Alkisah Keberangkatan Mani Amas ke Parawakng Tujuh, Maka tersebutlah pula perkataan dalam lembaran zaman kuno purba kala, tatkala angin musim berladang tahunan mulai berembus meniup daun-daun di rimba raya. Adapun pada masa itu, tibalah masanya bagi segenap anak cucu manusia di bumi Bolekng Batungkakng untuk turun ke hutan guna menebas belukar dan membuka ladang yang baru, demi kelangsungan hidup kaum kerabat mereka. Syahdan, maka Mani Amas, selaku tetua adat yang memegang pangkat tuha tahutn, tiada mau ketinggalan. Ia bermaksud hendak mencari sebidang tanah yang subur di pedalaman rimba Parawakng Tujuh.
Akan tetapi, hukum adat dan tatanan nenek moyang telah menggariskan dengan sekukuh-kukuhatnya, bahwa tiada boleh seorang pun manusia mengunyam beliung atau mengayunkan parang ke batang pohon sebelum ia pergi meminta nasihat dan mencari petunjuk daripada firasat alam serta pertanda-pertanda yang gaib. Maka Mani Amas pun berjalanlah seorang diri masuk ke dalam kerapatan hutan Parawakng Tujuh, tempat bersemayamnya sekalian arwah leluhur dan tanda-tanda makrifat alam semesta.
Hatta, tatkala Mani Amas tengah berjalan mengendap-endap di bawah rimbunnya pohon-pohon besar, tiba-tiba alam yang tadinya riuh oleh kicau unggas mendadak menjadi sunyi senyap, sepi bagai kuburan. Angin tiada lagi berembus, dan duniaku seolah-olah tertahan oleh suatu kekuatan yang teramat ngeri. Kalakian, dalam kesunyian yang mencekam itu, telinga Mani Amas menangkap sejenis suara yang amat ganjil lagi menyalahi kodrat alam yang lazim.
Dari balik semak belukar yang gelap, terdengarlah suara lolongan seekor rusa jantan. Akan tetapi, demi didengar dengan amat teliti, rusa itu tiada berbunyi laksana rusa pada umumnya, melainkan memekik dan memanggil dengan suara seekor kijang yang melengking parau. Belum sempat hilang rasa terkejut di dalam dada Mani Amas, sekonyong-konyong di atas kepalanya terdengar suara berderak yang amat dahsyat. Prakkk! Sebatang dahan pohon yang masih hijau lagi kokoh tiba-tiba saja jatuh terhempas ke atas tanah tanpa ada angin maupun guntur yang menyebabkannya.
Maka Mani Amas pun melangkah maju beberapa depa, lalu pandangannya tertumbuk pada suatu pemandangan yang menambah ngeri rasa di dalam hati. Ia melihat sebatang pohon mati yang telah lama kering, runtuh lalu batangnya menumpangi dan menyangkut pada pohon lain yang masih hidup. Dalam kitab adat kuno orang-orang Parawakng Tujuh, rentetan firasat yang ganjil dan dahsyat ini tiada lain melainkan sebuah pertanda yang amat keras lagi mengerikan. Segala isyarat itu membawa kabar serta nubuat ghaib, bahwa jikalau lahan itu tetap dibuka untuk pekerjaan ladang tahunan, niscaya akan ada seorang manusia yang bakal menemui ajal secara mengerikan, mati terbunuh dalam genangan dan semprotan darah (kematian darah).
Arkian, setelah Mani Amas menyaksikan dan mendengar segala pertanda yang begitu keras menentang langkahnya, ia pun berdiri termangu-mangu di tengah rimba. Seharusnya, selaku seorang tetua adat, ia tunduk dan kembali ke kampung untuk membatalkan niatnya berladang pada tahun itu. Akan tetapi, pada saat itu, setan telah menyusup ke dalam hati dan pikirannya, melahirkan rasa sombong, pongah, lagi tegar hati yang teramat sangat.
Maka Mani Amas pun berkata-kata di dalam hatinya dengan penuh rasa jemawa, "Apakah gunanya aku ini bergelar tetua adat jikalau aku harus ketakutan hanya karena mendengar lolongan binatang dan jatuhnya sebatang dahan kering? Aku ini orang perkasa yang tahu seluk-beluk rimba. Firasat ini tiada akan mampu menumbangkan diriku."
Maka dengan hati yang angkuh dan keras kepala, Mani Amas mengambil keputusan yang amat berani lagi terlarang, yaitu melawan dan mengabaikan sekalian pertanda-pertanda buruk yang dikirimkan oleh alam kayangan. Ia membulatkan tekadnya untuk tetap pergi menebang pohon di tempat itu pada keesokan harinya, seolah-olah tiada suatu malapetaka pun yang sedang berjalan mengintai jiwanya dari belakang.
------------------------------
Tidak ada komentar:
Posting Komentar