Telah dibuatkan dokumen PDF berisi cerpen bertema tragis dan cinta dengan sudut pandang orang Cina di Pekong.Aroma wangi hio yang terbakar perlahan di atas altar tembaga malam itu tak mampu memadamkan kegelisahan yang menggejolak di dada Ah Seng. Di dalam pekong yang dipenuhi pendar merah lampion, meja-meja kayu panjang telah tertata rapi menyajikan hidangan pesta Tajau—babi panggang berkulit renyah, sup hangat, dan gentong-gentong tuak jernih. Gelak tawa para anggota kongsi dan tamu-tamu dari suku Dayak melintasi aula, menciptakan ilusi kedamaian yang teramat semu.
Di sudut aula yang paling tenang, Ah Seng menatap gadis di hadapannya. Barin, gadis Dayak bermata jernih dengan hiasan bunga melati di sanggul rambutnya, tersenyum lembut sembari mengulurkan cangkir keramik berisi tuak. Ah Seng menerimanya dengan jemari gemetar. Sudah dua tahun berlalu sejak mereka pertama kali bertemu di tepi Sungai Larah, ketika Ah Seng terluka diserang demam dan Barin merawatnya dengan dedaunan obat. Sejak hari itu, jiwa mereka saling tertaut, melangkahi tembok tebal perbedaan bangsa dan keyakinan.
“Mengapa wajahmu begitu pucat, Ah Seng?” bisik Barin penuh kelembutan, jemari halusnya menyentuh lengan Ah Seng. “Hari ini orang-orangmu mengajak sukuku bersuka ria. Apakah engkau tidak bahagia melihat kita duduk bersama?”
Suara Barin bagaikan sembilu yang menyayat hati Ah Seng. Pria muda itu memalingkan wajahnya, tak sanggup menatap mata Barin yang polos dan penuh kepercayaan. Ah Seng tahu rahasia kelam yang tersembunyi di balik keramahan para tetua kongsinya. Pesta Tajau ini bukanlah simbol persahabatan, melainkan sebuah jebakan berdarah yang dirancang untuk menghabisi para penjaga benteng dan tetua Dayak demi menguasai secara mutlak tanah-tanah tambang emas di Montrado.
Ah Seng menggenggam erat pergelangan tangan Barin. “Barin, dengarkan aku,” bisiknya setengah berbisik, nadanya sarat akan keputusasaan. “Pergilah dari sini sekarang. Lewat pintu belakang pekong. Bawa adikmu dan tinggalkan benteng ini.”
Barin mengerutkan dahi, matanya memancarkan kebingungan. “Mengapa? Ayahku dan para tetua baru saja diajak minum bersama pemimpin kongsimu. Mereka sedang bercengkerama di depan altar—”
Sebelum Ah Seng sempat menarik Barin berdiri, sebuah suara mendengung keras membelah riuk tawa di aula.
DONGGG!
Dentuman gong tembaga raksasa dari dalam tepekong bergema dahsyat, menggetarkan dinding-dinding kayu dan menghentikan seluruh aktivitas di dalam ruangan.
Seketika itu juga, senyum ramah para pemuda kongsi berubah menjadi dingin dan kejam. Dari bawah meja jamuan dan balik lipatan baju, kilatan parang dan pisau panjang dihunus serentak. Suasana damai bertukar menjadi neraka dalam sekejap mata. Jeritan histeris pembantaian meletus. Ayah Barin dan para penjaga Dayak yang terlena tanpa senjata diikat oleh pengkhianatan, ditusuk tanpa ampun saat cangkir minuman masih berada di genggaman mereka.
“Ah Seng! Apa yang terjadi?!” jerit Barin histeris saat melihat ayahnya ambruk bersimbah darah di depan altar.
“Lari, Barin! Lari!” teriak Ah Seng seraya melompat berdiri, menarik tubuh Barin ke dalam pelukannya untuk melindungi gadis itu dari kekacauan yang merebak.
Namun, di tengah kegelapan hati yang dikuasai rasa tamak dan dendam, tidak ada tempat bagi cinta. Seorang prajurit kongsi dengan mata merah memegang parang berdarah menerobos kerumunan, mengarahkan bilahnya tajam ke arah Barin. “Pengkhianat! Jangan biarkan orang Dayak tersisa!”
“Tidak!” jerit Ah Seng.
Tanpa ragu sedikit pun, Ah Seng memutar tubuhnya, memasang dadanya sendiri sebagai perisai. Bilah tajam itu menembus punggung Ah Seng dengan telak. Rasa dingin merayap seketika, disusul rasa panas membakar yang menghentikan napasnya. Ah Seng terhuyung, roboh ke lantai kayu yang kini banjir oleh genangan darah, membawa Barin jatuh bersamanya.
“Ah Seng! Ah Seng!” Barin meratap histeris, memangku kepala kekasihnya. Air matanya menetes berhamburan, membasahi wajah Ah Seng yang makin pucat.
Ah Seng menggenggam jemarinya yang makin dingin, menyentuh pipi Barin untuk terakhir kalinya. Bunga melati di sanggul Barin telah terlepas, jatuh tepat di atas dada Ah Seng yang bersimbah darah. "Pergi... Barin... hiduplah..." bisik Ah Seng dengan sisa napasnya yang patah-patah.
Genggaman tangan Ah Seng terkulai lemas. Mata pria muda itu tetap terbuka, menatap lampion-lampion merah yang bergoyang di langit-langit pekong—menyaksikan bagaimana pesta kegembiraan yang diimpikannya berakhir menjadi tragedi kelam yang membunuh cintanya dan meremukkan jiwanya di tanah Montrado.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar