Selasa, 08 September 2026

Cinta Bertepuk Sebelah Tangan - Hendra Bahari Singkawang

 Cinta Bertepuk Sebelah Tangan

Di sebuah desa kecil bernama Sanggau Ledo, pagi yang tenang menyambut Vani saat ia melangkah keluar rumah. Vani dikenal sebagai gadis yang baik hati dan ramah. Sifatnya yang ceria membuat banyak orang suka berada di dekatnya, termasuk Lidiya, sahabatnya sejak kecil. Namun, di balik senyum Vani, tersimpan rahasia yang selalu ia pendam: cintanya pada Lidiya.

Siang itu, di bawah terik matahari yang menyengat, mereka berdua duduk di sebuah pondok kecil, berbincang seperti biasa. Lidiya, yang selalu ramah dan suka menolong, menceritakan kegiatannya membantu warga desa yang membutuhkan. “Aku senang bisa membantu Pak Budi kemarin. Senyumnya membuat semua lelahku terbayar,” ucap Lidiya sambil tersenyum lembut.

Vani hanya tersenyum, meski hatinya terasa perih. Cintanya pada Lidiya begitu besar, namun ia tahu, Lidiya hanya menganggapnya sebagai sahabat. Hari demi hari, perasaan itu semakin sulit ia pendam, tapi Vani terlalu takut untuk mengungkapkannya. Ia takut persahabatan mereka akan hancur jika Lidiya tahu.

Malam tiba dengan tenang, namun hati Vani semakin bergejolak. Saat mereka berdua berjalan di bawah langit yang dihiasi bintang, Lidiya tiba-tiba bercerita tentang seseorang yang disukainya. “Vani, aku suka sama seseorang. Dia begitu baik dan selalu membuatku tersenyum. Kamu pasti senang kalau bertemu dia.”

Ucapan itu menghancurkan hati Vani. Rasanya seperti ribuan jarum menusuk hatinya. Namun, ia tetap tersenyum. “Aku ikut senang kalau kamu bahagia, Lid,” jawabnya lirih. Dalam hatinya, Vani tahu bahwa cintanya tidak akan pernah terbalas.

Di penghujung malam, setelah Lidiya pulang, Vani duduk sendirian di tepi danau Sanggah Ledo. Air mata yang ia tahan sepanjang hari akhirnya mengalir. Cintanya kepada Lidiya tak akan pernah terungkap, karena ia lebih memilih melihat sahabatnya bahagia daripada merusak hubungan mereka.

Di balik kesedihan itu, Vani bertekad untuk tetap berada di sisi Lidiya, mendukungnya dengan tulus meski hatinya terluka. Cinta Vani mungkin bertepuk sebelah tangan, tapi bagi Vani, mencintai tanpa berharap balasan adalah bentuk cinta yang paling murni.

Tidak ada komentar:

Cerpen: Bandit Tak Boleh Menang

Malam di Petamburan terasa lebih dingin dari biasanya. Di ruang perawatan RS PELNI, bunyi teratur dari mesin pemantau detak jantung menjadi ...