Mentari pagi belum sepenuhnya menerobos pekatnya kabut rawa ketika desingan peluru pertama memecah keheningan di sekitar benteng Lumar. Di balik dinding kayu tebal dan tumpukan tanah yang kokoh, Kapitan A-Lian mengencangkan ikatan kain merah di kepalanya. Di sampingnya, belasan pemuda dengan wajah berjelaga memegang erat lila dan tombak-tombak panjang.
"Mereka mulai bergerak dari arah benteng Singkawang!" seru seorang pengintai yang baru saja melompat turun dari barikade atas. "Empat ratus prajurit Kompeni dipimpin langsung oleh de Stuers! Mereka membawa meriam-meriam besar!"
Gemuruh derap sepatu bot tentara kolonial terdengar makin mendekat, bersahutan dengan bunyi gesekan semak belukar yang basah. Hujan deras yang mengguyur sejak malam tak sedikit pun menyurutkan tekad para pejuang kongsi.
"Kapitan! Pasukan musuh terlalu banyak, dan senjata kita makin berkurang!" jerit Ah-Seng, seorang pemuda penambang emas yang tangannya gemetar memegang senapan tua. "Apakah kita harus mundur ke pedalaman seperti yang dilakukan kongsi lain?"
Kapitan A-Lian menepuk bahu pemuda itu dengan keras, menatap matanya dalam-dalam. "Mundur? Ke mana kita akan mundur, Ah-Seng? Ke dalam rawa-rawa untuk mati kelaparan? Tanah Lumar dan Larah ini adalah rumah kita! Leluhur kita mengolah tanah ini dari hutan beracun menjadi ladang kehidupan. Jika hari ini kita menyerahkan benteng ini tanpa perlawanan, kita merampas masa depan anak-cucu kita sendiri!"
"Tapi meriam dua belas pon mereka akan menghancurkan gerbang ini dalam hitungan menit!" timpal seorang tetua kongsi dengan napas terengah-engah.
Kapitan A-Lian melompat ke atas panggung kayu, mengangkat pedangnya tinggi-tinggi ke udara hingga memantulkan kilatan cahaya pagi.
"Dengar semuanya!" teriak A-Lian, suaranya menggema menembus debuman meriam yang mulai bersahutan. "Kompeni berpikir kita hanya barisan pedagang dan penambang yang bisa ditakut-takuti dengan denda emas dan gertakan perang! Mereka pikir dengan membakar rumah-rumah kongsi, kita akan berlutut memohon belas kasihan! Hari ini, kita tunjukkan kepada de Stuers dan seluruh pasukannya bahwa kehormatan orang-orang Montrado tidak bisa dibeli dengan thail emas!"
"Merdeka atau hancur bersamanya!" teriak para prajurit kongsi serempak, membakar semangat yang tadinya redup.
BOOM!
Dinding bagian timur benteng bergetar hebat dihantam bola besi meriam. Kayu-kayu bertumbangan, menyemburkan debu dan serpihan tajam. Melalui lubang yang menganga, barisan prajurit infanteri kolonial mulai merangsek masuk dengan bayonet terpasang.
"Tahan posisi!" perintah Kapitan A-Lian seraya mengacungkan pedangnya. "Tembak setelah mereka melewati parit!"
"Sekarang! Tembak!" jerit Ah-Seng.
Rentetan tembakan lila dan senapan memenuhi udara. Pertempuran jarak dekat yang sengit tak dapat dihindarkan. Kapitan A-Lian menerjang ke garis depan, memimpin perlawanan dengan keberanian yang membakar dada setiap prajuritnya. Walaupun gempuran meriam terus menghantam dinding-dinding benteng, tak ada satu pun pejuang yang beranjak mundur.
Setiap meter tanah benteng Lumar dipertahankan dengan titisan darah dan jeritan keberanian. Bagi mereka, ini bukan lagi sekadar perang perebutan tambang atau emas, melainkan sebuah pertaruhan harga diri atas tanah tempat mereka telah berakar dan hidup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar