Senin, 07 September 2026

Cerpen "Cinta Tak Selamanya Indah"

 Aku tidak pernah tahu bagaimana awalnya Aku bis a jatuh cinta kepadamu. Seseorang yang kini telah jauh pergi. Benar apa yang pernah kau katakan.

 

"Cinta memang tak selamanya indah. Musim saja tak selalu bersemi, buktinya ada  pula musim gugur. Ya, sama halnya dengan cinta. Ada suka dan ada  duka. Ada manis dan ada  pahit.

 

Dulu Aku merasa bahagia bisa memiliki cinta. Cinta dari orang  yang kucinta. Setiap  hari mendengarnya berkata cinta dan cinta. Aku tidak pernah merasa bosan. Entah mengapa cinta itu adalah favoritku. Seperti  makanan sehari-hariku.

 

Akan tetapi cinta tak bisa selamanya begitu.  Aku paham bagaimana seharusnya. Mungkin inilah yang terbaik  untukmu dan untukku.  Pelangi  memang indahnya hanya  sesaat, namun cinta yang sejati indahnya selamanya. Bagiku cinta kita hanya  seperti pelangi.  Sesaat.

 

Sejak kita jalani hubungan yang menyenangkan itu, Aku tidak pernah merasa sepi. Bagaimana bisa Aku merasa sepi kalau ada  seseorang yang selalu ada  disampingku saat Aku membutuhkannya. Dua tahun  memang tak sebentar. Begitu banyak  hal yang telah kita lewatkan bersama. Tak ingatkah kau?

 

Awal Januari di tahun  kedua  kita saat kita duduk berdua di taman., Aku masih ingat betul dengan apa  yang kau katakan kepadaku.

 

"Tenanglah, Ra. Semua akan baik-baik saja. Masih ada  Aku di sini. Aku akan selalu ada  di sampingmu. Aku berjanji tak akan meninggalkanmu."

 

Begitulah  ucapan janjimu yang kini membuatku sakit kepala jika mengingatnya. Kata-katamu mungkin  bisa menenangkanku pada saat itu. Kau selalu mengulang kata-kata itu saat Aku merasa sedih dan membuatku mempercayaimu. Tak hanya  janji, sikapmu juga begitu  manis setiap hari. Tetapi sekarang semua itu tidak mempan untukku.

 

Dua bulan setelah kejadian di taman itu, tak ku sangka kau begitu  tega  memperlakukanku seperti itu. Tanpa  sengaja Aku melihatmu di bioskop favorit kita. Tak apa  jika kau pergi nonton dengan teman gengmu. Tapi tidak, ternyata kau pergi dengan wanita  yang tidak Aku kenal. Kukira wanita  itu adalah saudaramu, tapi lambat laun perlakuanmu terhadap wanita  itu sungguh tidak biasa. Seperti  memperlakukanku, kau bertingkah begitu  manis di depan wanita  itu. Aku tak bisa menahan diri.

 

"Riko, sedang apa  kamu di sini? Siapa wanita  ini?


Dengan  amarah yang menggebu Aku tarik tangan Riko menuju  sudut ruang  tunggu di depan pintu bioskop itu. Tak disangka Aku yang hanya  menarik  tangan Riko untuk ikut bersamaku ternyata si wanita  itu juga ikut dengan kami.

 

"Hei, siapa kamu?  Seenaknya saja tarik-tarik tangan Riko.

 

"Seharusnya aku yang tanya  seperti itu. Kau siapa? Aku pacarnya Riko.

 

Suasana semakin memanas. Rizal hanya  terdiam melihat Aku dan wanita  gila itu beradu mulut. Wanita itu melihatku dengan pandangan yang sinis.

"Oh, jadi kamu yang namanya clara? Sambil memandangiku dari ujung kaki ke ujung kepala. Pantas saja si Riko bosan sama kamu.  Dasar cewek  cengeng. Aku sinar, pacar baru Rizal.Mendengar ucapan wanita  itu Aku langsung kaget  bukan  main. Langsung saja Aku menatap

tajam  kepada Rizal. Aku memintanya untuk mengatakan apa  yang sebenarnya terjadi selama ini. "Maafkan Aku,ra."

Maaf untuk apa, riko? Jangan bilang kalau apa  yang wanita  ini katakan itu benar. Jawab, riko!Rasanya air mataku akan berjatuhan. Ku pandangi wajah Riko dengan penuh  emosi.

 

Maaf, ra."

 

"Aku butuh  penjelasan, rik. Aku tidak butuh  maafmu itu. Jelaskan padaku siapa sebenarnya wanita  yang bersamamu ini?

 

"Sudah ku bilang, Aku adalah pacar barunya Riko. Kamu tidak dengar ya? Potong wanita  itu

 

"Diam kau!!! Aku tidak bicara denganmu. Diam dan jangan ikut bicara. Rik, kenapa kamu diam saja? Terlihat dengan jelas wajah Riko yang sedang kebingungan itu. Tak lama ia angkat bicara.

 

"Benar, Ra. Apa yang dikatakan sinar itu benar. Dia memang pacarku. Dengan  pelan  ia menyampaikan perkataannya itu dan dengan perasaan takut.

 

"Apa? Pacar? Aku tak bisa menahan tanganku yang mendarat keras di pipi Riko.

 

"Lalu kau anggap Aku ini siapa, Rik? Selama ini Aku ini siapa bagimu? Sungguh keterlaluan kau, Rik. Dua tahun  lebih kita menjalin  hubungan dan kau menganggap aku bukan  pacarmu seperti itu, ha? Sunggguh tega  kau,Rik. Tak kusangaka kau bisa mengkhianati cintaku  seperti ini. Mengkhianati kepercayaan yang kuberikan kepadamu.

 

"Maafkan Aku,Ra.

 

"Ah sudahlah. Cintamu  saja palsu apalagi maafmu. Sesak sekali rasanya dadaku saat itu. Aku tak bisa menahan air mata yang sedari tadi ingin jatuh. Aku berlari meninggalkan mereka. Akan tetapi Riko berusaha menahanku.


"Lepaskan Aku! Bukankah ini yang kamu inginkan selama ini? Biarkan aku pergi dan akan kubiarkan kau juga pergi.

 

"Tapi,Ra.

 

"Sudah cukup, Rik. Apa rasa sakit yang kurasa saat ini belum  cukup kau berikan  padaku? Lepaskan aku. Aku benci kau, Rik. Sangat benci!

 

Riko melepaskan tanganku. Aku berlari menjauh dari bioskop itu. Aku berharap bahwa apa  yang baru saja terjadi itu hanya  sebuah mimpi. Namun, rasa sakit yang sangat menusuk dadaku itu membuat Aku sadar bahwa itu bukan  mimpi, itu nyata.

 

Kau tega, Rik. Kau jahat.  Aku benci kau, Rik. Gumamku dalam tangis di sepanjang jalanku. Tak disangka Aku akan bertemu Riko di bioskop. Pertemuan yang sangat menyedihkan, bagiku. Ternyata hubungan baik dan manis selama dua tahun  ini hanya  kepalsuan belaka. Aku benar- benar  tak habis pikir, segitu teganya Rizal kepadaku.

 

Selama ini Aku telah memberikan seluruh cintaku  kepada Riko, tetapi apa  balasannya? Luka. Luka perih dan pedih ini. Riko memang laki-laki yang kejam, ia tega  menduakanku dengan perempuan itu. Aku benar-benar tidak menyangka. Selama ini aku tulus memberinya cintaku, namun apa  imbalannya? Sudah  cukup Aku membagi cintaku  kepadanya, jika yang kudapat malah luka. Cinta yang selama ini dia berikan  ternyata palsu, janji yang berujung semu. Bodohnya Aku selalu mempercayainya.

 

Mulai detik ini juga, aku akan mengubur segala kenangan kita, segala hal yang berkaitan tentang aku dan kamu.  Entah itu manis bahkan pahit. Aku tak peduli lagi denganmu, karena luka yang kau beri ini. Biarkan aku membencimu, bahkan hingga  ada  seseorang yang bisa membuatku tersenyum lagi di suatu hari nanti.

 

Terima kasih untukmu luka. Semoga kita tak berjumpa lagi

Tidak ada komentar:

Puisi Balada Seorang Penyiar - Hendra Bahari Singkawang

  Untuk lomba puisi 90 kata Balada Seorang Penyiar   Terbangun dari mimpi Kala pagi menyapa Bersama suara Si Jago Merah Memang...