Jumat, 11 September 2026

Cerpen Kampung setapak tepian sungai -Debi Karwangi

 Pagi di jalan setapak kampung tepian sungai. Sore itu, matahari baru saja mengintip di balik bukit, menyebarkan cahaya keemasan di permukaan sungai yang tenang. Di Kampung tepian sungai tempatku tinggal, hari-hari selalu berjalan dengan irama yang sama - tenang, sederhana, namun penuh makna.

Sejak pukul lima pagi, suara ayam berkokok sudah bersahutan, menyusul bunyi pintu kayu yang terbuka satu persatu. Ibu-ibu di sepanjang jalan setapak itu sudah sibuk di dapur, asap tipis mengepul dari corong rumah-rumah panggung, beraroma kayu bakar yang khas bau yang selalu membuatku hangat di dada. Aku duduk di beranda, menyesap teh hangat sambil melihat bapak-bapak yang berjalan beringinan menuju sawah membawa cangkul di bahu dan senyum di wajah. "Pagi nak," sapa Pak Udin tetangga yang setiap hari lewat di depan rumahku. Langkahnya tetap tegap meski usia tak lagi muda. Aku membalas sapaannya dengan ramah, di sini menyapa orang yang lewat sudah menjadi kebiasaan, bukan sekadar sopan santun, melainkan bentuk keakraban yang tumbuh di antara tetangga, tidak ada yang merasa asing.

Saat matahari mulai naik lebih tinggi, jalan setapak itu menjadi lebih ramai, anak-anak berjalan kelompok menuju sekolah, tas bergoyang di punggung, tertawa lepas sambil bercerita tentang permainan kemarin. Di tepian sungai, para ibu mencuci pakaian.

Sambil-sambil bercerita ria, suara tawa mereka menyatu dengan gemericik air. Tidak ada yang terburu-buru. Semua berjalan dengan tenang seolah waktu di tempat ini berjalan lebih lambat, memberi kesempatan setiap orang untuk menikmati setiap detiknya.

Namun, ketenangan itu pun kadang diuji. Beberapa hari lalu, hujan turun sangat deras. Sepanjang malam, air sungai naik, mendekati bibir dalam setapak tanpa di suruh, para lelaki kampung berkumpul, membawa karung dan tanah bekerja lama memperkuat tanggul. Tidak ada yang memerintah, tidak ada yang dibayar. Semua sadar, keamanan satu adalah keamanan semua. Itulah aturan yang tumbuh di kampung ini - gotong royong bukan sekadar kata, melainkan cara hidup.

Siang berganti sore. Para petani pulang dengan wajah lelah namun puas. Anak-anak bermain di lapangan kecil di tengah kampung, mengelar bola di antara senda. Langit berubah jingga, memeluk kampung dalam kehangatan, aku berdiri di tepi sungai, memandang bayang-bayang orang yang pulang ke rumah masing-masing. Sederhana sekali hidup di sini. Tidak ada kemewahan gedung tinggi atau kelap-kelip lampu kota. Tapi di sini ada hal yang jauh lebih berharga - kebersamaan, ketulusan, dan rasa memiliki satu sama lain.

Malampun tiba, lampu-lampu rumah mulai menyala satu persatu. Jalan setapak yang tadi ramai kini perlahan sunyi, hanya terdengar suara jangkrik dan aliran sungai yang tak pernah berhenti mengalir.

Tidak ada komentar:

Cerpen: Aroma Pagi di kampung Habang - Agustina Sari

Dipagi Hari, matahari baru saja mengintip dari balik perbukitan di belakang Rumahku ketika asap tipis mulai mengepul dari dapur Rumah - Ruma...