Kabut dingin merayap keluar dari rimba Montrado, membawa aroma tanah basah bersatu dengan bau busuk yang menusuk hidung. Aku merapatkan mantel seragamku, meraba gagang senapan dengan jemari yang gemetar. Di depanku, berjejer lima tiang kayu tebal yang ditancapkan ke tanah. Di atas tiang-tiang itulah kepala para pemberontak kongsi yang dipenggal dua minggu lalu dipajang.
Rembulan malam ini tertutup awan hitam. Hutan di belakang kami seolah bernapas, mengeluarkan suara bisikan aneh yang bergesek di antara dedaunan.
"Kau mendengar itu, Willem?" bisik Jantje, prajurit muda yang berjaga di sampingku. Wajahnya pucat pasi, matanya liar menatap kegelapan.
"Hanya angin hutan, Jantje. Jangan penakut," jawabku tegar, walau jantungku sendiri berdegup kencang.
"Bukan... ini bukan angin," suaranya makin gemetar. "Lihat kepala yang di tengah itu!"
Aku menelan ludah, perlahan mengarahkan pandangan ke tiang tengah. Kepala pemberontak itu seharusnya sudah membusuk, tetapi di bawah temaram cahaya obor, bentuknya terlihat aneh. Wajahnya kaku seperti pahatan kayu, dan rambut kuncir di belakangnya melayang-layang kaku ke atas—seolah-olah ada tangan gaib yang sedang menariknya kuat-kuat ke arah langit.
Tiba-tiba, suara tawa melengking yang sangat halus terdengar dari balik semak-semak. Bukan suara manusia, melainkan seperti gesekan benang sutra yang ditarik paksa.
"Willem! Ada orang di sana!" jerit Jantje seraya mengarahkan senapannya.
"Berhenti! Siapa di sana?!" teriakku memecah malam.
Dari kegelapan hutan, perlahan muncul sosok-sosok jangkung berbalut jubah hitam compang-camping. Langkah kaki mereka tak bersuara, mengambang beberapa inci di atas lumpur. Yang membuat darahku membeku adalah wajah-wajah mereka: tak bermata, hanya berupa cetakan kertas tipis dengan mulut melengkung tersenyum lebar.
"Demi Tuhan... apa itu, Willem?!" Jantje terisak ketakutan, tangannya gemetar hebat hingga senapannya terjatuh ke tanah.
"Angkat senapanmu, Jantje! Itu perintah!" teriakku histeris.
Sosok-sosok itu berhenti tepat di bawah tiang-tiang eksekusi. Salah satu dari mereka mengangkat tangannya yang kurus menyerupai ranting kering. Dari jemarinya, terurai helai-helai benang sutra berwarna merah darah yang meluncur naik, melilit leher kepala-kepala yang tertancap di atas tiang.
Tak! Tak! Tak!
Suara kayu patah terdengar nyaring. Kepala-kepala busuk di atas tiang itu terlepas dari pasaknya, melayang di udara yang pekat, ditarik oleh benang-benang sutra gaib tersebut. Tiba-tiba, kepala-kepala itu menoleh serentak ke arah kami. Mata mereka yang telah meredup kini menyala merah, dan mulut mereka yang terbuka mengeluarkan rintihan pilu berbahasa asing yang membakar telinga.
"Kembalikan... kuncir kami... kami ingin masuk surga..." rintihan itu bergema langsung di dalam kepala kami, bukan di udara.
"Pergi! Pergi kalian!" jerit Jantje frustrasi. Tanpa berpikir panjang, ia memungut senapannya dan menembak asal ke arah kerumunan sosok kertas itu.
BOOM!
Kilatan mesiu menerangi malam selama sedetik. Namun peluru timah kami hanya menembus angin. Sosok-sosok itu tak berkutik. Tawa melengking itu kembali terdengar, kali ini makin dekat, tepat di belakang tengkukku.
Bau amis darah tiba-tiba menyeruak tajam. Sebuah bisikan dingin menyapu telingaku.
"Kalian memotong kepala kami... sekarang giliran kepalamu..."
Aku terpaku, tak sanggup menggerakkan satu otot pun. Di depanku, Jantje sudah tergeletak di atas lumpur, matanya melotot kosong menatap langit malam, sementara benang-benang sutra merah perlahan melilit erat di sekeliling lehernya. Sebelum kegelapan total merenggut kesadaranku, aku melihat kepala-kepala kayu berambut sutra melayang mendekat, siap menggantikan posisi kami di atas tiang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar