Malam di rimba Montrado tidak pernah benar-benar tidur. Bau tanah basah yang bercampur dengan bau jelaga sisa pembakaran benteng kongsi masih merayap masuk ke dalam paru-paruku. Aku, Sujang, duduk bersila di atas akar pohon jelutung raksasa. Di pangkuanku, sebilah mandau terhunus kusam. Di permukaannya, ukiran ujang asu meliuk-liuk, menanti saat yang tepat untuk meminum darah.
Orang-orang kulit putih—para serdadu Belanda yang dipimpin 'Kapten Penyerang' Van Houten—mungkin berpikir mereka telah menguasai tanah ini. Mereka memaksa kami membawakan tarian pengayau di Thang untuk menghibur mata mereka. Mereka meniupkan terompet perayaan, membagikan beras, dan merasa telah menundukkan kepala-kepala orang Dayak dengan janji-janji manis tentang ketertiban baru.
Namun, mereka lupa satu hal: bangsa kami tidak pernah lupa pada darah yang tumpah secara licik.
Empat bulan lalu, saat pertikaian antara Kompeni dan kongsi Cina membara, satu rombongan patroli Belanda di bawah pimpinan seorang sersan berhati iblis membumihanguskan perkampungan kami di pinggir hutan. Mereka menuduh kami menyembunyikan para gerilyawan Liau Ngie Liong. Dalam kobaran api itu, adik perempuanku, Dara, tewas diterjang peluru liar mereka.
Kompeni mengira kematian Dara hanya tumbal kecil dalam sebuah ekspedisi militer besar. Bagi mereka, itu hanya efek samping perang. Namun bagi kami, nyawa harus dibayar dengan nyawa.
"Sujang," bisik Nyangau, pamanku yang merayap di antara semak belukar. Tangannya memegang sumpit beracun dari kayu belian. "Rombongan patroli kecil dari Lohabang sudah mendekati simpang tiga. Ada lima serdadu. Sersan yang membakar kampung kita ada di barisan depan."
Darahku mendidih. Dendam yang kusimpan rapi di balik senyum palsu saat menari di hadapan para perwira di Thang kini menuntut untuk dilampiaskan.
"Tunggu sampai mereka melewati pohon asam," bisikku seraya mengoleskan racun ipoh pada mata anak sumpit. "Jangan biarkan ada yang sempat melepas tembakan."
Rombongan prajurit itu berjalan melintasi jalan raya baru yang mereka banggakan—jalan lebar yang dibuat dari keringat dan paksaan rakyat tempatan. Langkah sepatu laras mereka terdengar kencang, memecah kesunyian malam. Mereka tertawa-tawa, merasa aman karena merasa seluruh Montrado telah tunduk di bawah hukum Kompeni.
Mereka tidak tahu bahwa kegelapan hutan di sekeliling mereka dipenuhi oleh mata-mata yang mengintai.
Pfff-t!
Suara desiran halus memecah udara. Anak sumpit Nyangau meluncur mulus, menancap tepat di leher serdadu paling belakang. Prajurit itu bahkan tidak sempat menjerit; racun ipoh yang menjalar kilat membuat tubuhnya kaku seketika dan roboh ke atas tanah lumpur.
Sersan iblis itu mendadak berhenti. "Siapa di sana?!" teriaknya dalam bahasa asing, seraya menarik senapannya dengan panik.
Aku tidak memberinya kesempatan untuk mengokang senjata. Dengan satu lompatan cepat bak burung buas yang menyergap mangsa, aku keluar dari balik semak-semak. Mandauku berkilat tertimpa cahaya bulan.
Cras!
Lengan sang sersan yang memegang senapan putus sebelum ia sempat menarik pelatuk. Ia menjerit histeris, jatuh berlutut di atas tanah yang baru dibersihkan oleh pasukannya sendiri. Dua serdadu lainnya mencoba membidikku, namun anak-anak sumpit dari kegelapan hutan telah lebih dulu menembus dada mereka.
Hutan kembali hening. Hanya ada deru napas berat sang sersan yang mengerang dalam kesakitan, memegang pangkal lengannya yang bersimbah darah.
Aku melangkah mendekat, berdiri tegap di hadapannya. Kutatap matanya yang kini dipenuhi ketakutan yang teramat sangat—ketakutan yang sama dengan yang dilihat adiku sebelum rumah kami terbakar.
"Si... siapa kau...?" ratap sang sersan dengan bibir gemetar.
Aku berlutut di sampingnya, mencengkeram kerah seragam birunya yang ternoda darah. Kuselipkan ukiran burung enggang kecil milik Dara ke dalam genggamannya yang dingin.
"Aku adalah tanah yang kau bakar," bisikku pelan di telinganya dalam bahasa Melayu. "Aku adalah dendam yang kau tanam di Montrado."
Mata sang sersan membelalak lebar saat menyadari siapa aku. Sebelum ia sempat memohon ampun, mengayunlah mandauku dalam kegelapan malam, menuntaskan janji darah yang telah lama tertunda.
Saat fajar menyingsing di Ujung Singkawang, aku berdiri di puncak bukit Kulor, memandangi asap tipis yang membumbung dari kota Montrado. Kompeni mungkin bisa membangun jalan raya, mendirikan benteng, dan membuat hukum di atas kertas. Namun, selama mereka berdiri di atas tanah yang dibasahi darah ketidakadilan, hutan ini akan selalu menyimpan mata-mata yang siap menagih hutang nyawa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar