Aroma tanah basah sesudah hujan selalu punya cara unik menyegarkan sudut SMA Negeri 1. Di bawah kanopi koridor kelas XI, Deby Karwangi berdiri sambil merapatkan jaket abu-abunya. Matanya tertuju pada rintik air yang menetes dari ujung atap, sementara jemarinya sibuk memutar-mutar ujung tali tas.
"Kalau ditatap terus, airnya tidak bakal berhenti turun, Deb," sebuah suara berat memecah lamunan Deby.
Deby menoleh dan menemukan Chornelis sudah berdiri di sampingnya, lengkap dengan senyum tipis yang selalu berhasil membuat dadanya berdesir. Chornelis, cowok jangkung dari tim basket sekolah yang terkenal irit bicara, tiba-tiba saja menyodorkan sebuah payung lipat berwarna biru tua.
"Pakai saja. Rumahmu jauh, kan? Nanti dicari ibumu kalau pulang telat," kata Chornelis tenang.
"Terus kamu pulang naik apa? Nanti kamu yang kehujanan," balas Deby ragu-ragu, menatap payung dan wajah Chornelis bergantian.
Chornelis tertawa kecil, suara yang jarang sekali terdengar oleh siswa lain di sekolah ini. "Aku masih ada latihan fisik di aula. Lagipula, anak basket tidak gampang sakit cuma karena kena gerimis."
Deby menerima payung itu, merasakan hangat jemari Chornelis yang sempat bersentuhan dengan kulitnya. Sejak hari itu, payung biru tua itu menjadi alasan bagi serangkaian obrolan kecil di perpustakaan, lambaian tangan di lapangan saat jam istirahat, hingga es krim manis di pinggir jalan seusai jam sekolah.
Bagi Chornelis, Deby Karwangi adalah warna cerah di tengah rutinitas sekolahnya yang serba teratur dan kaku. Kehadiran Deby yang penuh kehangatan selalu sanggup meredam lelahnya. Sementara bagi Deby, Chornelis adalah sosok tenang yang selalu ada untuk mendengarkan setiap cerita sederhananya.
Di penghujung semester, menjelang bel kepulangan terakhir sebelum libur panjang, Chornelis menyelipkan sebuah lipatan kertas kecil di antara halaman buku catatan Deby.
Saat Deby membukanya di dalam angkutan kota, tulisan tangan Chornelis yang rapi terpampang di sana:
Deby, terima kasih sudah jadi alasan terbaikku untuk selalu semangat datang ke sekolah setiap pagi. Payungnya tidak usah dikembalikan, biar ada alasan untuk kita terus jalan pulang bareng semester depan.
Deby tersenyum manis menatap luar jendela angkot yang menyajikan langit sore yang cerah. Di antara riuhnya masa-masa putih abu-abu, ia tahu satu hal: hatinya telah berlabuh pada Chornelis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar