Alkisah maka tersebutlah perkataan sebuah negeri yang amat elok parasnya di tanah Borneo, bernama Kota Lama. Adapun pada zaman dahulu kala, tatkala tataran tanah Jawa masih dinaungi panji-panji Majapahit yang mahamulia, berdirilah Kerajaan Sambas. Syahdan, adalah seorang hulubalang perkasa lagi arif bijaksana, Baginda Ratu Sepudak namanya. Baginda merupakan salah seorang daripada tujuh perwira agung Majapahit yang berlayar menyeberangi samudra luas hingga sampai ke tanah Sambas, lalu bertakhta di sana dengan memeluk agama Hindu.
Hatta beberapa lamanya Baginda Ratu Sepudak bertakhta dengan adil dan saksama, maka dengan takdir Allah Subhana Wa Ta’ala, tibalah sebuah bahtera megah dari Tanah Berunai. Adalah bahtera itu dipimpin oleh seorang raja muda yang amat budiman, bertatahkan budi pekerti yang luhur serta paras yang rupawan, bergelar Raja Tengah. Baginda Raja Tengah telah memeluk agama Islam yang suci dan berlayar bersama sanak keluarga serta para pengikutnya yang setia.
Maka tatkala Raja Tengah beserta rombongan menginjakkan kaki di pertiwi Kota Lama, disambutlah mereka dengan penuh karunia oleh Ratu Sepudak. Kalakian, melihat akan tingkah laku, tutur kata yang manis, serta budi bahasa Raja Tengah yang amat santun, tergeraklah hati Ratu Sepudak. Kasih dan kagum meliputi sanubari sang raja tatkala menyaksikan indahnya akhlak yang dipancarkan oleh ajaran Islam melalui gerak-gerik Raja Tengah. Maka tiada berapa lama antaranya, dengan hidayah Tuhan Yang Maha Esa, Ratu Sepudak beserta seluruh pembesar, menteri, hulubalang, dan rakyat jelata Kerajaan Sambas pun bersatu hati menguakkan kegelapan lalu memeluk agama Islam.
Syahdan, sebelum Baginda Raja Tengah sampai di Kota Lama, telah lebih dahulu baginda singgah di Negeri Tanjung Pura, Sukadana, yang tatkala itu dipertuan oleh Giri Kesuma. Di sanalah Raja Tengah mempersunting seorang putri yang cantik jelita, Ratu Surya namanya. Maka daripada perkawinan yang dipenuhi rasa cinta dan kebahagiaan itulah lahir seorang anak laki-laki yang elok parasnya, diberi nama Raden Sulaiman. Raden Sulaiman tumbuh menjadi seorang pemuda yang gagah berani, cerdas, serta amat dikasihi oleh segenap rakyat jelata.
Hatta beberapa jalan masa berlalu, maka dengan takdir Tuhan Yang Maha Kuasa, berpulanglah Ratu Sepudak ke rahmatullah. Maka mengikut adat istiadat yang terpakai di Tanah Borneo pada zaman purbakala, takhta kerajaan tiadalah dipilih oleh rakyat, melainkan turun-temurun mengikut garis keturunan dan persepakatan para menteri serta kerabat di dalam istana. Maka diangkatlah keponakan Ratu Sepudak yang bernama Pangeran Perabu Kencana naik takhta menduduki singgasana Sambas di Kota Lama, dengan gelar Ratu Anom Kesuma Yuda.
Adapun baginda Ratu Anom Kesuma Yuda lalu melantik saudaranya, Pangeran Aria Mangkurat, menjadi Patih Kerajaan. Sedangkan Raden Sulaiman, anakanda Raja Tengah yang amat bijaksana itu, diangkat menjadi Wazir Kedua untuk membantu pemerintahan.
Alkisah, pada suatu masa, Baginda Ratu Anom Kesuma Yuda hendak berangkat berlayar melintasi lautan menuju Negeri Johor. Tujuan baginda tiada lain adalah untuk menyerahkan upeti tahunan sebagaimana lazimnya adat perhubungan antarnegeri pada zaman itu. Maka diiringi oleh berton-ton perkakas dan beberapa buah perahu pencalang yang sarat dengan alat persenjataan lengkap, berangkatlah sang raja melaut.
Sepeninggal Ratu Anom Kesuma Yuda berlayar ke tanah Johor, maka istana Kota Lama pun diliputi awan hitam pertikaian. Pangeran Aria Mangkurat rupanya menyimpan rasa dengki dan dengki yang amat sangat di dalam dadanya. Ia tidak dapat menahan rasa iri tatkala melihat betapa Raden Sulaiman amat dijunjung, dikasihi, dan dihormati oleh segenap lapisan rakyat Sambas. Maka Pangeran Aria Mangkurat pun senantiasa mencari jalan dan akal jahat untuk menjatuhkan Raden Sulaiman.
Syahdan, beberapa bulannya Ratu Anom Kesuma Yuda di perantauan, tibalah seputik surat kiriman baginda dari lautan. Maka dibacalah surat tersebut oleh Raden Sulaiman dan Pangeran Aria Mangkurat. Warta di dalam surat itu menyebutkan:
"Bahwasanya Kami akan segera kembali ke tanah air pada saat bulan purnama raya tiba di Kuala Muara Sungai Sambas Besar. Maka hendaklah segala menteri dan rakyat bersiap sedia menyambut kedatangan Kami dengan segala upacara kebesaran diraja."
Mendengar peritah tersebut, Raden Sulaiman dengan hati yang suci penuh kebhaktian segera bergegas menemui Kiyai Setia Bakti. Bersama-sama, mereka berdua bekerja siang dan malam mengatur segala persiapan, menghias muara, serta menyiapkan perahu-perahu pengiring untuk menyambut junjungan mereka. Sebaliknya, Pangeran Aria Mangkurat dengan angkuh dan sombongnya memalingkan muka, sedikit pun tiada mau mengindahkan atau membantu persiapan tersebut.
Kalakian, tatkala malam bulan purnama raya memancarkan cahayanya yang keemasan di atas permukaan air, Raden Sulaiman bersama Kiyai Setia Bakti telah bersiap di muara Sungai Sambas Besar. Dari jauh, sayup-sayup mata memandang, tampaklah ratusan layar putih milik armada Ratu Anom Kesuma Yuda membentang megah membelah gelombang. Maka Raden Sulaiman pun segera meluncurkan perahu-perahunya, menyongsong baginda dengan sorak-sorai gembira, diiringi bunyi-bunyian gamelan dan genderang yang bergema memenuhi angkasa. Baginda Ratu Anom pun diarak masuk menuju istana dengan segala kemuliaan dan kebesaran raja.
Namun, tatkala perayaan yang megah itu berlangsung di dalam istana, Pangeran Aria Mangkurat tiada muncul memunculkan diri. Hatinya kian terbakar oleh hawa nafsu dan sifat iri dengki melihat pesta penyambutan Raden Sulaiman yang amat gilang-gemilang itu. Dalam amarah yang tiada tertahan lagi, Pangeran Aria Mangkurat lalu mencabut kerisnya dan membunuh Kiyai Setia Bakti, hamba yang setia itu, tanpa rasa kemanusiaan.
Mendengar kematian Kiyai Setia Bakti, Raden Sulaiman amat berduka cita. Ia segera menghadap Ratu Anom Kesuma Yuda untuk memohon keadilan. Namun aduhai, sang raja tiada memberikan tindakan apa pun jua terhadap Pangeran Aria Mangkurat. Maka suasana di istana Kota Lama menjadi amat keruh, tegang, dan penuh dendam, bagaikan retak menunggu belah.
Melihat perselisihan yang kian meruncing dan ancaman perang saudara yang dapat menumpahkan darah rakyat yang tiada berdosa, Raden Sulaiman pun mengambil keputusan yang bijaksana. Katanya di dalam hati, "Tiada guna berbalah sesama saudara yang hanya akan merusakkan negeri." Maka Raden Sulaiman bersama istrinya, Puteri Mas Ayu Bungsu (putri dari Ratu Sepudak), menghadap Ratu Anom Kesuma Yuda untuk memohon izin mengundurkan diri.
Dengan hati yang berat, Raden Sulaiman memboyong keluarganya keluar daripada Kota Lama. Mereka berjalan menelusuri rimba dan sungai hingga sampai ke suatu tempat bernama Bandir. Di sanalah Raden Sulaiman membuka perkampungan baru yang dikelilingi benteng, yang kemudian diberi nama Kota Bangun. Di Kota Bangun itulah lahir putra pertamanya, membawa kegembiraan di tengah masa pengasingan.
Sementara itu, ayahandanya, Baginda Raja Tengah, berlayar menuju Negeri Sarawak di sebelah utara untuk menjemput sanak saudaranya. Namun, setibanya di Sarawak, takdir Allah menentukan jalan lain. Baginda Raja Tengah jatuh sakit yang amat berat hingga akhirnya mangkat di sana. Jenazah raja yang budiman itu lalu dimakamkan dengan penuh penghormatan di tepi Sungai Bedil, yang pada masa kini dikenali sebagai kota Kuching, ibu kota Negeri Sarawak.
Syahdan, meski Raden Sulaiman telah mengalah dan berdiam diri di Kota Bangun, Pangeran Aria Mangkurat tiada berhenti menabur fitnah. Ia meniupkan desas-desus jahat kepada Ratu Anom Kesuma Yuda bahwasanya Raden Sulaiman di Kota Bangun sedang mengumpulkan kekuatan untuk melakukan kudeta dan merebut takhta Kerajaan Sambas. Fitnah itu sengaja diembuskan lantaran rasa dengkinya yang tiada kunjung padam melihat rakyat banyak yang terus-menerus datang dan menaruh kasih sayang kepada Raden Sulaiman.
Demikianlah kisah ketabahan, kearifan, dan budi pekerti Raden Sulaiman beserta keluarga diraja, yang senantiasa mengutamakan kedamaian dan keselamatan rakyatnya di atas kepentingan takhta dan kekuasaan. Maka tamatlah hikayat ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar