Alkisah pada zaman dahulu di kawasan pesisir Singkawang, Kalimantan Barat, berdirilah sebuah desa yang berbatasan langsung dengan rimba raya dan perbukitan. Di rimba tersebut, hiduplah seorang perempuan tua yang amat bijaksana bernama Nek Kinoh. Beliau hidup sebatang kara dan senantiasa menggantungkan hidupnya pada hasil hutan demi menyambung usia.
Hatta, pada suatu hari tatkala Nek Kinoh sedang mencari kayu bakar di lereng gunung, tiba-tiba langit berubah terang benderang oleh cahaya keemasan. Dari balik semak belukar, muncullah seekor kijang yang amat elok rupanya. Seluruh tubuh kijang itu memancarkan kilau emas murni, dan tanduknya bagaikan ukiran perak berkilauan. Kijang emas itu rupanya sedang terjerat oleh akar gaib penunggu hutan.
Nek Kinoh yang berbudi luhur merasa iba melihat satwa sakti tersebut. Tanpa rasa takut sedikit pun, Nek Kinoh mendekat seraya membaca doa. Seketika itu pula, dengan sekali sentuhan jemari Nek Kinoh, akar gaib yang mengikat kaki sang kijang emas meluruh dan hancur menjadi debu.
Maka dengan izin Tuhan Yang Maha Kuasa, kijang emas itu mendadak dapat berkata-kata seperti manusia. "Wahai Nek Kinoh yang berhati mulia, kebaikanmu telah menyelamatkanku dari kurungan gaib. Sebagai imbalannya, ambillah sehelai bulu emasku ini. Setiap kali engkau mengusapnya, keberkahan dan rezeki akan melimpah bagi seluruh warga desa."
Setelah menyerahkan sehelai bulunya, sang kijang emas melompat tinggi melintasi pepohonan lalu menghilang ke awan. Nek Kinoh kemudian membawa bulu sakti itu pulang ke desanya. Sejak peristiwa tersebut, tanah di sekitar Singkawang menjadi sangat subur, hasil panen melimpah ruah, dan penyakit misterius tak lagi melanda masyarakat. Nek Kinoh beserta seluruh warga hidup makmur dan tenteram selamanya, seraya tetap menjaga kelestarian rimba raya tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar