Rabu, 09 September 2026

Hikayat Nek Busin dan Babi Hutan

 Alkisah pada zaman dahulu di tanah Sakawokng, kawasan Singkawang, Kalimantan Barat, berdirilah sebuah pemukiman suku Dayak Salako yang dikelilingi belantara lebat dan perbukitan hijau. Di pemukiman tersebut, hiduplah seorang tokoh sesepuh bernama Nek Busin. Beliau merupakan seorang lelaki tua yang sangat dihormati lantaran kearifannya dalam memahami bahasa alam serta keteguhannya menjaga adat istiadat leluhur.

Hatta, pada suatu musim panen, kedamaian warga Sakawokng terganggu oleh ancaman yang amat menakutkan. Seekor babi hutan raksasa berukuran sebesar kerbau jantan kerap turun dari puncak gunung untuk merusak ladang-ladang padi milik warga. Hewan itu amat ganas; taringnya panjang melengkung bagaikan bilah tanduk dan matanya menyala merah tatkala malam tiba. Tidak ada seorang pun pemuda desa yang sanggup melawannya, sebab setiap kali tombak dan sumpitan ditembakkan, senjata-senjata itu patah dan membal seolah-olah kulit sang babi hutan terbuat dari tembaga yang tebal.

Melihat mata pencaharian dan keselamatan masyarakatnya terancam, Nek Busin yang bertabiat luhur tak tinggal diam. Beliau bermeditasi dan memohon petunjuk kepada Sang Creator di atas bukit batu. Dalam intuisinya, Nek Busin mengetahui bahwa babi hutan tersebut bukanlah binatang biasa, melainkan jelmaan roh penjaga hutan yang murka lantaran ada oknum pendatang yang merusak pohon keramat di batas wilayah Sakawokng.

Maka pada suatu malam berbulan purnama, Nek Busin melangkah sendirian menuju batas ladang tanpa membawa senjata tajam. Beliau hanya membawa sebuah sumpit kayu kuno, mangkuk tanah berisi air doa, dan segenggam beras kuning. Tatkala angin malam bertiup kencang, gemuruh langkah babi hutan raksasa itu menggetarkan tanah. Dengan geraman yang mengerikan, satwa sakti itu menerjang ke arah Nek Busin.

Nek Kinoh tetap berdiri tenang tanpa rasa gentar sedikit pun. Saat babi hutan itu berjarak beberapa langkah saja dari hadapannya, Nek Busin memercikkan air doa dan menebarkan beras kuning seraya menguncapkan mantra adat Dayak Salako. Seketika itu pula, memancarlah cahaya putih yang membentenginya. Langkah babi hutan raksasa itu mendadak terhenti kaku, tidak mampu bergerak maju seolah-olah kakinya tertanam di dalam bumi.

Nek Busin lalu melangkah mendekat dan berkata dengan suara yang lembut namun berwibawa, "Wahai Penjaga Sakawokng, kami memohon maaf atas kekhilafan manusia yang telah menodai rimba. Kembalilah ke kediamanmu, dan janganlah engkau merusak rezeki anak cucu di pemukiman ini."

Mendengar ucapan tersebut, babi hutan itu menundukkan kepalanya. Cahaya merah dari matanya perlahan memudar, dan bentuk tubuhnya yang raksasa bertransformasi menjadi bayangan asap biru yang membumbung tinggi. Sebelum menghilang sepenuhnya ke dalam kegelapan rimba, bayangan itu meninggalkan sepasang taring kristal di atas tanah.

Nek Busin mengambil taring kristal tersebut dan menanamnya di batas wilayah pemukiman sebagai jimat perlindungan. Sejak peristiwa malam itu, kawasan Sakawokng di Singkawang senantiasa aman dari gangguan binatang buas maupun bahaya gaib. Ladang-ladang masyarakat tumbuh subur, dan cerita kehebatan serta kebijaksanaan Nek Busin terus dikisahkan secara turun-temurun oleh suku Dayak Salako hingga saat ini.


Tidak ada komentar:

Hikayat Bayan Budiman

 Alkisah pada zaman dahulu di negeri Ajam, hidup seorang saudagar kaya bernama Khojan Maimun. Beliau memiliki seorang istri yang sangat jeli...