang.

“Kek…”

“Dengar,” kata Marso.

“Apa?”

Marso tidak menjawab.

DOR!

Jaka melompat mundur.

Ia menoleh ke segala arah.

Tidak ada apa-apa.

Kemudian ia menyadari—

itu bukan tembakan.

Hanya suara ranting besar yang patah.

Namun Marso masih berdiri diam.

Matanya tertuju pada kegelapan.

“Ada apa, Kek?”

Lelaki tua itu menarik napas panjang.

“Tidak ada.”

“Kakek yakin?”

Marso mengangguk.

Namun sebelum mereka meninggalkan tugu, ia berbisik sangat pelan.

“Laman…”

Jaka berhenti.

“Kakek bilang apa?”

Marso menggeleng.

“Mari pulang.”

Mereka berjalan meninggalkan tugu.

Di belakang mereka, Mandor kembali sunyi.

Kabut perlahan menelan jalan.

Dan jauh di dalam ingatan seorang lelaki tua, Perang Kenceng belum pernah benar-benar berakhir.

Karena beberapa perang memang selesai di medan pertempuran.

Namun bagi mereka yang pernah mendengar jeritan, melihat api, dan kehilangan orang yang dicintai—

perang itu terus hidup.

Dalam mimpi.

Dalam ketakutan.

Dalam suara tembakan yang sebenarnya sudah tidak ada.

Dan dalam bisikan angin dari hutan Mandor yang gelap.

“DOR!”

Marso tidak menoleh.

Ia hanya mempercepat langkah.


Tidak ada komentar:

Puisi Balada Seorang Penyiar - Hendra Bahari Singkawang

  Untuk lomba puisi 90 kata Balada Seorang Penyiar   Terbangun dari mimpi Kala pagi menyapa Bersama suara Si Jago Merah Memang...