Syahdan, maka tersebutlah perkataan sebuah negeri yang amat besar lagi ramai, bernama Negeri Pasir Karang. Adapun negeri itu terbagi atas dua rupa kehidupan; pada siang hari ia dipenuhi oleh para pedagang yang hilir mudik mencari rezeki, namun tatkala malam telah melabuhkan tirainya, maka sepi pulalah jalan-jalan kota, menyisakan kegelapan yang pekat pada sudut-sudut jalanan yang tiada berlampu.
Maka pada zaman itu, gemparlah sekalian penduduk kota oleh sebuah cerita gaib. Konon di jalan-jalan kota yang sunyi, tatkala jam telah melewati tengah malam, sering kali terlihat sesosok makhluk aneh yang berjalan menggelandang bagaikan orang yang kehilangan arah. Orang tua-tua menyebut makhluk itu dengan nama Hantu Kopek, sebab peri wujudnya terlampau ganjil, memiliki payudara yang amat besar lagi panjang menjuntai hingga hampir menyentuh bumi.
Adapun Hantu Kopek itu hobinya merangkak perlahan menyusuri aspal dan bebatuan, bergerak lambat bagaikan gelandangan di dunia manusia yang tiada bermata pencarian. Sungguhpun rupa makhluk itu amat menakutkan bagi mata yang memandang, namun tiada pernah ia mengganggu atau menggoda para musafir yang kebetulan lalu-lalang di malam hari. Jalannya yang cuma merangkak itu membatasi geraknya, sehingga ia senantiasa terlihat linglung, berjalan tanpa tujuan yang pasti, bagaikan makhluk yang kurang cerdas batinnya.
Alkisah, pada suatu malam yang kelam, ada seorang pemuda bernama indra. Adapun Indra ini terlampau gemar menuntut ilmu-ilmu hitam yang sesat, demi mengejar kesaktian yang semu di atas muka bumi. Ia tiada mengindahkan petuah para alim ulama, melainkan senantiasa mencari tempat-tempat gaib yang memiliki dimensi berbeda guna melakukan ritual pemujaan.
Maka pada malam itu, bertemulah Indra dengan seorang dukun tua yang amat keji perangainya di batas kota. Berkata sang dukun, “Wahai anakku Indra, jikalau engkau benar-benar haus akan kekuatan yang tiada tandingnya, pergilah engkau mencari tempat-tempat yang pernah disinggahi oleh Hantu Kopek. Sebab makhluk itu tiada sembarangan diam; ia hanya akan berdiam diri di pojok-pojok jalan yang minim lampu, atau di bawah jembatan yang sepi sambil menatap riak-riak air sungai di malam hari. Tempat yang disinggahinya itu pastilah memiliki dimensi yang berbeda dan menyimpan energi spiritual yang amat besar.”
Mendengar petuah yang demikian, maka bertambahlah girang hati Indra. Tiada ia berpikir panjang akan mudaratnya. Maka berjalanlah ia menyusuri sungai-sungai tua dan kolong jembatan yang gelap di pinggiran kota Negeri Pasir Karang. Setelah lama ia mencari, maka dilihatnyalah dari kejauhan sesosok makhluk sedang duduk termenung di pojok jembatan yang kelam, di bawah temaramnya sinar bulan yang tertutup awan. Benarlah adanya, makhluk itu adalah Hantu Kopek yang sedang linglung menatap air.
Tatkala makhluk itu merangkak pergi meninggalkan tempat tersebut dengan gerakannya yang lambat, segera pula Indra berlari menuju spot atau area bekas dudukan sang hantu. Hatinya dipenuhi rasa jemawa. Tanpa membuang tempo, Indra segera mengambil posisi bersila, lalu mulailah ia bermeditasi dan melakukan ritual gaib dengan membaca mantera-mantera gelap untuk menyerap energi yang tertinggal di tempat itu. Ia menyangka bahwa energi spiritual yang besar di tempat tersebut akan menambah kesaktian ilmu hitamnya menjadi berlipat ganda.
Maka pada saat yang bersamaan, lewatlah seorang pengembara yang arif lagi bijaksana bernama Tuan wali. Adapun Tuan Wali itu dikaruniai oleh Sang Pencipta mata batin yang amat bersih lagi suci, sehingga ia dapat melihat segala rupa aura gaib yang tiada tampak oleh mata manusia biasa. Tatkala Tuan Wali melihat Indra sedang duduk bermeditasi di tempat bekas Hantu Kopek itu, maka terkejutlah ia.
Dengan mata batinnya yang bersih, Tuan Wali melihat dengan jelas bahwasanya tempat yang disinggahi Hantu Kopek itu sebetulnya memancarkan aura yang teramat buruk. Benar tempat itu nyaman bagi sang hantu karena dimensinya yang berbeda, namun kenyamanan itu berasal dari kepekatan energi negatif yang kotor. Apalagi tempat itu telah dipakai bertopang oleh makhluk semacam Hantu Kopek, maka sisa auranya berubah menjadi racun spiritual yang amat merusak jiwa manusia.
Maka segeralah Tuan Wali mendekati Indra, lalu ditepuknya bahu pemuda itu seraya berkata dengan suara yang lemah lembut namun tegas, “Wahai anak muda yang sedang terpedaya! Hentikanlah ritualmu yang sesat ini, dan bangkitlah engkau dari tempat yang nista ini.”
Indra pun terkejut lalu membuka matanya dengan amarah yang meluap, “Mengapa engkau berani mengganggu meditasiku, wahai orang tua? Aku sedang menyerap energi spiritual yang besar dari tempat ini demi menambah kesaktianku!”
Maka tersenyum berwibawa Tuan Wali seraya menggelengkan kepalanya, “Wahai Indra, ketahuilah olehmu, jangan sekali-kali engkau meniru perbuatan memuja energi di tempat yang demikian. Sungguh, aura buruk yang muncul di daerah bekas makhluk ini ternyata memberikan energi yang amat buruk pula bagi batinmu. Tiada ada manfaat sedikit pun yang dibawanya bagi manusia, melainkan hanyalah kegelapan yang akan merusak kesucian jiwamu dan menjerumuskanmu ke dalam kesengsaraan yang abadi.”
Mendengar penjelasan dari Tuan Wali yang disampaikan dengan pancaran ketulusan, maka bergetarlah hati Indra. Perlahan-lahan ia merasakan dadanya menjadi teramat sesak dan kepalanya pusing bagai dipukul gada, akibat energi buruk yang sempat diserapnya tadi. Barulah ia sadar akan kebenaran kata-kata Tuan Wali. Ia pun segera berdiri dan memohon ampun atas kelalaian hatinya yang telah memuja tempat-tempat kotor demi kesaktian duniawi.
Maka sejak hari itu, Indra bertobat dan meninggalkan segala ilmu gelapnya. Ia pun ikut mengembara bersama Tuan Wali untuk membersihkan hatinya. Sementara itu, Hantu Kopek tetaplah merangkak linglung di sudut-sudut malam Negeri Pasir Karang, menjadi tanda bagi sekalian manusia agar senantiasa menjauhi tempat-tempat gelap yang membawa aura buruk bagi kehidupan. Maka tamatlah hikayat ini dengan membawa kebaikan bagi mereka yang mau berpikir.
------------------------------
Tidak ada komentar:
Posting Komentar