Jumat, 11 September 2026

Cerpen Binar Kapur di Sekolah Rakyat - Hendra Bahari Singkawang.

 Lonceng besi berkarat di sudut halaman tua itu berdentang tiga kali, memecah udara pagi yang masih diselimuti kabut tipis. Bagi orang lain, dentang itu mungkin hanya suara besi beradu. Tapi bagiku, itu adalah panggilan untuk memulai sebuah keajaiban sederhana bernama Sekolah Rakyat.

Aku merapikan kerah kemeja putihku yang sudah agak menguning di bagian lipatan. Di hadapanku, belasan anak dari desa pelosok ini duduk beralaskan tikar pandan yang sebagian pinggirnya sudah terurai. Ada Budi yang jemarinya selalu bernoda getah karet, dan Siti yang sering datang menyusul karena harus membantu ibunya menumbuk padi terlebih dahulu. Mereka tidak mengenakan seragam mentereng atau sepatu hitam berkilap, tapi mata mereka—mata itu menyimpan binar rasa ingin tahu yang tak pernah padam.

"Hari ini kita belajar memetakan mimpi," kataku sambil menggenggam sebatang kapur putih.

Di atas papan tulis kayu yang permukaannya sudah retak-retak, aku melukis sebuah lingkaran besar. Di Sekolah Rakyat ini, kami tidak punya buku teks tebal atau fasilitas komputer canggih. Yang kami miliki hanyalah ruang kelas tanpa dinding, suara angin yang berbisik di antara pepohonan bambu, dan tekad agar anak-anak ini tidak merasa kerdil di hadapan dunia.

Budi mengacungkan tangannya yang mungil. "Pak Guru, kalau mimpi saya mau bikin mesin penyedot getah otomatis, bisa ditaruh di papan tulis?"

Tawa kecil bersahutan di dalam ruangan. Aku tersenyum lebar dan melambaikan tangan mengisyaratkan Budi untuk maju. "Bukan cuma bisa, Budi. Papan ini milik kamu. Tulis di mana saja yang kamu mau."

Melihat Budi maju dengan percaya diri, satu per satu anak mulai menyusul. Papan tulis tua itu dalam sekejap dipenuhi coretan kapur warna-warni: ada yang ingin jadi dokter pohon, ada yang ingin terbang membawa surat ke kota, dan ada yang sekadar ingin membawakan beras untuk ibunya tanpa harus berutang lagi.

Ketika matahari mulai meninggi dan sinarnya menyusup di antara celah atap rumbia, aku menyadari satu hal. Banyak orang beranggapan aku sedang berkorban karena memilih mengajar di sekolah tanpa biaya ini. Padahal kenyataannya justru sebaliknya. Di tengah keterbatasan Sekolah Rakyat inilah, aku menemukan kembali alasan mengapa aku ingin menjadi seorang pendidik.

Anak-anak ini tidak hanya belajar membaca dan berhitung dariku. Melalui keteguhan dan senyum polos mereka setiap pagi, dialah yang mengajariku arti sebenarnya dari ketulusan dan harapan.


Tidak ada komentar:

Cerpen: Aroma Pagi di kampung Habang - Agustina Sari

Dipagi Hari, matahari baru saja mengintip dari balik perbukitan di belakang Rumahku ketika asap tipis mulai mengepul dari dapur Rumah - Ruma...