Alkisah pada zaman purbakala di rimba belantara Dayak Salako, tersebutlah sebuah desa yang dilingkupi kabut tebal bernama Kampung Pabonihan. Pada tiap-tiap akhir musim buah—tatkala buah durian, manggis, dan asam tuntas berguguran—landasan tanah di sekeliling pondok dihuni oleh bukit-bukit sampah kulit buah yang membusuk. Pangkorokng, demikianlah orang-orang tua menyebut limbah buah yang bercampur lendir dan belatung itu. Dari bau maung pangkorokng itulah, terbit angin malam yang membawa hawa dingin menusuk tulang, menandakan hadirnya para antu panyakit—yakni arwah-arwah manusia mati penasaran yang gentayangan di alam Taino.
Adapun arwah-arwah itu adalah jasad-jasad kuno yang tatkala matinya dicampakkan begitu saja oleh keluarganya tanpa ritual adat yang patut. Mereka lapar, haus, dan menyimpan dendam kesumat yang membara. Tatkala bau padi muda di ladang mulai tercium masak, bangkitlah kegilaan arwah-arwah tersebut. Mereka tiada rela melihat manusia bernapas mengecap gurihnya sumpooh tahutn—nasi dari padi baru yang masih perawan. Maka, lewat lendir pangkorokng, arwah-arwah merayap memasuki rumah-rumah, menyebarkan wabah demam pasak dan dahak berdarah agar manusia mamo' (mati) mengenaskan sebelum sempat merasakan hasil panennya. Bagi suku Salako, mati ditimpa wabah sebelum memanen padi adalah kutukan kesialan yang paling mengerikan, yang dinamai mati no' nyacap sumpooh tahutn.
Maka demi membendung bencana itu, tetua adat memerintahkan seisi kampung untuk menggelar ritual sakral nan mencekam: Boo' Pangkorokng. Sebuah hari di mana manusia harus "menghilang" dan berakting seolah-olah kampung telah menjadi pemakaman mati.
Alkisah, di kampung itu hiduplah seorang pemuda angkuh bernama Si Keban. Ia kerap memandang remeh petuah-petuah mistis para tetua. Tatkala fajar Boo' Pangkorokng tiba, segenap warga kampung telah mengunci rapat-rapat pintu dan jendela mereka dari dalam. Pintu dipasak kayu tebal, lubang dinding disumpal kain, dan api di dapur dimatikan total. Tiada asap yang boleh membubung, tiada suara bisikan yang boleh terdengar, dan tiada makanan berbau amis atau asam—seperti daging, ikan, jengkol, dan petai—yang boleh menyengat hidung. Manusia hanya diperbolehkan merebus daun ubi di dalam tabung bambu tabokng dan meminum air murni dalam kegelapan.
Kampung Pabonihan seketika berubah menjadi kota mati yang mencekam. Gelap, sunyi, dan hening. Tiada langkah kaki manusia. Yang terdengar dari balik dinding kayu hanyalah jeritan anjing yang melengking panjang, deru napas babi yang ketakutan, dan kokok ayam jantan yang terdengar parau diselimuti kabut hitam.
Namun, Si Keban yang berada di dalam rumahnya merasa haus dan jengkel oleh rasa sepi yang mencekit leher. Dengan gegabah dan penuh kesombongan, ia melanggar pantang larang adat yang paling ditakuti. Diam-diam, Keban menyalakan pemantik api untuk menghisap daun tembakau. Ia pun membakar keratan daging babi hutan sisa perburuan yang berbau gurih amis, lalu mengunyahnya di tengah kegelapan rumah.
Ia tidak tahu, bahwasanya percikan api dan aroma daging bakar itu bagaikan darah segar bagi ribuan arwah kelaparan yang sedang melayang-layang di luar.
Malam pun jatuh, pekat bagaikan tinta. Di luar rumah, ribuan bayangan hitam bermata merah bernanah turun melayang dari tumpukan pangkorokng. Mereka menyusuri lorong kampung yang sunyi. Pada mulanya, arwah-arwah itu hendak pergi menuju Pauh Janggi—pusaran air laut paling dalam di ujung dunia—karena mengira kampung itu telah kosong tanpa manusia dan telah dipuaskan oleh sesajen kurban persembahan tua-tua adat.
Namun tiba-tiba, langkah iblis-iblis itu terhenti di depan pondok Si Keban.
Hidung-hidung busuk arwah itu mengendus udara malam. Tercium oleh mereka asap tembakau, aroma daging bakar, serta bau napas manusia yang menyala-nyala di balik kegelapan.
“Ada kehidupan... Ada darah... Ada manusia yang meremehkan kami...” bisik suara-suara parau nan serak dari luar dinding rumah Keban. Suara itu bukan berasal dari satu tenggorokan, melainkan jeritan beribu-ribu arwah yang bersatu.
Gemetarlah tubuh Si Keban. Tembakau di tangannya jatuh. Dari balik celah dinding bambu, ia melihat pemandangan yang teramat mengerikan. Wajah-wajah pucat dengan mata berdarah dan kulit terkoyak membelalak menatap tepat ke arah celah tempatnya mengintip. Dinding rumahnya mulai digaruk oleh kuku-kuku panjang yang hitam dan membusuk.
Sreeek... Sreeek... Sreeek...
"Pergi! Pergi kalian!" jerit Si Keban ketakutan setengah mati. Namun suaranya yang keras justru semakin melanggar pantang larang boo'.
Bambu rumahnya bergetar hebat. Arwah-arwah antu panyakit yang murka karena dipermainkan tidak lagi mau menerima kompensasi sesajen adat. Mereka menembus dinding-dinding kayu, menjelma menjadi hawa dingin berbau bangkai yang mencekik dada Si Keban. Tangan-tangan hitam tak berwujud memegang lehernya, meniupkan udara busuk pangkorokng tepat ke dalam mulut dan paru-parunya.
Si Keban menjerit-jerit kesakitan. Badannya mendadak panas membara, kulitnya membiru, dan dari mulut serta hidungnya keluar cairan dahak hitam berbau busuk kulit buah yang membusuk. Tubuhnya kejang-kejang di atas lantai kayu, sementara arwah-arwah itu tertawa melengking memecah kesunyian malam yang kelam.
Keesokan harinya, tatkala batas waktu Boo' Pangkorokng telah usai dan warga mulai membuka pintu rumah masing-masing, suasana kampung mendadak gempar. Dari rumah Si Keban, tercium bau busuk yang teramat menyengat.
Tatkala tua-tua adat mendobrak pintunya, mereka menemukan tubuh Si Keban telah membujur kaku dengan wajah terdistorsi dalam ketakutan yang luar biasa. Matanya melotot tajam ke atas, sementara dari mulutnya menetes lendir pangkorokng yang hitam.
Dang Magat, sang tetua adat, menarik napas panjang dengan wajah pucat seraya mengusap dadanya. "Keban telah melanggar pantang boo'. Ia menyalakan api, memakan daging, dan bersuara keras tatkala para arwah melintas. Antu panyakit tidak mau pergi ke Pauh Janggi karena mendapatkan tumbal manusia yang tidak taat."
Si Keban mati secara mengenaskan tepat beberapa hari sebelum alat ketam memotong padi di ladangnya. Ia mati sebagai manusia paling sial di benua itu: mati no' nyacap sumpooh tahutn—mati tanpa sempat mengecap semangkuk nasi baru dari hasil titik peluhnya sendiri.
Jasad Si Keban lalu diusung dan dibuang jauh ke tengah hutan tanpa diberi ritual keagamaan yang layak, menyebabkan arwahnya ikut bergabung menjadi bagian dari antu panyakit yang melayang-layang menunggu musim pangkorokng berikutnya.
Maka semenjak hari yang mengerikan itu, tiada seorang pun warga suku Salako yang berani melanggar sepatah kata pun dalam ritual Boo' Pangkorokng. Tatkala kesunyian boo' melingkupi kampung, seisi benua memilih tunduk dalam ketakutan, membisu dalam kegelapan, demi menyelamatkan nyawa mereka dari cengkeraman arwah-arwah penagih janji yang bersembunyi di balik kabut malam.
Tamatlah hikayat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar