Minggu, 20 September 2026

Cerpen Racun di Ujung Lidah.

Di Kampung Suka Maju, kabar tak pernah berjalan merambat seperti sulur ubi. Ia terbang secepat burung sriti dan mematuk siapa saja yang lengah. Namun, dari sekian banyak lidah yang gemar bersilat kata, lidah kepunyaan Bahrul-lah yang paling tajam. Bahrul tidak butuh parang untuk melukai orang; ia hanya butuh sebait bisikan yang dibungkus kepura-puraan.

Siang itu, matahari menggantung persis di atas balai desa. Udara gerah menyengat, persis seperti suasana di kedai kopi Pak Jali. Di sana, Bahrul duduk bersandar sambil menyeruput kopi hitamnya. Di sudut lain, tampak Darsa—seorang petani bersahaja yang baru saja menyelesaikan pembagian batas tanah warisan dengan sepupunya, Samad.

Bahrul memperhatikan Darsa yang sedang menghitung beberapa lembar uang kertas di mejanya. Sebuah pemikiran licik mendadak melintas di kepala Bahrul. Entah karena dengki melihat hubungan Darsa dan Samad yang mendadak rukun, atau sekadar haus akan drama yang bisa meramaikan harinya, Bahrul memajukan kursinya mendekati Darsa.

"Darsa," bisik Bahrul dengan raut wajah berkerut, seolah membawa beban dunia. "Aku sebenarnya tak mau ikut campur. Tapi sebagai tetangga yang baik, hatiku tidak tenang melihatmu dibodohi."

Darsa mendongak, alisnya bertaut. "Ada apa, Bahrul? Dibodohi bagaimana?"

"Soal tanah batas timur itu," Bahrul makin merapatkan badannya, mengecilkan suara agar terdengar makin rahasia. "Kemarin malam, aku mendengar Samad berbicara dengan tengkulak dari kota di balik rumpun bambu. Katanya, patok kayu yang kalian tanam kemarin lusa sudah digeser dua meter ke arah tanahmu. Samad tertawa-tawa, bilang kamu itu lugu dan mudah diakali."

Darah Darsa langsung mendidih. "Kau serius, Bahrul? Samad saudaraku sendiri!"

"Untuk apa aku berbohong?" Bahrul menepuk dada, memasang wajah selurus-lurusnya. "Aku kasihan padamu. Tapi tolong, jangan bilang aku yang memberitahumu. Aku hanya ingin kau waspada."

Tanpa melakukan konfirmasi, api cemburu dan sakit hati sudah membakar dada Darsa. Ia tidak tahu bahwa malam yang dimaksud Bahrul, Samad sedang menginap di rumah mertuanya di desa tetangga. Darsa yang tersulut emosi langsung bangkit, meninggalkan kedai kopi tanpa menghabiskan minumannya, melangkah lebar menuju rumah Samad dengan parang terselip di pinggang.

Tak butuh waktu lama, kekacauan pecah di ujung kampung. Darsa berteriak-teriak di depan halaman Samad, memaki-maki saudara kandungnya sendiri sebagai penipu dan pengkhianat. Samad, yang tidak tahu apa-apa dan merasa tuduhan itu sangat tidak berdasar, merasa terhina. Percekcokan mulut berganti menjadi saling dorong, hingga akhirnya parang terhunus dan warga berhamburan melerai. Samad menderita luka sabetan di lengannya, sementara pagar rumahnya hancur berantakan. Kampung yang semula tenang mendadak mencekam dan terpecah menjadi dua kubu yang saling curiga.

Kekacauan itu meluas hingga mengganggu ketenteraman seluruh desa. Pasokan air ke sawah terhenti karena warga dari dua pihak saling memblokir selokan. Kepala Desa beserta Para Tetua Adat tidak bisa tinggal diam melihat kerukunan warga yang porak-poranda hanya dalam semalam.

Hari ketiga setelah keributan, Balai Adat dipenuhi warga. Udara terasa berat oleh ketegangan. Darsa dan Samad duduk berhadapan dengan perban di lengan Samad, mata mereka masih memancarkan kemarahan. Tetua Adat, seorang pria tua bertubuh tegap dengan tatapan mata yang bijaksana, memimpin sidang.

"Sebutkan alasanmu menyerang saudaramu sendiri, Darsa!" tegas Tetua Adat.

Dengan suara bergetar karena emosi, Darsa menceritakan semua yang didengarnya dari Bahrul tentang patok tanah dan pembicaraan rahasia dengan tengkulak.

Tetua Adat kemudian memanggil saksi-saksi, termasuk mertua Samad dan tengkulak yang dimaksud. Fakta membuktikan bahwa pada malam tersebut Samad tidak ada di kampung, dan patok tanah tidak pernah bergeser sedikit pun. Darsa terpaku, wajahnya pucat pasi. Ia sadar telah diperdaya.

Pandangan tajam Tetua Adat kini tertuju pada Bahrul yang duduk mengkeret di sudut ruangan, mencoba bersembunyi di balik bahu warga lain.

"Bahrul, maju ke depan!" seru Tetua Adat.

Dengan kaki gemetar, Bahrul melangkah ke tengah ruang balai. Wajah sok tahunya hilang berganti ketakutan yang amat sangat.

"Apakah kau melihat sendiri Samad berunding dengan tengkulak malam itu?" tanya Tetua Adat dengan suara berat yang menggelegar.

"S-saya... saya hanya mendengar samar-samar, Paman... mungkin saya salah dengar..." Bahrul gagap, pelak peluh dingin membasahi dahinya.

"Salah dengar atau sengaja mereka-reka cerita?" potong Tetua Adat dingin. "Perbuatanmu bukan sekadar salah ucap. Kau telah menyebarkan berita bohong, mengadu domba dua saudara yang saling menyayangi, dan menimbulkan kekacauan besar yang merusak kedamaian seluruh kampung kita!"

Tetua Adat berdiri, meraih tongkat kayu ukirnya, dan mengetukkannya ke lantai tiga kali. Suara ketukan itu menggema, menuntut kesunyian mutlak dari seluruh warga yang hadir.

"Tindakan jahat ini dalam hukum adat kita dinamakan Capar Molot—mulut licik yang memuntahkan kebohongan dan mengadu domba sesama," ujar Tetua Adat lantang. "Sejak zaman leluhur, adat kita tidak pernah memberi ampun bagi siapapun yang memelihara lidah bercabang dan merusak ketenteraman masyarakat."

Bahrul menunduk dalam-dalam, tak berani menatap mata para tetua maupun tetangganya yang kini memandangnya dengan rasa jijik dan marah.

"Sesuai dengan hukum adat yang berlaku untuk pelanggaran Capar Molot," lanjut Tetua Adat, "siapa saja yang menyebarkan berita bohong yang bersifat mengadu domba atau mengakibatkan kekacauan akibat berita tidak benar tersebut, akan dijatuhi hukuman berat."

Tetua Adat mengarahkan tongkatnya tepat ke dada Bahrul. "Atas kejahatan Capar Molot yang kau lakukan, Bahrul, engkau diancam dan dijatuhi hukuman ganti rugi sebesar 3½ tahil atau setara dengan sebuah siam limus/racen!"

Suasana balai adat langsung riuh oleh bisik-bisik warga. Hukuman itu sangat berat. Denda 3½ tahil emas atau satu siam limus—tempayan kuno bernilai tinggi—bukanlah perkara kecil. Denda tersebut bukan hanya menguras harta benda yang dimiliki Bahrul hingga ia tak menyisakan apa-apa, tetapi juga menjadi tanda keaiban yang akan melekat pada namanya seumur hidup.

"Denda ini," tegas Tetua Adat lagi, "sebagian akan digunakan untuk membiayai pengobatan Samad dan memulihkan kerusakan, dan sisanya diserahkan kepada kas adat sebagai pembersih kampung dari racun kebohonganmu. Jika kau tidak mampu membayarnya hari ini, harta bendamu akan disita oleh lembaga adat!"

Bahrul jatuh berlutut di lantai kayu balai adat. Air matanya menetes, menyesali lidahnya yang tak bertulang. Hanya demi kepuasan sesaat melihat orang lain berselisih, kini ia harus kehilangan harta benda, kehormatan, dan kepercayaan dari orang-orang di kampungnya.

Darsa memandang Bahrul dengan rasa kasihan berbaur kecewa, lalu beralih menatap Samad. Kedua saudara itu akhirnya saling berjabat tangan dan berpelukan, menyadari bahwa mereka nyaris saling membunuh hanya karena termakan racun dari lidah seorang pembohong.

Sejak hari itu, kisah tentang Bahrul dan hukuman Capar Molot menjadi pelajaran yang amat berharga bagi seluruh warga. Tak ada lagi yang berani menyebar bisikan tanpa bukti, karena mereka tahu, di kampung itu, lidah yang gemar mengadu domba akan dibayar mahal dengan kebinasaan diri sendiri.

Tidak ada komentar:

Mite Rahasia Pohon Asam Janggi dan Penjaga Taino

Alkisah pada awal mula zaman, tatkala bumi Taino masih muda, Pohon Asam Janggi belum berdiri di tengah pusaran air laut lepas. Pada masa itu...