Alkisah Pelayaran Ratu Muda ke Pulau Kabung
Sebermula maka tersebutlah suatu perkataan kisah kelanjutan silsilah raja-raja di tanah Sambas. Adapun raja pertama yang mendirikan tapak keteguhan kerajaan ini dengan berdaulat penuh—tanpa menggunakan gelar sultan—ialah seorang raja budiman bernama Ratu Muda. Syahdan, Kerajaan Sambas pada masa itu amatlah aman dan sentosa, segala rakyat hidup berkecukupan di bawah naungan keadilan baginda.
Hatta, maka pada tahun sekitar 1296 Masehi, pada suatu hari yang amat baik ketikanya, Ratu Muda pun berencana hendak pergi berlayar guna pesiar (bersenang-senang) bersama segenap keluarga kerajaan dan para hulu balangnya. Maka bertolaklah armada perahu baginda menyusuri ombak laut, berlayar menuju ke arah sebelah timur, hingga sampailah mereka ke sebuah pulau yang indah bernama Pulau Kabung—yaitu sebuah pulau yang terletak di dalam wilayah Kecamatan Sungai Raya sekarang ini.
Maka demi mendaratlah perahu baginda di tepi pantai Pulau Kabung yang sepi itu, sekalian keluarga kerajaan pun turun beristirahat di bawah rumbunnya pohon-pohon kelapa. Kalakian, tatkala hari menjelang tengah hari, berserulah permaisuri dan keluarga raja kepada para pengawal, meminta apalah kiranya dicarikan rebung buluh muda (pucuk bambu yang masih muda) di dalam hutan pulau tersebut, untuk diolah menjadi hidangan sayur santapan raja.
Maka pergilah beberapa orang pengawal masuk ke dalam kerapatan hutan bambu. Demi mereka melihat sebatang pohon buluh yang amat subur, bersiaplah seorang pengawal seraya mengayunkan parangnya hendak menebang rebung muda tersebut. Akan tetapi, sekonyong-konyong terhentilah tangan pengawal itu demi mendengar suatu keanehan yang teramat besar. Dari dalam salah satu ruas bambu yang hendak dipotong itu, terdengarlah suara tangisan seorang anak kecil, bersambung dengan sebuah teriakan ganjil yang meminta dengan sangat agar ia segera diambil dan diselamatkan.
Maka gemparlah sekalian pengawal itu, lalu dengan perlahan-lahan dipotongnyalah ruas bambu tersebut dengan penuh rasa takjub. Maka ruas bambu yang ajaib itu pun segera dibawa menghadap ke hadapan Ratu Muda di tepi pantai. Demi Ratu Muda membelah ruas bambu itu dengan tangannya sendiri, alangkah terperanjatnya sekalian orang yang hadir di tempat itu. Maka dari dalam ruas bambu yang pecah, muncullah seorang anak bayi laki-laki yang amat mungil, bertubuh tegap, perkasa rupa parasnya, dan yang paling membingungkan akal ialah anak bayi itu uniknya telah memiliki satu buah gigi yang tumbuh di rahangnya.
Maka demi melihat keelokan dan keajaiban anak bayi tersebut, bertumpahlah rasa kasih sayang Ratu Muda. Maka anak bayi itu pun diangkatnya menjadi anak angkat kerajaan, lalu diberi nama akan dia Tan Unggal.
Syahdan, waktu pun terus berjalan laksana air Sungai Sambas yang mengalir tiada henti. Tan Unggal kian hari kian tumbuh menjadi besar, tegap badannya, lagi tiada bertanding kegagahannya di antara sekalian pemuda di kerajaan. Akan tetapi, konon menurut cerita orang tua-tua yang memegang rahasia makrifat zaman, Tan Unggal itu sesungguhnya bukanlah manusia biasa. Ia adalah sesosok dewa dari khayangan yang beroleh murka, lalu dijatuhkan hukuman berupa kutukan oleh penguasa langit, hingga menjelmalah ia menjadi setitik embun murni yang jatuh ke bumi, lalu masuk ke dalam ruas bambu hingga dilahirkan sebagai manusia fana.
Hatta, demi Tan Unggal telah meningkat dewasa, mulailah watak kedewaan yang terkutuk itu muncul di dalam jiwanya. Ia memiliki sifat yang teramat angkuh, sombong, lagi besar ambisinya untuk menguasai takhta Kerajaan Sambas. Tiada lagi ia menaruh rasa hormat kepada ayah angkatnya, Ratu Muda. Maka pada suatu hari, dengan tegar hati dan pongahnya, Tan Unggal tegak berdiri di hadapan rakyat seraya menuntut dengan paksa agar segenap isi negeri mengakui dirinya sebagai raja yang sah menggantikan Ratu Muda.
Maka demi melihat ketegaran hati anak angkatnya yang penuh ambisi itu, serta demi melihat rasa ketakutan yang mula menjalar di hati rakyat Sambas, Ratu Muda pun dirundung duka yang teramat dalam. Baginda yang bijaksana itu berpikir, jikalau ia mempertahankan takhtanya, niscaya akan pecah perang saudara yang dapat memusnahkan ketenteraman negeri. Maka demi menjaga keselamatan dan kemaslahatan segenap penduduk yang dicintainya, Ratu Muda mengambil keputusan yang amat mulia: baginda memilih untuk pergi mengasingkan diri, raib meninggalkan lingkungan istana demi menghindarkan hal-hal yang tidak diinginkan di lingkungan kerajaan.
Arkian, setelah perginya Ratu Muda, maka naiklah Tan Unggal ke atas singgasana, berdaulat penuh menjadi Raja Sambas yang baru. Maka sejak hari pertama ia memegang tampuk kekuasaan, berubahlah Negeri Sambas yang tadinya aman sentosa menjadi sebuah negeri yang penuh dengan ratap dan tangis kemalangan. Tan Unggal memerintah dengan tangan besi; perbuatannya teramat kejam, bengis, lagi tiada menaruh rasa belas kasihan sedikit jua pun kepada rakyat jelata.
Jauh daripada itu, Tan Unggal juga memiliki sifat yang teramat serakah lagi ditunggangi oleh hawa nafsu duniawi yang tiada berujung. Ia mengambil perempuan di sana kemari untuk dijadikan istrinya, hingga selirnya tiada terhitung lagi banyaknya. Maka akibat keserakahan dan kelakuan sang raja yang laksana serigala kelaparan itu, timbullah ketakutan yang teramat sangat di dalam hati segenap orang tua di Negeri Sambas.
Banyak anak gadis dan perawan yang ketakutan, tiada lagi berani melangkahkan kaki keluar dari ambang pintu rumah mereka. Segenap orang tua yang memiliki anak gadis yang elok parasnya segera membuat tempat-tempat rahasia di dalam kolong rumah atau di dalam kerapatan hutan untuk menyembunyikan anak-anak mereka. Mereka senantiasa diliputi rasa cemas dan ketakutan yang teramat sangat, kalau-kalau anak gadis mereka yang suci diambil paksa begitu saja di tengah jalan oleh para hulu balang Tan Unggal demi memuaskan nafsu sang raja yang zalim. Rakyat menjerit ke langit malam, meratapi nasib negeri yang kini dikuasai oleh putra buluh titisan dewa terkutuk itu.
Maka tamatlah Hikayat Tan Unggal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar