Jumat, 11 September 2026

Cerpen: Pagi di depan Rumahku - Yesi Riana Oyon

Setiap pagi, lingkungan tempat tinggalku selalu memiliki suasana yang berbeda. Suara ayam berkokok terdengar dari belakang rumah, disusul suara motor para tetangga yang mulai berangkat bekerja. Dari dapur, aroma masakan ibu juga mulai memenuhi rumah. Bagiku, suasana sederhana seperti itu sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.


Namaku Raka. Aku tinggal di sebuah gang kecil bersama kedua orang tuaku. Di depan rumah terdapat beberapa rumah tetangga yang saling berdekatan. Meskipun sederhana, warga di lingkungan kami cukup akrab dan sering saling membantu.


Suatu pagi, ketika aku hendak berangkat sekolah, aku melihat sampah berserakan di dekat selokan. Rupanya, semalam angin cukup kencang sehingga beberapa sampah dari tempat pembuangan terbawa ke jalan. Aku merasa terganggu karena jalan menjadi kotor dan selokan hampir tertutup.


Aku kemudian mengambil sapu dan mulai membersihkan sampah tersebut. Tidak lama kemudian, tetanggaku, Dimas, datang menghampiri.


“Sendirian saja?” tanyanya.


“Iya. Kalau dibiarkan, nanti selokannya tersumbat,” jawabku.


Dimas langsung mengambil pengki dan ikut membantu. Beberapa menit kemudian, ibu-ibu yang sedang menyapu halaman juga ikut membersihkan bagian depan rumah mereka. Tanpa direncanakan, kegiatan kecil itu berubah menjadi kerja bakti.


Setelah selesai, jalan di depan rumah terlihat jauh lebih bersih. Kami kemudian membuang sampah pada tempatnya. Pak RT yang kebetulan lewat tersenyum melihat kami.


“Kalau lingkungan bersih seperti ini, semua orang pasti nyaman,” katanya.


Aku mengangguk. Saat itu aku menyadari bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tugas petugas kebersihan atau ketua RT. Setiap orang memiliki tanggung jawab untuk menjaga tempat tinggalnya.


Hari itu aku berangkat sekolah dengan perasaan senang. Meskipun hanya melakukan hal kecil, aku merasa telah memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi lingkungan.


Sore harinya, aku kembali bermain bersama Dimas dan beberapa teman di lapangan dekat rumah. Kami bermain bola sambil sesekali menyapa tetangga yang lewat. Setelah selesai bermain, kami memastikan tidak meninggalkan sampah di lapangan.


Hari-hari berikutnya, kebiasaan menjaga kebersihan mulai dilakukan oleh lebih banyak warga. Setiap orang menjadi lebih peduli terhadap lingkungan sekitar. Hubungan antarwarga pun terasa semakin dekat karena sering bekerja sama.


Aku akhirnya mengerti bahwa kehidupan sehari-hari di lingkungan tempat tinggal bukan hanya tentang rumah dan keluarga. Ada tetangga, teman, dan masyarakat yang membuat tempat tinggal terasa lebih nyaman.


Sejak saat itu, aku berusaha untuk selalu menjaga kebersihan dan membantu orang-orang di sekitarku. Bagiku, lingkungan yang baik dimulai dari kepedulian kecil setiap orang.


Amanat: Kita harus menjaga kebersihan lingkungan dan saling membantu agar tercipta lingkungan yang nyaman, bersih, dan harmonis.

Tidak ada komentar:

Cerpen: Aroma Pagi di kampung Habang - Agustina Sari

Dipagi Hari, matahari baru saja mengintip dari balik perbukitan di belakang Rumahku ketika asap tipis mulai mengepul dari dapur Rumah - Ruma...