Syahdan, maka tersebutlah perkataan sebuah negeri yang amat makmur lagi sentosa, namanya Negeri Pasir Luhur. Maka di dalam negeri itu ada seorang saudagar yang amat kaya-raya, bernama Ki Demang Wira. Adapun Ki Demang Wira itu, peri tabiatnya terlampau congkak, kikir, lagi tiada menaruh belas kasihan sesama makhluk. Hari-harinya hanyalah dihabiskan untuk mengejar segala macam kenikmatan duniawi, menimbun emas permata, dan menganiaya orang-orang yang lemah di bawah kuasanya. Tiada pernah ia ingat akan hari kemudian, pun tiada ia mengindahkan petuah para ulama dan orang tua-tua.
Hingga pada suatu hari, tatkala malam sedang memuncak dan badai mengamuk dengan hebatnya, datanglah takdir yang tiada dapat dielakkan. Ki Demang Wira dikejutkan oleh kepungan musuh dan para perampok yang hendak mengambil hartanya. Di dalam ketakutan yang teramat sangat, nafsu angkaranya mengalahkan akal sehat. Daripada hartanya jatuh ke tangan orang lain, Ki Demang Wira memilih jalan yang sesat. Ia meminum racun yang amat kuat, lalu matilah ia seketika itu juga dalam keadaan yang mengerikan. Maka matilah ia dalam sebutan mati mendadak yang membawa kutuk, tiada sempat bertobat barang sekejap jua.
Maka semenjak hari kematiannya yang nista itu, roh Ki Demang Wira tiada mendapat tempat yang tenang di alam barzakh. Ia terkatung-katung di perbatasan alam baka, menjadi sejenis roh yang disebut orang tua-tua sebagai Kasasar. Roh Kasasar ini senantiasa dirundung oleh rasa haus dan lapar yang teramat sangat akan kenikmatan duniawi yang dahulu dipujanya. Namun, apatah daya, jasad telah menjadi tanah dan tulang-belulang telah hancur. Roh Kasasar itu tiada lagi memiliki pancaindra untuk mengecap manisnya makanan, kehangatan khamar, maupun kepuasan hawa nafsu.
Maka merataplah roh Kasasar itu di kegelapan malam, menyusuri jalan-jalan sunyi, mencari celah untuk kembali memuaskan nafsunya yang membara. “Wahai, kemanakah hendak kucari wadah untuk melepaskan segala keinginanku?” demikian bisik roh itu, suaranya bagaikan desir angin malam yang mendirikan bulu roma.
Maka berjalanlah roh Kasasar itu menuju ke dalam kota, mencari manusia-manusia yang memiliki jiwa yang lemah, kosong, lagi peka terhadap bisikan gaib. Di sebuah kedai usang, dilihatnyalah seorang pemuda bernama karma. Adapun Karma itu seorang pemuda yang sedang patah hati lagi pula hatinya dipenuhi kedengkian serta kemalasan. Jiwanya kosong, tiada berisi zikir dan amalan kebajikan.
Maka dengan seketika itu juga, roh Kasasar Ki Demang Wira melihat peluang yang amat baik. Bagaikan asap hitam yang menyusup di sela-sela dinding, roh itu pun merasuki ke dalam badan Karma melalui perantara jiwanya yang rapuh. Tatkala roh itu telah sempurna bersemayam di dalam jasad Karma, maka berubahlah serta-merta peri tabiat pemuda itu. Matanya yang dahulu sayu berubah menjadi merah menyala, dan hatinya dipenuhi dengan hawa nafsu yang meluap-luap.
Maka semenjak hari itu, Karma yang telah dirasuki roh Kasasar mula mengumbar nafsu yang telah mencelakakan badan dan rohaninya sendiri. Ia menjadi seorang yang teramat kikir, tiada mau berbagi walau secebis roti. Perangainya berubah menjadi amat buruk, kejam, lagi sadis. Apabila melihat binatang atau manusia yang lemah, timbullah syahwatnya untuk menyiksa dan menganiaya. Segala perbuatan yang mendatangkan kemudaratan dan dosa dipandangnya sebagai suatu kenikmatan. Roh Kasasar di dalam tubuhnya senantiasa mendorong dan membisikkan angkara murka, memanfaatkan jasad Karma yang fana sebagai perantara untuk memuaskan dendam keduniawian yang tiada berujung.
Maka gemparlah seluruh Negeri Pasir Luhur melihat perubahan Karma. Tiada seorang pun yang berani mendekatinya, karena ia telah menjelma menjadi seperti setan yang berjalan di atas bumi. Tubuh Karma kian hari kian susut, wajahnya pucat bagai mayat hidup, sebab batinnya tersiksa oleh pertarungan nafsu yang tiada pernah terpuaskan. Itulah jenis hantu yang haus akan nafsu dan kenikmatan seksual serta kebendaan, yang tiada akan berhenti sebelum jasad inangnya hancur binasa.
Maka tersebutlah pula kisah di seberang kampung, ada seorang pemuda lain bernama Raden Saleh. Adapun Raden Saleh itu ialah seorang yang amat saleh, luhur budi pekertinya, lagi bersih hatinya dari segala rupa kedengkian duniawi. Hari-harinya dihabiskan untuk bertapa, menolong fakir miskin, dan membersihkan jiwanya dari kekotoran dunia.
Mendengar kabar tentang Karma yang telah menjadi gila dan bertabiat kejam karena dirasuki roh Kasasar, maka timbullah rasa iba di dalam hati Raden Saleh. Ia pun berniat untuk menolong pemuda yang malang itu. Dengan bertongkatkan sebatang kayu jati, berdoalah Raden Saleh memohon perlindungan dari Sang Pencipta, lalu berjalannya ia menemui Karma.
Tatkala roh Kasasar yang berada di dalam tubuh Karma melihat kedatangan Raden Saleh, maka marahlah ia dengan teramat sangat. Hawa dingin yang pekat tiba-tiba menyelimuti tempat itu. Roh Kasasar itu mencoba mengerahkan segala dayanya untuk menggoda dan merasuki jiwa Raden Saleh. Ia membisikkan janji-janji kekayaan yang melimpah, wanita-wanita yang rupawan, serta kekuasaan yang tiada tandingnya. Berbagai rupa bayangan gaib yang menakutkan dan menggoda dipertontonkan di hadapan mata Raden Saleh.
Namun, benarlah apa yang tertulis dalam kitab-kitab orang tua purbakala, bahwasanya orang yang hidupnya bersih dan baik, tiada akan mampu diusik oleh jenis hantu yang demikian itu. Segala godaan dan tipu daya roh Kasasar itu mental bagaikan air di atas daun keladi. Jiwa Raden Saleh teramat kukuh, dipagari oleh cahaya kebajikan dan keimanan yang suci. Jangankan untuk merasuki, mendekat pun roh Kasasar itu merasa kepanasan yang amat sangat, bagaikan tersulut api jahanam.
Maka dengan suara yang berwibawa, Raden Saleh berkata, “Wahai roh yang tersesat di jalan angkara! Keluarlah engkau dari jasad pemuda ini. Ketahuilah olehmu, jasad ini bukanlah milikmu, dan nafsu duniawi yang engkau kejar itu hanyalah fatamorgana yang membawa kebinasaan!”
Maka roh Kasasar yang menghuni tubuh Karma itu pun menjerit dengan suara yang teramat dahsyat, menggetarkan dinding-dinding kedai. Ia merasa tersiksa oleh pancaran kesucian dari diri Raden Saleh. Karena tiada tahan menanggung hawa panas dari kebajikan itu, maka keluarlah roh Kasasar itu dari tubuh Karma dalam wujud asap hitam yang pekat, lalu terbang melayang lenyap ke dalam kegelapan malam yang kelam, kembali meratapi nasibnya yang abadi dalam kesengsaraan.
Maka Karma pun jatuh pingsan ke tanah. Tatkala ia terbangun, jiwanya telah kembali bersih, walaupun badannya teramat lemah akibat siksaan roh jahat itu. Ia pun menangis tersedu-sedu, menyesali segala kekosongan jiwanya yang dahulu membiarkan kejahatan masuk. Semenjak hari itu, Karma bertobat dengan tobat yang nasuha, lalu bergurulah ia kepada Raden Saleh untuk mempelajari ilmu kebajikan dan membersihkan batin.
Maka terselamatlah Karma, dan roh Kasasar itu tiada lagi berani mengusik orang-orang di negeri itu, sebab mereka semua telah belajar untuk senantiasa menjaga kebersihan hati dan budi pekerti. Maka tamatlah hikayat roh Kasasar yang membawa pengajaran bagi sekalian orang yang hidup di atas muka bumi ini.
-----------------------------
Tidak ada komentar:
Posting Komentar