HUJAN KEMATIAN
Malam itu, hujan turun seperti langit sedang berduka.
Titik demi titik air jatuh dari kegelapan. Mula-mula pelan, membasahi atap-atap rumah dan jalan tanah di kampung kecil itu. Namun semakin malam, hujan berubah menjadi suara yang mengerikan.
Tik.
Tik.
Tik.
Kemudian—
BRASSSS!
Air turun semakin deras.
Aku membuka mata.
Pandangan masih buram. Tubuhku terasa dingin. Untuk beberapa saat, aku tidak tahu sedang berada di mana.
Suara hujan menusuk telingaku.
Aku mencoba bangkit dari pembaringan.
Di luar, angin meraung.
“Ardi!”
Aku mendengar suara ibuku.
“Ardi, bangun!”
Aku melihat wajahnya di ambang pintu. Rambutnya basah. Wajahnya pucat.
“Kenapa, Bu?”
“Hujan semakin deras. Air sungai naik.”
Aku terdiam.
Sebenarnya, hujan deras bukan sesuatu yang asing bagi kampung kami. Setiap musim penghujan, sungai akan meluap sedikit. Air memasuki halaman rumah dan kemudian kembali surut.
Kami sudah terbiasa.
Kami mengira malam itu akan sama.
Kami salah.
Aku kembali berbaring.
Di luar, hujan tidak berhenti.
Titik-titik air terus berguguran dari langit, membasahi tiang-tiang rumah dan tanah di sekelilingnya. Suaranya seperti irama yang berulang-ulang.
Namun semakin lama, irama itu berubah.
Bukan lagi suara hujan.
Melainkan suara sesuatu yang jauh lebih besar.
Sesuatu yang sedang bergerak.
Aku membuka mata.
Lalu terdengar suara dari kejauhan.
GEMURUH!
Rumah kami bergetar.
Aku langsung bangun.
“Apa itu?”
Ibuku tidak menjawab.
Ayahku berlari menuju pintu.
“Naik ke atas!” teriaknya.
“Cepat!”
Aku belum sempat bertanya ketika pintu rumah terbuka.
Dan aku melihatnya.
Air.
Hitam.
Keruh.
Datang dari kejauhan seperti makhluk raksasa yang sedang mengamuk.
“BANJIR!” seseorang berteriak.
“BANJIR BANDANG!”
Teriakan itu segera tenggelam oleh suara gemuruh.
Aku berlari.
Kakiku menginjak lantai yang mulai basah. Air masuk dari bawah pintu. Dalam hitungan detik, air mencapai mata kaki.
Kemudian lutut.
Kemudian pinggang.
Aku memegang tangan ibuku.
“Jangan lepaskan!”
Aku mengangguk.
Namun gelombang berikutnya datang.
BRUAAAK!
Dinding rumah sebelah roboh.
Suara kayu patah.
Suara kaca pecah.
Suara manusia berteriak.
Aku melihat tetanggaku terbawa arus.
“Tolooong!”
Aku ingin menolongnya.
Tetapi ayah menarikku.
“Jangan!”
Air semakin tinggi.
Dingin.
Sangat dingin.
Angin malam menusuk kulit.
Aku mulai menggigil.
Tubuhku yang kecil tidak mampu melawan derasnya arus.
Aku berusaha bernapas.
Namun air masuk ke mulutku.
Aku tersedak.
“Bu!”
Tanganku masih menggenggam tangan ibu.
Aku merasakan genggamannya semakin kuat.
Lalu—
gelombang besar datang.
Untuk sesaat, dunia menjadi gelap.
Aku tidak tahu di mana atas dan di mana bawah.
Tubuhku terlempar.
Terbentur.
Terhanyut.
Air menyeretku bersama kayu, batu, dan benda-benda yang tidak dapat kukenal.
Dadaku terasa sesak.
Aku mencoba berteriak.
Tidak ada suara yang keluar.
Aku mencoba menggapai sesuatu.
Tidak ada yang dapat kugenggam.
Kemudian aku menyadari sesuatu.
Tangan ibuku—
telah terlepas.
“IBU!”
Aku berteriak.
Namun hujan menelan suaraku.
Aku terbawa semakin jauh.
Air seperti memiliki tangan-tangan yang mengerayangi tubuhku. Ia menarikku ke bawah, memutar tubuhku, lalu melemparkanku kembali ke permukaan.
Aku menggigil.
Aku kedinginan.
Aku mencoba bertahan.
Namun tubuhku mulai lemah.
Di tengah hujan, aku teringat sesuatu.
Pagi tadi.
Sebelum semuanya terjadi.
Aku sedang duduk di depan rumah.
Ibuku memanggilku untuk sarapan.
Ayah sedang memperbaiki pagar.
Adikku berlari-lari di halaman sambil tertawa.
Aku ingat semuanya.
Terlalu jelas.
Seakan-akan aku sedang melihat sebuah kehidupan yang bukan lagi milikku.
“Jangan terlalu lama bermain di hujan,” kata ibuku pagi itu.
Aku tertawa.
“Kenapa?”
“Nanti kamu sakit.”
Aku tidak tahu bahwa malam itu—
hujan akan membawa sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada penyakit.
GEMURUH!
Gelombang besar kembali menghantam.
Tubuhku terlempar ke udara.
Lalu jatuh.
Keras.
Sangat keras.
Aku tidak bisa bergerak.
Air masih mengalir.
Namun kali ini, tubuhku tidak lagi terbawa.
Aku membuka mata.
Gelap.
Sangat gelap.
Aku mencoba bernapas.
Tidak ada udara.
Aku ingin berteriak.
Tidak ada suara.
Tubuhku terasa semakin dingin.
Kemudian, perlahan, aku menyadari bahwa aku tidak lagi berada di dalam air.
Aku berada di tempat yang sempit.
Di bawah tanah.
Di perut bumi.
Tubuhku tertimbun lumpur dan batu.
Aku mencoba menggerakkan tangan.
Tidak bisa.
Kakiku juga tidak bisa.
Aku sendirian.
Atau mungkin—
aku tidak benar-benar sendirian.
Di dalam kegelapan, aku mendengar suara-suara.
Tangisan.
Bisikan.
Rintihan.
“Siapa di sana?”
Tidak ada jawaban.
Kemudian terdengar suara seorang perempuan.
“Apakah kau juga terbawa hujan?”
Aku terdiam.
“Siapa kamu?”
“Aku tidak tahu.”
“Di mana kita?”
Perempuan itu tertawa pelan.
Namun tawanya terdengar seperti tangisan.
“Entahlah.”
Kemudian suara lain muncul.
Seorang anak kecil.
“Ayahku ada di mana?”
Suara berikutnya.
“Suamiku…”
Lalu—
“Anakku…”
“Rumahku…”
“Bantulah aku…”
Suara-suara itu datang dari segala arah.
Aku ketakutan.
“Siapa kalian?”
Kali ini, tidak ada yang menjawab.
Hanya terdengar hujan.
Hujan.
Hujan.
Seperti tidak pernah berhenti.
Aku membuka mata.
Namun kali ini, aku tidak lagi berada dalam kegelapan.
Aku berdiri di sebuah tempat yang asing.
Kabut putih mengelilingiku.
Di hadapanku terdapat banyak bayangan.
Mereka berdiri diam.
Tidak berbicara.
Tidak bergerak.
Aku melihat seorang perempuan.
“Bu?”
Perempuan itu menoleh.
Air matanya jatuh.
“Ibu!”
Aku berlari.
Namun ketika aku mendekatinya, aku berhenti.
Aku melihat ayahku.
Dan adikku.
Mereka semua ada di sana.
“Kenapa kalian di sini?”
Tidak seorang pun menjawab.
Kemudian aku melihat ke belakang.
Jauh di bawah sana, kampungku sudah tidak ada.
Rumah-rumah telah hancur.
Pohon-pohon tumbang.
Tanah berubah menjadi lumpur.
Orang-orang datang membawa lampu dan alat-alat.
Mereka menggali.
Mereka mencari.
Mereka memanggil nama-nama.
“Ardi!”
Aku mendengar seseorang berteriak.
“Itu Ardi!”
Aku menoleh.
Seorang lelaki sedang memeluk tubuh kecil yang tertutup lumpur.
Tubuh itu.
Tubuhku.
Aku melihat wajahku sendiri.
Diam.
Pucat.
Dingin.
Untuk pertama kalinya, aku mengerti.
Aku telah mati.
Hari-hari berikutnya, hujan akhirnya berhenti.
Matahari kembali muncul.
Namun kampung kami tidak pernah kembali seperti sebelumnya.
Orang-orang menemukan tubuh demi tubuh.
Sebagian ditemukan di antara lumpur.
Sebagian tersangkut di pohon.
Sebagian tidak pernah ditemukan.
Dan sebagian hanya meninggalkan nama.
Namaku disebut dalam daftar.
Ardi.
Aku mendengarnya.
Ibuku menangis.
Namun aku tidak bisa lagi memeluknya.
Ayahku menundukkan kepala.
Namun aku tidak bisa lagi mengatakan bahwa aku baik-baik saja.
Adikku memanggil namaku.
Namun aku tidak bisa menjawab.
Aku hanya dapat berdiri di antara jiwa-jiwa lain.
Jiwa-jiwa yang terhilang.
Kami memandang dunia yang pernah menjadi rumah.
Lalu seseorang berkata pelan,
“Yang tersisa dari kita hanyalah nama.”
Aku menatap kampungku untuk terakhir kali.
Rumah-rumah telah hilang.
Tawa anak-anak telah hilang.
Suara langkah di pagi hari telah hilang.
Yang tersisa hanyalah lumpur.
Dan ratapan.
Kemudian hujan turun kembali.
Satu titik.
Lalu satu titik lagi.
Tik.
Tik.
Tik.
Aku mengangkat wajah.
Tidak ada lagi rasa dingin.
Tidak ada lagi rasa takut.
Namun jauh di bawah sana, aku tahu—
setiap kali hujan turun terlalu deras, orang-orang akan mengingat malam itu.
Malam ketika langit membuka seluruh kesedihannya.
Malam ketika air berubah menjadi gelombang kematian.
Malam ketika manusia-manusia kecil tidak mampu melawan kekuatan alam.
Dan malam ketika banyak jiwa pergi bersama derasnya air.
Aku memandang hujan untuk terakhir kali.
Lalu aku berbisik,
“Jangan menangis terlalu lama.”
Namun hujan tetap turun.
Deras.
Deras.
Seolah langit sendiri sedang meratapi kami.
Tersisa nama.
Tersisa kenangan.
Dan ratapan pilu.
Sementara kami terus berjalan perlahan menuju tempat yang tidak lagi memiliki hujan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar