Lumpur di pesisir Singkawang malam itu terasa lebih pekat dari biasanya. Bau garam bersatu dengan aroma mesiu yang belum sepenuhnya disapu angin laut. Di dalam sebuah bangsal kayu beratap nipah, Kapten Infanteri C. van Houten duduk termenung menatap peta lusuh yang terbentang di atas meja kasar. Cahaya redup dari lampu minyak meliuk-liuk, memantulkan bayangan jangkung perwira yang dikenal rakyat setempat dan prajuritnya sebagai sosok yang tak kenal takut.
Belum lewat setengah tahun sejak bentrokan berdarah mengguncang wilayah Montrado, tanah Kalimantan Barat yang kaya akan emas dan lada ini. Kemenangan militer Gubernemen telah diraih, tetapi Van Houten tahu betul bahwa memenangkan pertempuran di padang terbuka jauh lebih mudah daripada menaklukkan hati masyarakat yang diselimuti kabut trauma, ketakutan, dan kebencian.
Di luar, gerimis mulai turun menimpa dedaunan pisang. Bunyi gesekan ranting kayu dan erangan malam dari arah hutan mengingatkannya pada ancaman yang belum padam. Liau Ngie Liong, pemimpin pemberontak yang paling ditakuti, masih berkeliaran di kegelapan pegunungan Kulor. Kepala sang buronan telah dihargai 500 mata uang Spanyol, namun ia bagai siluman—tak tersentuh, hanya meninggalkan desas-desus yang terus meracuni pikiran warga pasar dan para pekerja tambang.
Pintu bangsal berderit terbuka. Kapten Verspijck masuk membawa kibasan air hujan di seragamnya. Wajah perwira muda itu tampak lesu, matanya merah karena kurang tidur.
"Tidak ada hasil di Pegunungan Kulor, Van Houten," ujar Verspijck seraya menghempaskan tubuhnya ke kursi kayu. "Juru jalan Cina yang membawa kita ke sana lari melesat ke dalam semak belukar. Pondok yang diinformasikannya kosong melompong. Kita dijebak."
Van Houten mengelus janggutnya yang tipis, matanya menatap tajam ke arah peta. "Ia tidak berniat membunuh pasukanku, Verspijck. Itu hanya gertakan. Mereka ingin memancing para pimpinan pasar keluar agar bisa dieksekusi. Liau Ngie Liong tahu kita sedang mencoba membangun keteraturan, dan ketakutan adalah satu-satunya senjata yang ia miliki sekarang."
Pagi harinya, matahari terbit membakar kabut Montrado. Hari itu, tanggal 5 November, adalah hari yang ditentukan untuk membacakan Peraturan Pemerintah yang baru. Di alun-alun Thang, ketegangan mengantung rapat di udara. Ratusan pasang mata memperhatikan dengan diam yang mencekam. Di panggung kayu berdiri pimpinan tertinggi militer, Letnan Kolonel Andresen, didampingi Sultan Sambas dan Panembahan Mempawah yang mengenakan pakaian kebesarannya. Di barisan lain, para kapitan Cina dengan jubah sutra berat berdiri kaku, raut wajah mereka sulit dibaca.
Van Houten berdiri tepat di belakang Letnan Kolonel. Ia memperhatikan setiap lekuk wajah warga yang berdesakan di lapangan. Ada ketakutan mendalam di sana. Bayangan eksekusi tiang gantung beberapa minggu lalu di Singkawang masih membakar ingatan mereka—sepuluh kepala terpenggal yang ditancapkan di atas tongkat kayu sebagai peringatan keras bagi para pemberontak.
Ketika maklumat dibacakan bahwa pemerintahan kongsi resmi dibatalkan dan digantikan oleh Asistensi Residensi Montrado, gumam tipis merayap di antara kerumunan. Selama berpuluh-puluh tahun, kongsi adalah hukum, pelindung, sekaligus penguasa tunggal hidup mereka. Kini, tatanan itu runtuh sepenuhnya dalam hitungan kalimat yang dibacakan oleh seorang juru bahasa.
Usai perundingan dan upacara formal, Van Houten berjalan menyusuri lorong-lorong pasar Montrado yang mulai ramai. Sebagai Asisten Residen pertama yang ditunjuk, beban berat membentang di hadapannya. Ia hanya dibantu oleh seorang juru tulis, seorang penyalin dokumen, serta 18 orang polisi tempatan yang sebagian besar merupakan bekas tukang masak, pelayan perwira, dan penunjuk jalan yang belum terlatih.
Di sebuah sudut pasar, ia berhenti di depan sebuah kedai kayu tempat seorang Kapitan tua tengah berdiri memperhatikan pekerja yang mengangkut karung padi.
"Kapitan," sapa Van Houten dalam bahasa setempat yang terpatah-patah namun terdengar mantap. "Pekerjaan jalan menuju Pangkalan Batu harus selesai minggu ini. Mengapa hanya separuh orangmu yang turun ke lapangan?"
Kapitan itu membungkuk agak dalam, jemarinya memilin ujung jubahnya. "Tuan Asisten Residen... rakyat takut. Perang baru saja usai. Hasil tambang kami kering, dan jika kami terus dipaksa kerja bakti membangun jalan, anak-anak kami tidak bisa makan. Lagipula, tanggul-tanggul rumah kongsi belum dibongkar karena warga masih memakainya untuk menjemur pakaian."
Van Houten menatap mata kapitan tua itu tanpa kedipan. Sebuah senyum tipis, dingin namun tak bernada ancaman, terukir di bibirnya. "Menjemur pakaian di atas benteng pertahanan perang, Kapitan? Alasan yang sangat kreatif, tetapi Gubernemen bukan anak kecil yang bisa dibodohi. Perintah adalah perintah. Jika dalam delapan hari pengerjaan jalan terhenti dan benteng tidak diratakan, hukum pukulan rotan dan gantung akan berbicara. Jangan paksa saya menjadi 'Kapten Penyerang' di dalam pasar ini."
Ancaman itu menyengat tepat di sasaran. Kapitan tua itu mengangguk cepat dengan wajah pucat. Van Houten tahu betul kapan harus menunjukkan taringnya, dan kapan harus mengulurkan tangan.
Untuk mencairkan suasana mencekam yang melingkupi kota pasca-pengumuman peraturan baru, Van Houten menggagas sebuah festival rakyat pada minggu yang sama. Malam itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun masa kegelapan perang, Montrado dibanjiri cahaya dan tawa.
Di tengah alun-alun, sebuah panggung wayang didirikan. Suara gesekan rebab dan petikan kecapi Cina bertalu-talu membawakan lakon klasik, bersahut-sahutan dengan teriakan riang para serdadu Eropa yang sibuk mengadakan lomba panjat pinang dan lari karung. Di sudut lain, pelawak-pelawak Jawa dan Madura mempertontonkan kelakar konyol yang memancing derai tawa para prajurit Afrika dan warga Dayak Mempawah.
Van Houten berdiri di tepi kerumunan bersama Letnan Kolonel Andresen, memegang segelas anggur. Di panggung utama, seorang penari Dayak dengan rok lingkaran rotan dan ikatan bulu burung di kepalanya bergerak meliuk-liuk. Gerakannya begitu tangkas, menirukan gerakan burung pemangsa yang hendak menyergap mangsa—sebuah tarian pengayau yang legendaris.
"Kau berhasil membuat kota yang mati ini bernapas kembali, Van Houten," gumam Andresen seraya memandang kerumunan warga Cina dan Melayu yang mulai berbaur dengan para prajurit.
"Ini hanya lapisan luar, Kolonel," bisik Van Houten. "Mereka tertawa malam ini, tetapi esok hari mereka bisa kembali memegang parang jika kita tak mampu memberi mereka kepastian perut dan keselamatan."
Namun, di balik hiruk-pikuk pesta, ancaman tak pernah benar-benar pergi. Memasuki bulan Desember, perselisihan pecah di wilayah Lumar. Para pekerja tambang yang terikat pada aturan kongsi lama menolak pembagian wilayah afdeeling baru yang ditetapkan oleh pimpinan sipil. Seorang bekas tokoh kongsi berpengaruh bernama Liu-Tsong menghimpun kekuatan di barak-barak tambang, menantang wewenang kapitan yang diangkat resmi oleh pemerintah.
Berita kerusuhan itu sampai ke telinga Van Houten saat gerimis subuh mengguyur Montrado. Tanpa ragu, ia memanggil Kapten Verspijck.
"Bawa satu peleton pasukan terbaikmu ke Lumar," perintah Van Houten tegas. "Liu-Tsong adalah simbol perlawanan lama. Ambil dia hidup-hidup, tapi jangan bakar parit pertambangannya. Kita butuh tambang itu tetap berproduksi, bukan menjadi abu."
Verspijck bergerak cepat. Hanya dalam waktu dua hari, ia kembali ke Montrado membawa Liu-Tsong dalam kondisi terikat. Pria bertubuh tegap dan berwajah keras itu berjalan dengan dada terangkat di sepanjang jalan pasar, menatap dingin ke arah para prajurit. Namun penangkapan Liu-Tsong menjadi titik balik yang krusial. Keberanian sosok yang ditakuti itu patah di tangan ketegasan hukum baru, menyadarkan pimpinan kongsi lainnya bahwa era kejayaan mereka telah usai.
Bulan-bulan berikutnya menjadi ajang pembuktian dedikasi Van Houten yang luar biasa. Meski tubuhnya mulai digerogoti demam tropis dan rasa lelah yang menumpuk, ia menolak untuk beristirahat di atas ranjang. Dengan tangan dinginnya sendiri, ia menyusun daftar pendaftaran tanah, membagi rute dinas pos dari Pontianak hingga Sambas, serta mengawasi pelaksanaan vaksinasi cacar bagi anak-anak Dayak dan Cina di pedalaman.
Jalan setapak berliku yang dulu menjadi sarang jebakan gerilya, kini telah berubah menjadi jalan raya selebar beberapa meter yang menghubungkan Singkawang, Montrado, dan Pangkalan Batu. Roda-roda pedati dan derap langkah kuda beban kini berbunyi nyaring setiap pagi, mengangkut beras, garam, dan hasil bumi. Ketika lelang hak jual candu, perjudian, dan pertambangan emas dibuka pada awal tahun 1855, hasilnya melonjak drastis hingga ratusan ribu gulden—sebuah bukti tak terbantahkan bahwa stabilitas dan kepercayaan pasar telah pulih sepenuhnya.
Namun, hukum alam tropis tak pernah bisa ditawar. Pada akhir Januari 1855, kondisi kesehatan Van Houten memburuk secara drastis. Demam tinggi yang tak kunjung turun serta penyakit lama yang kambuh membuatnya tak lagi sanggup berdiri tegap di atas mimbar markas. Surat pemanggilan kembali ke Belanda demi alasan keselamatan jiwanya pun akhirnya tiba dari Batavia.
Hari kepindahannya tiba pada sebuah pagi yang cerah di akhir bulan. Di depan markas Asistensi Residensi Montrado, seluruh garnisun tentara berdiri tegak dalam barisan kehormatan. Puluhan kapitan Cina, pimpinan Melayu, serta tokoh-tokoh masyarakat tempatan berkumpul dengan wajah muram.
Van Houten berjalan perlahan keluar dari bangsal kayu, mengenakan seragam kebesarannya yang tampak agak longgar karena tubuhnya yang menyusut. Di sampingnya, Kapten Verspijck siap menerima tongkat komando kepemimpinan yang baru.
"Terima kasih atas segalanya, Kapten," ujar Verspijck suara serak, menjabat erat tangan seniornya itu. "Anda telah meletakkan batu pertama bagi fondasi tatanan baru di tanah ini. Kami hanya tinggal melanjutkan pondasi yang telah Anda bangun dengan darah dan keringat."
Van Houten memandang sekelilingnya. Ia menatap jalan raya lebar yang membentang ke arah Singkawang, menatap pasar yang riuh oleh suara tawar-menawar, dan menatap anak-anak tempatan yang berlarian tanpa rasa takut di sekitar serdadu. Tak ada lagi dentuman meriam, tak ada lagi jeritan ketakutan di tengah malam, dan tak ada lagi bau mesiu yang menyengat.
Saat kereta kuda yang membawanya mulai bergerak perlahan meninggalkan Montrado menuju pelabuhan, warga Cina dan Melayu di sepanjang jalan menundukkan kepala mereka dengan penuh hormat. Mereka tidak lagi melihatnya sebagai musuh yang ditakuti atau sekadar penjajah berkulit putih, melainkan sebagai seorang perwira tangguh yang adil, jujur, dan berjiwa besar.
Di dalam kereta yang terguncang pelan melintasi jalan mulus buatan rakyatnya, Van Houten menyandarkan kepalanya ke dinding kayu. Ia memejamkan mata dengan senyum tipis di bibirnya. 'Kapten Penyerang' itu kini pergi meninggalkan Kalimantan, bukan sebagai pemenang perang yang haus darah, melainkan sebagai seorang pembawa kedamaian yang berhasil menyulap puing-puing kehancuran menjadi sebuah harapan baru.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar