Bertepatan dengan meletusnya Perang Dunia Pertama (Ke-1) sebuah organisasi dan gerakan Cina di Kalimantan Barat bernama " Sam-Tiam " (artinya tiga mata, tiga kode dan tiga cara), mengadakan pemberontakan terhadap Belanda.
Untuk daerah Sambas dipimpin oleh bekas keluargа “Republik Monterado" di Montrado (Kecamatan Samalantan - sekarang), sedangkan di daerah Mempawah dipimpin oleh bekas keluarga “Republik Lan-Fong Mandor". berontakan ini di bantu orang-orang Melayu dan Dayak, karena mereka diancam serta dipaksa oleh orang-orang Cina.
Untuk menghadapi gerakan pemberontakan ini, pihak Belanda berpusat dan bergerak dari Singkawang.
Pertama-tama Belanda merebut pertahanan terkuat Cina di Montrado (Kec. Samalantan) dan Mandor ( di Mempawah) Dari Mandor kemudian ke Sangking, Menjalin, Anjungan, Mandor. Controleur Belanda Lever Man lari dari Mempawah, gudang garam, rumah penjara dan Kantor Controleur Mempawah habis di bumi hanguskan pemberontak.
Tahun 1916 pemberontakan " SAM TIAM” berakhir. Oleh Pemerintahan Belanda di buatlah sebuah Tugu Peringatan di Mandor sebagai kenang-kenangan terhadap prajurit Belanda yang gugur selama dua kali pemberontakan (1. Tahun 1854 s/d 1856 dan 2. Tahun 1914 s/d 1916)
Bagi rakyat Kalimantan Barat umumnya, dan rakyat Sambas khususnya pemberontakan " Sam Tiam " tersebut dinamakan " Perang Kenceng ".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar