Alkisah pada awal mula zaman, tatkala bumi Taino masih muda, Pohon Asam Janggi belum berdiri di tengah pusaran air laut lepas. Pada masa itu, Antu Panyakit (Hantu Penyakit) hidup bebas berkeliaran di atas tanah, tidur di celah-celah pepohonan, dan bersemayam di antara embun pagi. Manusia dan hantu penyakit sering berpapasan di lorong-lorong hutan, hingga tiada batas yang memisahkan alam gaib dan alam nyata.
Namun, timbullah pergesekan tatkala manusia mulai rakus. Tatkala musim buah usai, manusia melemparkan pangkorokng—yakni sampah-sampah kulit buah durian, manggis, dan asam—ke arah celah-celah pohon tempat para hantu beristirahat. Tak hanya itu, ketika padi di ladang mulai masak dan menyebarkan aroma sumpooh (murni nan perawan), manusia memasak nasi baru tanpa mengindahkan keberadaan makhluk lain di Taino.
Terbitlah murka yang teramat sangat dari sekalian arwah dan antu panyakit. Mereka mengutuk racun demam pasak dan selesma ke dalam tumpukan pangkorokng. Barang siapa peladang yang mendekati ladangnya, akan dihantam hawa dingin hingga mamo' (mati) mengenaskan. Kematian sebelum panen itu menjadi momok terkelam, sebab jiwa yang mati mati no' nyacap sumpooh tahutn akan menjadi jiwa yang paling sial di alam semesta.
Melihat bumi Taino dipenuhi ratap tangis, bangkitlah Raja Asam Janggi, sesosok roh raksasa yang bersemayam di akar bumi. Raja Asam Janggi lalu mencabut sebatang pohon kramat dari dasar tanah, lalu menanamnya tepat di tengah lautan lepas yang berpusar dahsyat. Pohon itulah yang kelak dinamai Pohon Asam Janggi di Pauh Janggi.
Raja Asam Janggi kemudian memanggil tetua suku Salako dan Ketua Antu Panyakit untuk bersidang di bawah naungan daun-daun emasnya.
Bersabdalah Raja Asam Janggi dengan suara bagaikan guruh yang membelah lautan:
"Wahai manusia dan wahai sekalian Antu Panyakit! Taino ini diciptakan bukan hanya untuk manusia, dan bukan pula hanya untuk hantu. Segala yang ada bersama kehidupan di Taino memiliki kegunaannya masing-masing dan memiliki HAK yang sama untuk wujud di alam ini! Manusia tidak berhak mengusir atau menolak penyakit sebagai bala, dan hantu pun tidak berhak memusnahkan manusia dari tanah Pabonihan!"
Maka bertanya sang tetua Salako dengan penuh hormat: "Lantas bagaimanakah kami harus hidup berdampingan wahai Penguasa Pauh Janggi?"
Raja Asam Janggi menyerahkan sebuah tabung bambu buluh (tabokng) berisi air murni dan setangkai daun ubi. Ia lalu memeteraikan Perjanjian Taino:
1. Tahta Pauh Janggi: Pohon Asam Janggi di tengah pusaran air lautan dijadikan istana dan kediaman abadi bagi sekalian antu panyakit. Mereka tidak boleh lagi menetap di pemukiman manusia.
2. Ritual Bujukan (Gratifikasi): Manusia wajib memanggil para hantu penyakit kembali ke Pauh Janggi tiap-tiap akhir musim buah sebelum panen padi baru. Cara memanggilnya bukanlah dengan pedang tolak bala, melainkan dengan memberikan kurban persembahan (gratifikasi) sebagai bentuk penyeimbang rasa puas.
3. Malam Penyucian (Boo' Pangkorokng): Selama ritual berlangsung, manusia wajib bertapa dalam rumahnya (boo'). Manusia harus mematikan api, menghentikan masakan berbau maung dan amis, serta membisu dari suara keras. Tatkala kampung menjadi hening bagaikan dasar laut, para antu panyakit akan merasa dihormati, mengambil kurban persembahan, lalu berarak-arak pulang ke Pauh Janggi tanpa menyakiti seorang pun.
Sejak mitos perjanjian itu terukir, suku Dayak Salako memegang teguh pesan Raja Asam Janggi. Tiap-tiap menjelang nurutni' (panen padi baru), seluruh warga kampung mengunci pintu dan menundukkan jiwa dalam keheningan Boo' Pangkorokng.
Tatkala malam boo' tiba, beribu-ribu antu panyakit melayang turun dari tumpukan pangkorokng. Mereka mengelilingi rumah-rumah yang sepi, menikmati persembahan di pelataran, lalu terbang membubung tinggi. Mereka terbang ka sisi langit, ka tampis tanah, ka lautan lepas, hingga sampai ka pusat ai' ka Pauh Janggi.
Di bawah rindangnya Pohon Asam Janggi di tengah laut lepas, para arwah itu tertidur lelap dengan puas, membiarkan para peladang di bumi Salako terbangun besok paginya dengan selamat untuk mengecap gurihnya sumpooh tahutn dalam kedamaian Taino.
Tamatlah mite.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar