Matahari baru saja naik sedikit menyinari jalan tanah berpasir di depan rumah di kampung celongkong. udara pagi masih terasa dingin, tercium bau tanah basah dan bunga-bunga putih yang tumbuh di pinggir jalan. Jam menunjukkan pukul enam lewat seperempat, dan di sinilah kehidupan di kampungku mulai bergerak pelan tapi terasa hangat.
Di ujung jalan, bu siti sudah membuka warung kecilnya, meja kayu panjang itu sudah penuh dengan gelas teh hangat dan wadah gorengan yang masih hangat. bapak-bapak kampung berdatangan, duduk berdesakan di bangku kayu sambil mengobrol sebelum pergi ke bekerja. "Pagi, bu siti! Satu teh manis ya!" sapa budi sambil meletakkan cangkulnya di pinggir meja. bu siti tersenyum ramah, tangannya cekatan menuangkan air panas. "Siap, pak! ini tehnya, Selamat pagi!" suara tawa mereka terdengar sampai ke jalan, membuat suasana pagi terasa akrab.
Tidak jauh dari sana, anak-anak sekolah berjalan berkelompok menuju sekolah yang ada di pinggir desa. seragam putih-merah mereka tampak cerah terkena sinar matahari. ada yang berjalan beriringan sambil bercerita, ada juga yang berlari kecil karena takut terlambat. "Tunggu aku, rina! Janga jalan sendiri!" seru seorang anak perempuan yang tertinggal di belakang. mereka saling menunggu, saling bantu, dan itulah yang selalu membuatku tersenyum di kampung Celongkong ini, tidak ada yang jalan sendiri sendirian.
Menjelang siang, suasana jadi lebih tenang, warung buk siti mulai sepi, jalanan jadi sunyi, hanya terdengar suara burung dan angin yang berhembus pelan melewati pohon-pohon kelapa. tapi setiap sore, saat matahari mulai turun, warga kembali keluar rumah. bukan sekadar beli sesuatu, tapi untuk saling menyapa, berbagi cerita, dan tahu kabar tetangga sebelah rumah.
Suatu sore, aku melihat Pak RT berjalan keliling membawa kotak obat sederhana. Ia berhenti di rumah tetangga yang sedang sakit, memberikan obat dan menanyakan kabarnya. "Kalau butuh apa-apa, panggil saja saya ya," ucapnya lembut. momen itu membuatku sadar sesuatu yang sederhana : di kampung ini, hidup bukan hanya soal tinggal di rumah masing-masing, melainkan soal saling peduli dan jadi satu keluarga besar.
Matahari kini sudah tenggelam, digantikan cahaya lampu minyak dan lampu jalan yang temaram. Dari jendela kamarku, aku melihat warung bu siti yang sudah tutup, tapi kehangatan masih terasa. Hidup di kampung Celongkong memang sederhana, tidak mewah, dan berjalan pelan. Tapi di sinilah aku belajar bahwa kebahagian tidak selalu datang dari hal yang besar, melainkan dari kebersamaan, keramahan, dan kepedulian yang tulus di antara tetangga.
Pesan moral : hidup rukun dan saling peduli dengan tetangga membuat suasana tempat tinggal menjadi damai dan bahagia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar