Kilau kuning di dasar parit-parit pedalaman telah lama mengubah takdir bumi Kalimantan Barat. Jauh di hulu wilayah Mampawa, riak air Sungai Duri tidak lagi sekadar mengalirkan air jernih, melainkan membawa serbuk-serbuk emas yang menggoda iman siapa saja. Ketika kabar mengenai keberhasilan penambangan emas itu sampai ke telinga Panembahan Mampawa, sebuah rencana besar pun dirancang. Sang penguasa mendengar desas-desus tentang keganasan, keuletan, dan ketangguhan tenaga-tenaga Cina dalam membuka lahan tambang. Tanpa membuang tempo, didatangkanlah 20 (dua puluh) orang Cina dari Brunai untuk memulai misi besar: mengumpulkan emas di sepanjang daerah Sungai Duri, sebuah wilayah subur yang terletak persis di perbatasan sebelum memasuki tanah Sambas.
Strategi Panembahan Mampawa yang mendatangkan gelombang awal pekerja asing ini ternyata membuahkan hasil yang teramat gemilang. Emas mengalir deras ke pundi-pundi istana. Keberhasilan yang mencolok ini tidak luput dari pandangan jeli tetangga mereka di utara. Sultan Umar Akamuddin dari Sambas, yang menyaksikan bagaimana Mampawa mendadak makmur karena emas, memutuskan untuk meniru cara usaha tersebut. Pada tahun 1760, Sultan Sambas secara resmi mengizinkan adanya kebijakan "Kolonisasi" Cina dalam skala yang jauh lebih masif.
Ribuan pekerja didatangkan untuk mengadakan penggalian emas secara besar-besaran di daerah Larah. Dalam waktu singkat, keserakahan dan ambisi manusia membuat wilayah penambangan ini meluas tanpa kendali hingga mencapai Montrado (Kecamatan Samalantan). Karena luasnya daerah yang mengandung bijih emas, pekerja-pekerja Cina mendapati kesempatan emas untuk turut serta mengeduk kekayaan bumi sedalam-dalamnya. Hutan-hutan lebat ditebang, bukit-bukit dikeruk, dan berdirilah perkampungan-perkampungan baru yang dihuni oleh para perantau dari daratan Tiongkok.
------------------------------
Pada masa-masa awal, kemakmuran yang melimpah itu sempat menutupi sebuah bom waktu yang mengintai di balik rimbunnya hutan tropis. Sudah menjadi kebiasaan lama bagi raja-raja Melayu pada waktu itu bahwa persoalan tapal batas wilayah antara satu kerajaan dengan kerajaan lainnya tidak begitu diperhatikan. Selama emas belum ditemukan dan hutan masih berupa belantara sunyi, sikap para raja dalam hal batas geografis ini cenderung acuh tak acuh. Mereka lebih mementingkan hubungan kekerabatan dan perdagangan di pesisir.
Namun, air tenang itu seketika bergolak setelah daerah-daerah perbatasan terpencil tersebut berubah menjadi pemukiman padat dan bertransformasi menjadi sumber penghasilan utama bagi kantong-kantong raja. Ketika garis batas menentukan seberapa banyak upeti emas yang masuk ke istana, timbullah perselisihan hebat soal tapal batas kerajaan. Batas wilayah di sekitar Sungai Duri, Larah, dan Montrado yang dahulunya kabur kini diperdebatkan dengan urat leher yang tegang oleh para utusan istana.
Persoalan batas tanah ini dengan cepat menjadi benih perselisihan yang tumbuh subur dan merembet secara terus-menerus di antara raja-raja Melayu sendiri. Kebencian lama dipupuk kembali, dan diplomasi antar-kerajaan menemui jalan buntu. Puncaknya, pada tahun 1772, genderang perang bertalu-talu membelah kesunyian malam. Perang saudara yang mengerikan pecah melibatkan pasukan Mampawa melawan Sambas.
Pertempuran bersenjata tidak dapat dielakkan lagi. Pasukan dari kedua belah pihak bentrok di jalur-jalur logistik dan perbatasan. Salah satu dampak paling memilukan dari perang saudara ini dirasakan langsung oleh para imigran tambang. Perkampungan Cina di Selakau hancur lebur menjadi abu akibat dari imbas perselisihan berdarah tersebut. Rumah-rumah papan dibakar, instalasi penyaringan emas dihancurkan, dan ribuan pekerja lari kocar-kacir menyelamatkan diri ke dalam hutan. Beruntung, setelah kehancuran yang membawa kerugian besar bagi kedua belah pihak, kesadaran mulai muncul. Melalui perundingan yang melelahkan, perselisihan tapal batas ini akhirnya dapat diselesaikan secara damai, meninggalkan luka mendalam dan puing-puing yang berserakan.
------------------------------
Perang saudara tahun 1772 itu ternyata menjadi titik balik sejarah yang tak terduga. Akibat peperangan yang menguras energi dan harta tersebut, raja-raja Melayu menjadi sangat lemah kedudukannya. Otoritas istana goyah, keuangan menipis, dan kendali militer di wilayah pedalaman melonggar drastis.
Situasi rapuh ini dibaca dengan sangat cerdas oleh para pekerja tambang. Hal ini memberi peluang emas bagi orang-orang Cina untuk berkembang secara mandiri tanpa perlu terlalu banyak mendengarkan perintah dari istana. Mereka sadar, jika mereka tetap terpecah-pecah dalam kelompok kecil, mereka akan selalu menjadi korban pertama setiap kali para raja Melayu bertikai atau ketika kongsi dagang Belanda (VOC) mulai ikut campur mencengkeramkan kukunya.
Dari kesadaran untuk bertahan hidup itulah, kegiatan usaha orang-orang Cina ini selanjutnya timbul dalam bentuk yang lebih terorganisasi, yakni perserikatan-perserikatan atau kongsi-kongsi. Awalnya, mereka hanyalah kelompok penambang kecil yang terikat tali persaudaraan sewilayah asal di Tiongkok. Namun, melihat peta politik yang berubah, mereka mulai bersatu.
Tujuan utama dari pada pembentukan perserikatan atau kongsi Cina ini adalah dengan cara berserikat atau mengadakan penggabungan dari perserikatan-perserikatan kerja kecil yang terpisah-pisah, meleburnya menjadi satu wadah perserikatan kerja yang amat besar. Kekuatan finansial disatukan, hukum internal ditegakkan, dan pasukan pengawal kongsi mulai dibentuk serta dipersenjatai secara mandiri.
Pada akhirnya, kongsi-kongsi besar yang bersatu ini membentuk sebuah "KOLONI" tersendiri di pedalaman Kalimantan Barat. Mereka mendirikan wilayah otonom yang memiliki pemerintahan sendiri, lengkap dengan hukum, pasar, dan benteng pertahanan mereka. Langkah raksasa ini diambil dengan satu tujuan yang sangat jelas dan mutlak: supaya posisi dan kedudukan mereka menjadi jauh lebih kuat di atas tanah penambangan, serta siap menghadapi segala bentuk saingan, tekanan, maupun ancaman militer yang sewaktu-waktu bisa datang dari raja-raja Melayu maupun dari kekuatan kolonial Belanda yang mulai mengincar emas mereka. Koloni mandiri ini kini berdiri tegak di tengah belantara, siap mengukir lembaran sejarah baru yang penuh dengan darah dan kejayaan.
------------------------------
Tidak ada komentar:
Posting Komentar