Di tengah pekatnya kabut ketakutan yang menyelimuti pedalaman Kalimantan Barat pada Oktober 1967, cinta tumbuh di tempat yang paling tidak terduga.
Gusti adalah seorang pemuda Dayak dari hilir Sungai Mempawah. Ia memiliki tegap tubuh seorang pemburu dan ketajaman mata seorang prajurit rimba. Namun, di balik seragam kain merah yang terikat di kepalanya dan mandau yang terikat di pinggangnya, hatinya tidak dipenuhi oleh dendam atau haus darah. Ketika api perlawanan membakar kampung-kampung di sekitar Bengkayang dan Menjalin, Gusti bertugas menyisir lorong-lorong hutan bersama barisan pemuda kampung untuk menjaga wilayah mereka dari penyusupan gerombolan komunis PGRS/PARAKU.
Sementara itu, Mei Ling adalah putri seorang pedagang kelontong di kawasan Toho. Wajahnya lembut seperti bulan purnama, dengan mata yang menyimpan ketenangan pedalaman. Namun, ketenangan itu hancur tatkala gelombang penyerangan menjalar hingga ke kampungnya. Dalam kepanikan eksodus massal, Mei Ling terpisah dari rombongan keluarganya yang berlari menuju jalan besar arah Singkawang.
Sore itu, hujan deras mengguyur rimba. Mei Ling bersembunyi di balik perahu kayu yang terbalik di tepi Sungai Mempawah, tubuhnya menggigil kedinginan dan ketakutan. Dari balik semak-semak, langkah kaki berat mendekat. Mei Ling memejamkan mata erat-erat, bersiap menghadapi takdir paling buruk.
Ketika semak-semak tersingkap, bukannya bilah mandau yang menyapa lehernya, melainkan sepasang mata hangat milik Gusti.
Gusti tertegun melihat gadis Tionghoa yang gemetar di hadapannya. Di mata Gusti, Mei Ling bukanlah ancaman atau bagian dari gerombolan bersenjata yang diburu di dalam hutan; ia hanyalah seorang gadis malang yang ketakutan dan tak berdaya. Tanpa ragu, Gusti menyarungkan mandau-nya dan melepaskan kain pelindung bahunya untuk diselimutkan ke tubuh Mei Ling yang kedinginan.
"Jangan takut," bisik Gusti dengan bahasa Melayu lokal yang lembut. "Aku tidak akan menyakitimu."
Sejak sore itu, di sebuah gubuk peladang tersembunyi yang tak tersentuh kecamuk perang, Gusti menyembunyikan dan merawat Mei Ling. Di tengah riuhnya desing tembakan di jauh sana dan kepulan asap dari bangunan yang terbakar, dua insan dari latar belakang yang berdeda itu saling mengenal satu sama lain.
Malam demi malam diisi dengan bisikan cerita. Mei Ling bercerita tentang impian sederhananya untuk kembali merajut benang dan membantu ibunya di dapur. Gusti bercerita tentang keindahan rimba saat musim buah tiba dan lagu-lagu burung malam yang menentramkan. Dalam kesunyian gubuk pelandangan itu, sekat-sekat prasangka runtuh. Rasa simpati perlahan berubah menjadi benih-benih asmara yang sangat dalam.
"Mengapa engkau menolongku, Gusti?" tanya Mei Ling suatu malam, menatap lekat mata pemuda itu di bawah remang api pelita. "Orang-orang di luar sana saling membenci..."
Gusti menggenggam erat tangan Mei Ling yang hangat. "Sebab matamu tidak menyimpan kebencian, Mei Ling. Hutan ini mengajarkanku bahwa semua pohon membutuhkan air yang sama untuk tumbuh. Cinta tak pernah memilih di mana ia harus bersemi."
Namun, masa-masa manis itu dibayangi oleh waktu yang terus berjalan. Gelombang pengungsian kian masif, dan aparat semakin gencar menertibkan wilayah pedalaman. Gusti tahu, ia tidak bisa selamanya menyembunyikan Mei Ling di gubuk itu. Tempat paling aman bagi Mei Ling adalah bergabung dengan puluhan ribu pengungsi lain di kota Singkawang yang dijaga oleh Palang Merah dan pemerintah.
Dua minggu kemudian, di bawah naungan kabut fajar, Gusti menuntun Mei Ling menuju pinggir jalan raya tempat truk-truk penampungan mengangkut para pengungsi. Air mata Mei Ling menetes tak terbendung. Perpisahan ini terasa lebih menyakitkan daripada dentuman perang di luar sana.
Sebelum Mei Ling menaiki truk, Gusti melepaskan sebuah ukiran kayu kecil berbentuk bunga melati yang dibuatnya sendiri selama malam-malam penantian dan menyerahkannya ke telapak tangan Mei Ling.
"Bawalah ini," ujar Gusti, suaranya parau menahan gejolak di dada. "Ke mana pun angin membawa kapal pengungsianmu, ingatlah bahwa ada hati yang tertinggal di tepi Sungai Mempawah ini."
Mei Ling menggenggam ukiran kayu itu erat-erat di dadanya, lalu mengecup pipi Gusti dengan penuh kerinduan dan kepasrahan. "Aku akan menyimpan janji ini, Gusti. Jika rimba ini kembali damai, aku akan mencari jalan untuk kembali padamu."
Truk berjalan perlahan, membelah debu jalanan menuju kota Singkawang, membawa Mei Ling menjauh dari pedalaman yang bergejolak. Gusti berdiri tegap di tepi jalan, memandangi bayangan truk yang kian menghilang di balik bukit.
Perang dan konflik mungkin bisa menghancurkan rumah-rumah dan memisahkan ribuan manusia, tetapi rasa cinta yang telah bertaut di antara Gusti dan Mei Ling menjadi bukti abadi bahwa di tengah kelamnya tragedi kemanian, kemanusiaan dan kasih sayang tidak akan pernah sanggup dipadamkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar