Jumat, 11 September 2026

Cerpen "Aku dan Teman Gaib." Oleh Hendra Bahari Singkawang".

Di tepi Desa Sijangkung yang selalu diselimuti kabut dari kaki Gunung Padagi, sebuah rumah panggung kayu berdiri merana di kawasan Pakunam, Singkawang. Di sinilah bayang-bayang kelam menggantung dalam hidup Hendra, seorang anak bungsu berusia dua belas tahun. Tak ada lagi tawa hangat atau wangi masakan ibu yang menyambutnya pulang. Ayah dan ibunya tewas terseret banjir bandang dua tahun lalu, sementara kedua kakak kandungnya memilih pergi merantau ke luar kota tanpa pernah memberi kabar. Hendra tertinggal seorang diri, memeluk kepedihan di atas tanah kelahirannya yang dingin.

Kehidupan sebatang kara memaksa Hendra menjadi dewasa sebelum waktunya. Setiap pagi, jemari kecilnya harus bergelut dengan rumput liar di ladang tetangga demi sesuap nasi atau selembar uang receh. Namun, kelaparan perut tak pernah sebanding dengan rasa kesepian yang menggerogoti jiwanya. Penduduk sekitar memilih menjauh, menganggap Hendra pembawa sial karena musibah yang menimpa keluarganya. Pandangan sinis dan bisik-bisik dari warga menjadi tembok tebal yang mengisolasi Hendra dari dunia luar.

Di tengah gelap dan sepi yang menyiksa, Hendra menemukan satu-satunya penawar hatinya. Bukan manusia, melainkan sosok tak kasat mata bernama Nek Tarukun. Hantu perempuan tua bersanggul miring dengan kebaya lusuh itu pertama kali menampakkan diri di sudut dapur saat Hendra menangis menahan lapar. Sosoknya samar, melayang tanpa tapak, namun tatapannya memancarkan kehangatan yang tak lagi didapatkan Hendra dari sesama manusia.

"Jangan menangis, Cucuku. Hari ini bayam di belakang rumah sudah bisa kau petik," bisik Nek Tarukun dengan suara bergetar seperti gesekan daun kering.

Sejak malam itu, sunyinya rumah kayu di sudut Pakunam tak lagi terlalu mencekam. Nek Tarukun setia duduk di samping Hendra setiap kali anak itu belajar di bawah temaram lampu teplok. Saat Hendra menggigil karena demam, sosok hantu itu akan bertiup lembut mengusir hawa dingin di keningnya. Hendra tahu, sahabatnya adalah arwah tetua kampung yang meninggal puluhan tahun lalu. Ironis baginya, di saat manusia yang bernapas berpaling dan membiarkannya menderita, justru sesosok arwah yang memberikan perlindungan dan kasih sayang.

Sore itu, hujan deras kembali mengguyur Sijangkung. Hendra duduk di pinggir pintu, menatap tetesan air yang jatuh berirama sambil menggambar wajah ayah dan ibunya di atas tanah dengan ranting kayu.

"Nenek, apakah kakak-kakakku akan pulang? Kenapa mereka membiarkanku sendirian?" tanya Hendra lirih, menatap arwah tua yang mengapung di sebelahnya.

Nek Tarukun menatap anak bungsu itu dengan penuh iba. "Dunia ini luas dan sering kali membuat orang lupa jalan pulang, Cucuku. Tapi ingat, kau tidak pernah benar-benar sendiri selama kau mau bertahan."

Hendra tersenyum tipis. Penderitaan dan rasa lapar mungkin masih akan menyapanya esok hari, namun keberadaan Nek Tarukun menjadi bukti bahwa kasih sayang bisa hadir dari sudut yang paling tidak terduga. Di rumah tua yang lapuk itu, si anak bungsu merajut harapannya, menembus dinginnya malam bersama sahabat tak kasat matanya.


Tidak ada komentar:

Cerpen: Aroma Pagi di kampung Habang - Agustina Sari

Dipagi Hari, matahari baru saja mengintip dari balik perbukitan di belakang Rumahku ketika asap tipis mulai mengepul dari dapur Rumah - Ruma...