Kamis, 17 September 2026

Cerpen: Bayang-Bayang Malam Singkawang - Eri Sanca

Malam Sabtu di Singkawang selalu menyimpan cerita tersendiri. Angin malam meniupkan hawa dingin yang menusuk tulang saat saya berdiri di sudut jalan, memerhatikan hilir mudik kendaraan. Dari kejauhan, lampu sorot sepeda motor menyilaukan mata, membawa seorang anak gadis yang dibonceng oleh seorang laki-laki. Mereka melaju kencang ke arah Selatan, menuju sebuah kafe ramai yang menjadi tempat favorit para remaja menghabiskan malam.

Saya memutuskan untuk memerhatikan mereka dari kejauhan. Di sudut kafe yang remang, kedua anak muda itu terlihat begitu leluasa bermesraan, menikmati dunia yang seolah hanya milik berdua. Namun, ketika pencahayaan lampu kafe menerpa wajah sang perempuan secara jelas, jantung saya mendadak berhenti berdetak. Rasa canggung dan terkejut bercampur menjadi satu. Identitas perempuan itu membentur kesadaran saya dengan sangat keras—dia adalah majikan saya sendiri.

Langkah kaki saya terhenti, mencoba mencerna apa yang baru saja disaksikan. Sayangnya, takdir tak berpihak malam itu. Ketika saya berusaha memalingkan wajah, mata kami tak sengaja saling bertatapan. Tatapannya yang semula penuh tawa langsung berubah menjadi dingin dan menusuk. Tanpa ragu, ia bangkit dan berjalan lurus melangkah ke arah saya.

"Kalo kamu berani ngadu ke suamiku, bersiaplah umurmu gak akan panjang di dunia ini!" bisiknya penuh ancaman tepat di depan wajah saya. Suaranya rendah, namun dipenuhi intimidasi yang sanggup meremukkan keberanian siapa pun.

Di situ saya hanya bisa terdiam paku. Muka saya pucat pasi, dibalut ketakutan luar biasa. Ancaman itu bukanlah gertakan sambal bagiku. Bayangan kelam masa lalu langsung terbayang di ingatan: beberapa waktu lalu, seorang teman dekat saya tewas terbunuh secara misterius setelah berurusan dengan keluarga ini. Ketakutan bahwa nasib naas yang sama akan menimpa diri saya membuat kepala ini terasa berat dan gemetar. Saya bahkan tak sanggup membayangkan bagaimana jika suami sang majikan sampai mengetahui rahasia kelam ini.

Sepanjang sisa malam, saya tidak berani lagi mendongakkan kepala atau sekadar menoleh. Ketakutan menyelimuti pikiran saya, membelenggu setiap pergerakan. Saya sangat menyayangi keluarga majikan saya, namun rasa takut akan bahaya dan dosa besar yang terjadi di depan mata terus bergolak di dalam dada.

Keesokan harinya, tekad kecil terbit di dalam hati. Saya tidak bisa terus-menerus hidup dalam bayang-bayang ketakutan dan membiarkan kesalahan ini terus berlarut. Dengan memberanikan diri, saya berjalan mendekati sang majikan yang sedang berdiri sendirian. Langkah saya gemetar, tetapi niat saya sudah bulat.

Saya berlutut di sampingnya, menundukkan kepala penuh rasa hormat sekaligus kepasrahan. Di hadapannya, saya memberanikan diri menyuarakan isi hati yang paling dalam, meski sadar betul bahaya dan ajal bisa saja mengintai tepat di depan mata.

"Nyonya," ucap saya dengan suara bergetar namun tegas. "Saya tidak berniat jahat atau mencampuri urusan Nyonya. Tapi demi kebaikan kita bersama, dan sebelum ajal atau kemurkaan Tuhan datang menjemput, saya memohon... jangan pernah melakukan hal tidak terpuji dan perzinahan itu lagi."

Suasana mendadak hening. Saya tetap menunduk, siap menerima konsekuensi apa pun atas keberanian yang mungkin dianggap sebagai lancang ini.

Tidak ada komentar:

Mite Rahasia Pohon Asam Janggi dan Penjaga Taino

Alkisah pada awal mula zaman, tatkala bumi Taino masih muda, Pohon Asam Janggi belum berdiri di tengah pusaran air laut lepas. Pada masa itu...