Minggu, 20 September 2026

Hikayat Tangisan Ibu di Ujung Musim Pangkorokng

Alkisah di sebuah lembah terpencil di Benua Pabonihan, hiduplah seorang janda tua bernama Dang Jelani bersama anak tunggal laki-lakinya yang amat disayanginya, Si Seta namanya. Syahdan, berbulan-bulan lamanya Dang Jelani menguras sisa tenaganya yang telah senja, membongkar tanah dan menanam benih padi di ladang demi melihat anak kandungnya mengecap kehidupan yang layak. Maka tatkala akhir bulan Februari tiba dan musim buah-buahan bersisa tumpukan pangkorokng yang membusuk, padi di ladang mereka pun mulai menguning, menjanjikan bulir-bulir nasi baru yang harum.

Maka tatkala itu, terdengarlah seruan tetua adat bahwasanya hari penjemputan Ne' Kabayan dan ritual Boo' Pangkorokng telah tiba. Segenap warga benua diwajibkan mengunci rumah dan berpuasa dari segala aktivitas demi membujuk antu panyakit agar pergi melayang menuju pusaran air di Pauh Janggi.

Namun malang tak dapat ditolak, takdir duka menyapa pondok sepi Dang Jelani. Tiga hari sebelum Boo' Pangkorokng dimulakan, Si Seta jatuh sakit parah. Tubuhnya menggigil dihantam demam tinggi, napasnya tersengal-sengal, dan bibirnya kering pecah-pecah memanggil nama ibunya. Dang Jelani merawat anaknya dengan derai air mata yang tiada henti.

Maka tatkala fajar hari Boo' Pangkorokng menyingsing, selubung kesunyian pun melingkupi segenap kampung. Pintu-pintu kayu dipasak rapat, api di dapur dipadamkan, dan tiada satu pun langkah kaki manusia kelihatan di lorong benua. Sesuai aturan adat yang kramat, seisi rumah pantang menyalakan api, pantang keluar rumah, dan pantang memasak makanan berbau amis atau bersuara keras. Manusia hanya menahan lapar dengan meminum air murni dalam tabung bambu tabokng dan memakan rebusan daun ubi yang dingin.

Syahdan, tatkala sang suria mulai tenggelam dan malam boo' jatuh kian pekat, keadaan Si Seta kian kritis. Dalam kegelapan rumah yang sunyi senyap, tubuh pemuda itu kejang-kejang. Dari kerongkongannya yang kering, terbit bisikan liris nan merintih: "Ibu... dingin sekali... dadaku sesak, Ibu... aku lapar... teringat aroma nasi baru..."

Dang Jelani merengkuh tubuh anaknya yang makin mendingin. Dipeluknya erat-erat kepala Si Seta di pangkuannya seraya membendung jerit tangisnya sendiri, sebab adat melarang keras manusia bersuara keras tatkala masa boo'.

"Bertahanlah wahai anakku, buah hatiku," bisik Dang Jelani amat halus di telinga Seta. "Sebentar lagi panen tiba. Ibu akan menanakkan sumpooh tahutn yang paling harum untukmu... Jangan biarkan dirimu mati sebelum merasakan nasi padi baru dari titik peluh kita..."

Namun rintihan Si Seta kian memilukan: "Ibu... lidahku kelu... beri aku seteguk air hangat... hangat saja, Ibu..."

Mata Dang Jelani menatap ke arah dapur yang gelap gulita. Hatinya teriris bagaikan diiris sembilu. Adat melarang keras menyalakan api tatkala malam boo' berlangsung, sebab percikan api dan percikan asap akan mengundang rombongan antu panyakit yang sedang berkeliaran di luar mencari mangsa. Namun, membiarkan anak kandungnya merintih kesakitan dalam kedinginan adalah siksaan yang tak sanggup ditanggung oleh jiwa seorang ibu.

Maka dalam kegelapan yang mencekam, kasih ibu mengalahkan rasa takutnya pada adat dan maut.

Dengan tangan gemetar dan derai air mata yang membasahi pipi, Dang Jelani merayap ke dapur. Diam-diam, ia memercikkan api kecil pada tungku untuk memanaskan sedikit air dalam tabung bambu. Percikan api merah menyala kecil di kegelapan, dan asap tipis berhembus keluar dari celah dinding bambu rumahnya.

Dang Jelani tiada tahu, percikan api kecil dari kasih sayangnya itu telah menjadi petaka yang merenggut segalanya.

Di luar rumah, rombongan antu panyakit yang melayang-layang hendak meninggalkan kampung menuju lautan lepas mendadak terhenti. Hidung-hidung busuk mereka menangkap kehangatan asap dan pancaran api dari pondok Dang Jelani.

“Ada api... Ada manusia yang melanggar pantang...” bisik suara-suara dingin nan mengerikan dari balik kegelapan malam.

Sebelum Dang Jelani sempat membawa mangkuk air hangat itu ke pembaringan anaknya, angin tebal nan dingin luar biasa menghantam dinding bambu rumahnya. Pintu kayu yang terkunci terlempar melayang. Hawa busuk pangkorokng menyeruak masuk melingkupi ruang dalam yang gelap.

Dang Jelani menjerit perlahan tatkala melihat bayangan-bayangan hitam tak berwujud mengepung pembaringan anak tunggalnya. Arwah-arwah penagih adat yang murka meraba dan meniupkan udara wabah tepat ke dada Si Seta yang lemah.

"Jangan! Ambil nyawaku! Jangan anakku!" jerit Dang Jelani seraya melompat menutupi tubuh anaknya. Namun segalanya telah terlambat.

Dalam dekapan ibunya, Si Seta menghembuskan napas terakhir dengan mata terbuka menatap atap rumah. Wajahnya pucat membiru, dan dari sudut bibirnya menetes air mata bercampur darah. Si Seta gugur di malam itu, mati sebelum sempat mencicipi sebutir pun nasi padi baru hasil panen ibunya.

Keesokan harinya, tatkala sunyi Boo' Pangkorokng berakhir dan warga membuka pintu, mereka menemukan Dang Jelani sedang duduk tertegun melamun di pelataran rumahnya. Di pangkuannya, terbaring jasad Si Seta yang telah kaku.

Dang Jelani tiada menangis lagi. Matanya hampa, menatap lurus ke arah ladang padi di kejauhan yang kuning berkilauan disiram sinar matahari pagi. Ladang yang berbuah lebat itu kini terasa sia-sia dan tak berati lagi baginya.

Tua-tua adat berdiri memandangi jasad Si Seta dengan duka dan penyesalan yang mendalam. Dang Magat menggelengkan kepala seraya berbisik dengan suara berat: "Anak ini mati dalam nasib yang paling sial... mati no' nyacap sumpooh tahutn. Kasih seorang ibu yang hendak menghangatkan anaknya telah memanggil kembali bencana yang seharusnya pergi."

Sesuai hukum adat bagi mereka yang mati ditimpa penyakit sebelum panen, jasad Si Seta tiada boleh disemayamkan dengan pesta adat di kampung. Jasad pemuda itu diusung sunyi oleh beberapa warga menuju rimba dalam untuk dimakamkan tanpa sanak saudara.

Dang Jelani berjalan mengiringi jasad anaknya dari jauh dengan langkah gontai. Tatkala angin ladang berhembus membawa wangi padi muda yang baru matang, perempuan tua itu jatuh berlutut di atas tanah Pabonihan. Dipeluknya tanah kering itu erat-erat, meratapi takdir tragis yang merenggut buah hatinya tepat di ambang pintu kemakmuran.

Maka semenjak hari itu, Dang Jelani hidup bagaikan bayang-bayang di Benua Pabonihan. Pada tiap-tiap pesta Ngabayotn dilangsungkan dan warga bersuka ria memakan nasi baru, perempuan tua itu hanya duduk sendirian di tepi ladang, menatap keranjang Ne' Kabayan seraya meneteskan air mata meratapi Si Seta—anak kandungnya yang mati membawa kerinduan akan sepinggan nasi padi baru yang tak pernah sampai ke bibirnya.

Tamatlah hikayat.

Tidak ada komentar:

Mite Rahasia Pohon Asam Janggi dan Penjaga Taino

Alkisah pada awal mula zaman, tatkala bumi Taino masih muda, Pohon Asam Janggi belum berdiri di tengah pusaran air laut lepas. Pada masa itu...