Aku tidak pernah tahu bagaimana awalnya Aku bis a jatuh cinta kepadamu. Seseorang yang kini telah jauh pergi. Benar apa yang pernah kau katakan.
"Cinta memang tak selamanya indah. Musim saja tak selalu bersemi, buktinya ada pula musim gugur. Ya, sama halnya dengan cinta. Ada suka dan ada duka. Ada manis dan ada pahit.”
Dulu Aku merasa bahagia bisa memiliki cinta. Cinta dari orang yang kucinta. Setiap hari mendengarnya berkata cinta dan cinta. Aku tidak pernah merasa bosan. Entah mengapa cinta itu adalah favoritku. Seperti makanan sehari-hariku.
Akan tetapi cinta tak bisa selamanya begitu. Aku paham bagaimana seharusnya. Mungkin inilah yang terbaik untukmu dan untukku. Pelangi memang indahnya hanya sesaat, namun cinta yang sejati indahnya selamanya. Bagiku cinta kita hanya seperti pelangi. Sesaat.
Sejak kita jalani hubungan yang menyenangkan itu, Aku tidak pernah merasa sepi. Bagaimana bisa Aku merasa sepi kalau ada seseorang yang selalu ada disampingku saat Aku membutuhkannya. Dua tahun memang tak sebentar. Begitu banyak hal yang telah kita lewatkan bersama. Tak ingatkah kau?
Awal Januari di tahun kedua kita saat kita duduk berdua di taman., Aku masih ingat betul dengan apa yang kau katakan kepadaku.
"Tenanglah, Ra. Semua akan baik-baik saja. Masih ada Aku di sini. Aku akan selalu ada di sampingmu. Aku berjanji tak akan meninggalkanmu."
Begitulah ucapan janjimu yang kini membuatku sakit kepala jika mengingatnya. Kata-katamu mungkin bisa menenangkanku pada saat itu. Kau selalu mengulang kata-kata itu saat Aku merasa sedih dan membuatku mempercayaimu. Tak hanya janji, sikapmu juga begitu manis setiap hari. Tetapi sekarang semua itu tidak mempan untukku.
Dua bulan setelah kejadian di taman itu, tak ku sangka kau begitu tega memperlakukanku seperti itu. Tanpa sengaja Aku melihatmu di bioskop favorit kita. Tak apa jika kau pergi nonton dengan teman gengmu. Tapi tidak, ternyata kau pergi dengan wanita yang tidak Aku kenal. Kukira wanita itu adalah saudaramu, tapi lambat laun perlakuanmu terhadap wanita itu sungguh tidak biasa. Seperti memperlakukanku, kau bertingkah begitu manis di depan wanita itu. Aku tak bisa menahan diri.
"Riko, sedang apa kamu di sini? Siapa wanita ini?”
Dengan amarah yang menggebu Aku tarik tangan Riko menuju sudut ruang tunggu di depan pintu bioskop itu. Tak disangka Aku yang hanya menarik tangan Riko untuk ikut bersamaku ternyata si wanita itu juga ikut dengan kami.
"Hei, siapa kamu? Seenaknya saja tarik-tarik tangan Riko.”
"Seharusnya aku yang tanya seperti itu. Kau siapa? Aku pacarnya Riko.”
Suasana semakin memanas. Rizal hanya terdiam melihat Aku dan wanita gila itu beradu mulut. Wanita itu melihatku dengan pandangan yang sinis.
"Oh, jadi kamu yang namanya clara?” Sambil memandangiku dari ujung kaki ke ujung kepala. Pantas saja si Riko bosan sama kamu. Dasar cewek cengeng. Aku sinar, pacar baru Rizal.” Mendengar ucapan wanita itu Aku langsung kaget bukan main. Langsung saja Aku menatap
tajam kepada Rizal. Aku memintanya untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi selama ini. "Maafkan Aku,ra."
Maaf untuk apa, riko? Jangan bilang kalau apa yang wanita ini katakan itu benar. Jawab, riko!” Rasanya air mataku akan berjatuhan. Ku pandangi wajah Riko dengan penuh emosi.
“Maaf, ra."
"Aku butuh penjelasan, rik. Aku tidak butuh maafmu itu. Jelaskan padaku siapa sebenarnya wanita yang bersamamu ini?”
"Sudah ku bilang, Aku adalah pacar barunya Riko. Kamu tidak dengar ya?” Potong wanita itu
"Diam kau!!! Aku tidak bicara denganmu. Diam dan jangan ikut bicara. Rik, kenapa kamu diam saja?” Terlihat dengan jelas wajah Riko yang sedang kebingungan itu. Tak lama ia angkat bicara.
"Benar, Ra. Apa yang dikatakan sinar itu benar. Dia memang pacarku.” Dengan pelan ia menyampaikan perkataannya itu dan dengan perasaan takut.
"Apa? Pacar?” Aku tak bisa menahan tanganku yang mendarat keras di pipi Riko.
"Lalu kau anggap Aku ini siapa, Rik? Selama ini Aku ini siapa bagimu? Sungguh keterlaluan kau, Rik. Dua tahun lebih kita menjalin hubungan dan kau menganggap aku bukan pacarmu seperti itu, ha? Sunggguh tega kau,Rik. Tak kusangaka kau bisa mengkhianati cintaku seperti ini. Mengkhianati kepercayaan yang kuberikan kepadamu.”
"Maafkan Aku,Ra.”
"Ah sudahlah. Cintamu saja palsu apalagi maafmu.” Sesak sekali rasanya dadaku saat itu. Aku tak bisa menahan air mata yang sedari tadi ingin jatuh. Aku berlari meninggalkan mereka. Akan tetapi Riko berusaha menahanku.
"Lepaskan Aku! Bukankah ini yang kamu inginkan selama ini? Biarkan aku pergi dan akan kubiarkan kau juga pergi.”
"Tapi,Ra….”
"Sudah cukup, Rik. Apa rasa sakit yang kurasa saat ini belum cukup kau berikan padaku? Lepaskan aku. Aku benci kau, Rik. Sangat benci!
Riko melepaskan tanganku. Aku berlari menjauh dari bioskop itu. Aku berharap bahwa apa yang baru saja terjadi itu hanya sebuah mimpi. Namun, rasa sakit yang sangat menusuk dadaku itu membuat Aku sadar bahwa itu bukan mimpi, itu nyata.
Kau tega, Rik. Kau jahat. Aku benci kau, Rik.” Gumamku dalam tangis di sepanjang jalanku. Tak disangka Aku akan bertemu Riko di bioskop. Pertemuan yang sangat menyedihkan, bagiku. Ternyata hubungan baik dan manis selama dua tahun ini hanya kepalsuan belaka. Aku benar- benar tak habis pikir, segitu teganya Rizal kepadaku.
Selama ini Aku telah memberikan seluruh cintaku kepada Riko, tetapi apa balasannya? Luka. Luka perih dan pedih ini. Riko memang laki-laki yang kejam, ia tega menduakanku dengan perempuan itu. Aku benar-benar tidak menyangka. Selama ini aku tulus memberinya cintaku, namun apa imbalannya? Sudah cukup Aku membagi cintaku kepadanya, jika yang kudapat malah luka. Cinta yang selama ini dia berikan ternyata palsu, janji yang berujung semu. Bodohnya Aku selalu mempercayainya.
Mulai detik ini juga, aku akan mengubur segala kenangan kita, segala hal yang berkaitan tentang aku dan kamu. Entah itu manis bahkan pahit. Aku tak peduli lagi denganmu, karena luka yang kau beri ini. Biarkan aku membencimu, bahkan hingga ada seseorang yang bisa membuatku tersenyum lagi di suatu hari nanti.
Terima kasih untukmu luka. Semoga kita tak berjumpa lagi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar