Minggu, 20 September 2026

Cerpen Deru Senjata di Tanah Monterado

Kabut tipis beraroma tanah basah menyelimuti pedalaman Kalimantan Barat. Di daerah Montrado dan Buduk, suasana yang semula damai kini berubah menjadi mencekam. Waktu itu menunjukkan tahun 1770. Ribuan orang Cina perkongsian yang telah lama menetap untuk menambang emas mulai menaruh rasa tidak puas yang teramat sangat. Dada mereka bergolak, menolak untuk tunduk dan mematuhi perintah dari Kepala-Kepala Suku Daya yang memimpin wilayah tersebut atas nama Sultan Sambas.

"Kita yang memeras keringat di lubang galian, mengapa harus mereka yang mengatur tanah ini?" bisik sersan perkongsian di bawah temaram obor.

Ketidakpuasan itu membakar keberanian mereka hingga meluap menjadi pemberontakan terbuka. Peperangan dahsyat pecah di Montrado dan Buduk. Jerit tangis dan dentum senjata laras panjang membelah kesunyian hutan pedalaman. Dalam pergolakan yang berdarah itu, dua orang Kepala Suku Daya yang setia kepada kesultanan dibunuh dengan kejam oleh orang-orang Cina perkongsian. Kematian para pemimpin suku ini menyulut api kemarahan yang luar biasa. Dengan genderang perang yang bertalu-talu, orang-orang Daya menuntut balas. Perang besar pun berkobar di beberapa daerah, mengubah aliran sungai menjadi merah.

Melihat situasi yang kian tak terkendali, Sultan Sambas akhirnya turun tangan untuk meredam pertumpahan darah. Melalui sebuah keputusan besar, Sultan menetapkan bahwa orang-orang Cina di daerah-daerah tersebut harus tunduk di bawah kekuasaan Sultan sepenuhnya. Sebagai gantinya, Cina perkongsian diwajibkan membayar upeti setiap bulan—bukan lagi setiap tahun sebagaimana yang sudah-sudah. Namun, Sultan juga memberikan kebebasan kepada pihak perkongsian untuk mengatur daerah otonom mereka sendiri.

Keputusan ini menjadi pedang bermata dua. Kebebasan itu praktis membuat wewenang perkongsian Cina menjadi sangat mutlak di Montrado dan Buduk. Sebaliknya, orang-orang Suku Daya yang berada di bawah wewenang mereka perlahan-lahan mulai terdesak. Mereka terpaksa mundur, meninggalkan tanah leluhur, dan berpindah semakin jauh ke daerah pedalaman yang sunyi.

------------------------------

Waktu terus bergulir, hingga dua puluh lima tahun berlalu. Emas yang terkandung di dalam perut bumi Kalimantan Barat semakin memikat hati, namun sekaligus menumbuhkan ketamakan yang baru. Pada tahun 1795, perselisihan tidak lagi datang dari luar, melainkan berkobar di antara sesama perkongsian Cina sendiri.

Dua kubu besar kini berhadapan: Tai-Kong Kongsi yang berpusat di Montrado, dan Sin-Ta-Kiu Kongsi yang berpusat di Sambas. Pemicu pertempuran ini adalah perebutan wilayah penggalian emas di daerah Sungai Raya (yang kini dikenal sebagai Kecamatan Sungai Raya). Daerah kekuasaan Tai-Kong Kongsi yang sangat luas dan kaya ternyata menyimpan cadangan emas yang luar biasa besar, memicu kecemburuan dan gesekan batas wilayah.

Pertempuran hebat antar-sesama kongsi Cina pun pecah dengan skala yang besar-besaran. Dentuman meriam kuno dan senapan memenuhi lembah Sungai Raya. Namun, Tai-Kong Kongsi terbukti memiliki organisasi yang jauh lebih rapi dan persenjataan yang sangat kuat. Pasukan Sin-Ta-Kiu Kongsi terdesak hebat, kocar-kacir menahan gempuran demi gempuran, hingga akhirnya mereka terpaksa mengaku kalah.

Dalam keadaan yang terdesak dan terhina, pihak Sin-Ta-Kiu yang sebagian besar merupakan orang-orang suku Hokian tidak tinggal diam. Mereka mengirim utusan rahasia menghadap Sultan Sambas. Di hadapan sang penguasa, perwakilan Sin-Ta-Kiu bersujud, meminta bantuan militer kepada Sultan Sambas serta rakyat Sarbas. Demi meyakinkan Sultan, mereka mengikat janji suci dan bersumpah dengan lantang: "Setia dan tidak akan mendurhakai Sultan dan Rakyat Sambas!"

Mendengar sumpah setia tersebut, Sultan Sambas melihat sebuah kesempatan untuk mengembalikan wibawa kesultanan yang sempat terkikis di wilayah tambang. Sultan segera mengumpulkan pasukan terbaiknya. Rakyat Sambas berduyun-duyun menyambut seruan perang, bergabung bersama sisa-sisa pasukan Sin-Ta-Kiu yang haus akan pembalasan.

------------------------------

Tahun 1796, serangan balasan berskala penuh diluncurkan. Pasukan gabungan Sultan Sambas dan Sin-Ta-Kiu bergerak bagaikan gelombang pasang, menyerbu wilayah kekuasaan Tai-Kong Kongsi. Pertempuran kali ini berjalan jauh lebih sengit dan brutal. Setiap jengkal tanah Monterado dipertahankan mati-matian dengan tetesan darah.

Di barisan paling depan pasukan Sultan, berdiri seorang pria gagah berani dengan pakaian kebesaran prajurit Sambas. Beliau adalah Tengku Samboti, seorang Panglima Sultan yang terkenal berhati baja dan tidak kenal takut. Dengan pedang terhunus, Tengku Samboti memimpin pasukannya menerobos hujan peluru, membakar barikade-barikade pertahanan musuh, dan mendesak pasukan Tai-Kong Kongsi hingga terpojok ke benteng pertahanan terakhir mereka di Monterado.

"Maju! Demi Sultan dan tanah Sambas, jangan biarkan mereka menginjak-injak harga diri kita!" teriak Tengku Samboti, suaranya menggelegar mengatasi riuh rendah jalannya pertempuran.

Benteng terakhir Tai-Kong Kongsi dikepung dengan rapat. Pasukan gabungan menyerbu dari segala penjuru. Namun, pertahanan benteng itu teramat kokoh. Dalam sebuah kepungan yang kritis saat mencoba mendobrak gerbang benteng, sebuah peluru nyasar mengenai dada sang panglima. Tengku Samboti roboh di atas tanah Monterado yang berdebu. Sang Panglima gugur sebagai pahlawan, mengembuskan napas terakhirnya tepat di tengah medan laga yang sedang membara.

Gugurnya Tengku Samboti tidak membuat nyali pasukan surut, melainkan justru membakar amarah rakyat Sambas menjadi berlipat ganda. Dengan semangat membara untuk membalaskan kematian sang panglima, gerbang benteng akhirnya berhasil dijebol. Pasukan Tai-Kong Kongsi yang sudah kehabisan daya akhirnya mengaku kalah, takluk, dan menyerahkan diri sepenuhnya setelah Monterado berhasil diduduki total pada tahun 1796 itu.

Peperangan panjang yang melelahkan itu akhirnya usai. Guna menghormati jasa dan pengorbanan sang panglima yang gugur di benteng terakhir, seluruh rakyat Sambas mengabadikan peristiwa berdarah dari tahun 1795 sampai 1796 tersebut dengan sebuah nama yang akan terus dikenang oleh anak cucu mereka: "Perang Tengku Samboti". Sebuah perang tentang perebutan emas, harga diri, dan sumpah setia di tanah Kalimantan.

------------------------------


Tidak ada komentar:

Hikayat Sang Tukang Barayopm dan Jemari Pemikat Rimba

Syahdan maka tersebutlah suatu penceritaan kuno dari tanah Bantang Salako, sebuah petempatan tua yang dilingkungi belantara ulin nan megah l...