Minggu, 20 September 2026

Hikayat Sambayang Anyokng dan Pemuliaan Awo Pamo

Bismillah wal-hamdulillah. Ini suatu hikayat tatkala menceritakan kisah pada zaman dahulu kala, di sebuah negeri yang dikasihi oleh Dewa Jubato, tempat bernaung keturunan Dayak Salako yang amat teguh memelihara adat paribaso dan ajaran para leluhur. Maka tersebutlah bahwasanya tiap-tiap keluarga di negeri itu menggelar upacara ritual Ngabayotn dan Ngarantuk di dalam rumah mereka masing-masing, kerana upacara sakral itu adalah hak dan kepunyaan setiap rumah tangga, tiada dilakukan di luar rumah.

Syahdan, mengikut adat purbakala, upacara ritual Ngabayotn dibedakan atas jenis hewan kurban serta persembahan yang menyertainya, yaitu upacara ritual biasa dan upacara ritual besar. Adapun upacara ritual yang sederhana dinamai sambayang enek atau sambayang biaso, yang lebih dikenal orang sebagai Ngarantuk. Upacara ini dihantar pada pagi hari dengan ritual batagokng menggunakan tiga buah kue tumpi', putukng (epet bontokng) bersusun tiga, serta tiga ekor ayam beserta penganan poe' dan bontokng. Pada ritual sambayang enek ini, segala hewan kurban dipersembahkan dalam posisi telentang. Devosi kurban nyangohotn buis bantotn ini semata-mata ditujukan kepada Jubato, awo pamo, dan roh-roh pelindung di dalam batas wilayah kampung itu saja, tiada boleh (amai') melampaui batas pemukiman.

Sebermula, ada pun upacara ritual yang agung dinamai sambayang anyokng atau sambayang ayo', yaitu upacara ritual besar. Upacara ini menggunakan kurban seekor babi yang telah dikebiri (bantut) serta seekor ayam, atau dapat jua digantikan dengan tujuh ekor ayam yang sama nilainya. Pada ritual sambayang anyokng ini, jangkauan doa nyangohotn melampaui batas kampung hingga ke tempat-tempat yang amat jauh dan sakral, seperti Bukit Bawokng yang dijaga oleh Jubato Ne' Opo Panungkat Bawokng, serta Sungai Sapero' yang dijaga oleh Jubato Ne' Rapek. Sungguh Bukit Bawokng itu dimuliakan oleh bangsa Austronesia bak dipandangnya Bukit Siguntang oleh orang-orang Sriwijaya pada zaman dahulu.

Hatta, tatkala sebuah keluarga hendak menggelar sambayang anyokng, dimulailah ritual pengantar yang dinamai matek pada petang hari sekira jam lima sore, tatkala cahaya matahari masih membayang. Seorang panyangohotn menusuk tujuh buah tumpi' dengan kayu kecil, lalu meletakkannya di dekat jendela (tingo'otn) yang menghadap ke arah terbitnya matahari seraya memanjatkan doa. Di atas tempat ritual besok harinya, digantungkan sehelai kain sarung merah yang baru atau sarung balunggi yang bersulam emas.

Seketika doa matek dibacakan, dentuman senjata lantak atau meriam kecil lelo dan rantako menyalak ke udara, ngubarotn—mengabarkan kepada sekalian Jubato, awo pamo, dan warga kampung bahwa sambayang anyokng akan dilangsungkan besok pagi. Ritual matek digelar pada petang hari kerana pada waktu itulah para Jubato dan roh leluhur telah kembali ke tempatnya, sehingga permohonan dan undangan itu pasti diterima oleh Mereka.

Maka pada hari puncak sambayang anyokng, disajikanlah putukng bersusun tujuh serta olahan daging kurban berupa santotn, sigoh, dan bamopm. Jikalau keluarga itu melaksanakan upacara kerana bernazar, maka hewan kurban babi dipersembahkan secara utuh (baboatotn) dalam posisi telentang setelah dibersihkan. Namun pada upacara biasa, babi kurban itu di-turih atau dipotong-potong mengikut aturan adat. Pekerjaan menurih ini hanya boleh dilakukan oleh orang yang terampil dan berpengalaman; sebab jikalau tersalah turih, kurban akan rusak dan malapetaka serta kesialan akan menimpa keluarga tersebut.

Alkisah, ada tiga hal yang menyebabkan sebuah keluarga melaksanakan sambayang anyokng. Pertama, kerana membayar nazar (sambayang mayar moot) atas panen yang melimpah (muih padi) atau sembuhnya anggota keluarga dari penyakit. Kedua, sebagai bentuk suka cita bagi keluarga kaya yang senantiasa dilimpahi hasil bumi dan ternak yang banyak. Ketiga, iaitu ritual Booh Nyawo (belah nyawa), yaitu upacara pelepasan arwah kerabat yang telah meninggal selama tiga tahun guna menghantar dan mengesahkan arwah tersebut menjadi roh leluhur yang absolut (awo pamo) di Subayotn.

Maka tatkala ritual sakral di dalam rumah-rumah telah usai, kemeriahan pun beralih ke jalanan kampung. Anak-anak muda yang kreatif membawa alat musik orkes—gitar, bas jepug, gendang kembar malaya, romba, dan tambrin—berjalan mendatangi tiap-tiap rumah warga. Mereka membawakan lagu-lagu gembira dalam tradisi yang dinamai bangsin. Sebagai tanda terima kasih, tuan rumah menyajikan dua copak beras dalam piring yang diselipi uang kertas di dalamnya untuk diambil oleh para pemusik muda itu.

Demikianlah hikayat sambayang anyokng dan pesta Ngabayotn dipelihara dengan penuh khidmat oleh suku Dayak Salako, membawa keberkahan hidup, penghormatan kepada arwah leluhur, serta sukacita bagi seluruh warga negeri.

Tidak ada komentar:

Mite Rahasia Pohon Asam Janggi dan Penjaga Taino

Alkisah pada awal mula zaman, tatkala bumi Taino masih muda, Pohon Asam Janggi belum berdiri di tengah pusaran air laut lepas. Pada masa itu...