Pada zaman dahulu kala, tatkala langit dan bumi masih terhubung oleh dahan pohon Asam Janggi yang agung, belumlah dikenal oleh manusia yang dinamai penyakit dan kematian sebelum panen. Dunia yang ditempati manusia dinamai Taino. Di dalam Taino itu, manusia, tumbuh-tumbuhan, hewan, serta roh-roh halus hidup berdampingan di bawah takdir yang sama: masing-masing memiliki hak dan kegunaannya sendiri dari Sang Pencipta.
Tersebutlah kisah pada suatu masa purba, para manusia di benua Dayak Salako hidup melimpah-ruah. Padi di ladang selalu menguning dan bermekaran. Namun, tatkala musim buah-buahan—seperti durian, langsat, manggis, dan asam—telah usai, manusia menjadi lalai. Mereka membiarkan sampah-sampah kulit buah dan sisa makanan menumpuk membusuk di sekeliling pondok, yang kelak dinamai pangkorokng. Tak hanya itu, tatkala padi di ladang mulai sarat dan berbau wangi perawan (sumpooh), manusia menjadi takabur. Mereka memetik dan menanak nasi baru tanpa mengingat roh-roh leluhur yang telah menjaga tanah Pabonihan.
Maka bersedihlah arwah-arwah leluhur dan roh-roh yang tiada ber-pesta adat. Dari busuknya lendir pangkorokng yang terabaikan, terbitlah entitas magis yang dahsyat: Antu Panyakit (Hantu Penyakit). Hantu-hantu itu mencium aroma gurih padi muda yang bersiap dipanen, lalu terbitlah murka dan rasa cemburu yang amat sangat.
Maka bersabdalah Ketua Antu Panyakit dari kegelapan hutan: "Wahai manusia! Engkau mengecap manisnya buah dan nikmatnya nasi sumpooh tahutn, sedang engkau lemparkan pangkorokng yang busuk kepada kami! Maka demi takdir Taino, kami akan meniupkan demam pasak dan hawa kematian kepada sesiapa saja yang hendak memanen padi, supaya engkau mati sebelum sempat mengecap nasi baru dari hasil kerja kerasmu!"
Maka seketika itu, berjatuhanlah para peladang. Banyak di antara mereka yang mati no' nyacap sumpooh tahutn—gugur mengenaskan tepat sebelum sabit menyentuh batang padi. Kematian sebelum panen itu dipandang sebagai kutukan roh yang paling sial di Taino.
Melihat mara bahaya yang mengancam kepunahan manusia, turunlah Ne' Kabayan—sosok dewi spiritual pelindung padi—menemui para tetua adat dalam bermimpi sakral.
Dalam mimpinya, para tetua menyembah Ne' Kabayan dan memohon: "O, Ne' Kabayan, berikanlah kami mantra atau senjata tolak bala untuk memusnahkan dan mengusir sekalian antu panyakit itu dari Taino ini!"
Namun Ne' Kabayan menggelengkan kepala seraya tersenyum bijak. Suaranya bergema bagaikan guruh di pegunungan:
"Wahai anak cucu manusia Salako, dengarlah olehmu hukum alam Taino yang sejati. Janganlah engkau menjadi manusia yang picik dengan mengadakan ritual 'tolak bala' untuk memusnahkan penyakit. Penyakit bukanlah bala atau musuh yang harus kau benci dan kau perangis. Segala yang ada di Taino ini—termasuk antu panyakit—memiliki kegunaannya masing-masing dan mempunyai hak yang sama untuk ada di alam ini. Manusia tiada berhak menolaknya!"
Para tetua adat pun heran seraya bertanya: "Jikalau kami tiada boleh memusnahkan atau mengusirnya, bagaimanakah kami dapat selamat dari cengkeraman kematian sebelum panen?"
Ne' Kabayan bersabda kembali: "Engkau tiada boleh memusuhinya, melainkan wajib merangkulnya dan membina hubungan baik dengannya. Bujukanlah hati mereka dengan rasa hormat, beri mereka gratifikasi persembahan, dan sucikanlah kampungmu lewat ritual berpantang: Boo' Pangkorokng."
Maka Ne' Kabayan pun mengajarkan syariat mite Boo' Pangkorokng yang kramat:
1. Penyepian Alam: Sebelum panen padi baru (nurutni'), tatkala musim buah usai di akhir Februari, manusia wajib "menghilang" dari tatapan para arwah.
2. Puasa Taino: Manusia wajib berpantang keluar rumah, berpantang menyalakan api, berpantang mandi, berpantang bersuara keras, serta berpantang memakan makanan amis, asam, dan berbau maung.
3. Penyatuan Sunyi: Tatkala kampung menjadi sepi bagaikan kuburan—hanya bersisa suara kokok ayam jantan, anjing menyalak, dan deru burung siang—maka antu panyakit akan mengira kampung itu telah kosong dan tidak ada manusianya lagi.
4. Perjanjian Pemulangan: Dengan sesajen kurban yang disajikan dalam kesheningan boo', hati para hantu akan menjadi tenang dan puas (gratifikasi). Setelah menerima persembahan itu, mereka dengan sukarela akan berpindah dan kembali ke kediamannya di tempat asal-usul roh: ka sisi langit, ka tampis tanah, ka lautan lepas, ka pusat ai' ka Pauh Janggi (ke sisi langit, ke tanah paling dalam, ke laut lepas, dan ke tengah pusaran air pohon Asam Janggi).
Terbangunlah para tetua adat dari mimpinya, lalu disampaikanlah petuah mitologis Ne' Kabayan itu kepada segenap suku Dayak Salako. Maka ditunaikanlah ritual Boo' Pangkorokng pertama dalam sejarah.
Tatkala kesunyian boo' melingkupi benua, antu panyakit yang melayang-layang dari tumpukan pangkorokng tiada lagi melihat kehidupan yang sombong. Mereka melihat kedamaian dan rasa hormat dari manusia yang bersujud dalam kesepian rumah. Setelah memakan keharuman sesajen kurban, sekalian hantu penyakit itu pun menari-nari dengan gembira, lalu terbang membumbung tinggi melintasi langit menuju pusaran air sakral di Pauh Janggi.
Sejak hari mite itu dimeteraikan, bumi Pabonihan kembali terikat dalam keseimbangan. Padi tumbuh subur tanpa gangguan wabah, dan manusia dapat menyantap sumpooh tahutn dengan selamat dan sukacita.
Maka demikianlah asal-usul mite Boo' Pangkorokng, yang mengajarkan suku Dayak Salako hingga hari ini: bahwasanya harmoni alam tiada dicapai dengan memusnahkan apa yang dianggap buruk, melainkan dengan merangkul, menghormati, dan memberi tempat yang adil bagi segenap ciptaan di alam Taino.
Tamatlah mite.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar