Bismillah wal-hamdulillah. Ini suatu hikayat tatkala menceritakan kisah pada zaman dahulu kala, di sebuah benua yang hijau dan makmur, tempat bernaung suku Dayak Salako yang taat pada adat leluhur dan hukum pariba.
Alkisah, maka tersebutlah perkataan tatkala musim mengetam padi telah usai, dan segala bulir hasil panen telah dimasukkan dengan sempurnanya ke dalam dango dan bauh penyimpan padi. Maka mengikut adat teras moyang, belumlah sempurna sukacita para peladang jikalau belum dilaksanakan ritual menjemput tuho padi—yakni ketua dari segala padi yang dinamai Ne’ Kabayan.
Maka pada suatu hari yang hening, seorang perawan nan bijaksana dinamai Dayang Tari bersiap-siap menuju ke pabanihan, yaitu tanah ladang yang amat dimuliakan. Di tangannya menggenggam sebuah lubu’, yakni bakul kecil anyaman bambu nan elok. Niat hatinya hendak menjemput Ne’ Kabayan yang terdiri dari tujuh batang padi nan subur dalam satu lubang tugal.
Sesuai petuah orang tua-tua, Dayang Tari pun merebahkan tujuh batang tuho padi itu dengan lemah lembut, dilipatnya menjadi dua, lalu ditaruh ke dalam bakul. Maka diambilnya pula beberapa tangkai bungo ikotn—bunga Selasih yang harum semerbak—sebagai perhiasan penghormatan bagi Ne’ Kabayan, karena bahwasanya kaum perempuan amat menyukai akan keindahan bunga-bunga. Tak lupa pula dimasukkannya sebongkah damar kecil ke dalam lubu’ itu.
Maka adapun hikmah ditaruhnya damar itu, yaitu sebagai permohonan dan doa kepada Yang Maha Kuasa agar padi yang disimpan di dalam lumbung tiada cepat habisnya, jua melimpah-ruah secara mukjizat hingga menjadi padi gawak tatkala panen yang baru datang.
Syahdan, tatkala Dayang Tari hendak melangkah pulang, teringatlah ia akan seorang perempuan tua di kampung itu yang dinamai Nek Salikn. Syahdan Nek Salikn itu uzur usianya dan kabur pemandangannya, sehingga tiada sanggup ia menjemput Ne’ Kabayan di ladangnya sendiri. Padahal, jikalau Ne’ Kabayan tiada dijemput, niscaya keluarga itu tiada dapat melaksanakan ritual Ngabayotn dan narahi’ padi—yaitu mengurapi benih dengan darah kurban. Malah barangsiapa yang berani merusak ladang atau mengetam tumbuhan sebelum Ne’ Kabayan dijemput, niscaya ia melanggar adat dan mendatangkan mara bahaya atas dirinya dan keluarganya.
Maka dengan rasa belas kasihan dan paribaso (etiket kesopanan) yang mendalam, Dayang Tari pun pergi ke ladang Nek Salikn lalu menjemputkan Ne’ Kabayan milik perempuan tua itu. Maka amat sukacitalah hati Nek Salikn. Sesuai dengan hukum adat leluhur, Nek Salikn berjanji hendak memberikan manok sabarokng, tumpi’, poe’, dan bontokng saepet tatkala pesta upacara Ngabayotn berlangsung kelak, sebagai tanda terima kasih dan ikatan kasih antar sesama manusia.
Hatta, setelah Ne’ Kabayan selamat disemayamkan di atas timbunan padi di dalam lumbung rumah, maka cengkerama dan pantangan atas ladang pun diangkat. Maka ladang umo itu kini berubah namanya menjadi tayo’tn atau babutotn.
Maka bertempas-tempaslah kaum perempuan turun ke tayo’tn melakukan nayo’ umo dan ngarago’, yaitu membersihkan gulma di antara ubi kayu, keladi, tebu, dan pisang, serta mengumpul kayu api selama sebulan lamanya. Adapun kaum laki-laki tiada ikut batayo’, melainkan sibuk mereka memperbaiki (nyuat) atap rumah yang bocor serta mencari bekal uang untuk kemeriahan pesta upacara ritual Ngabayotn.
Demikianlah hikayat Ne’ Kabayan dan keagungan adat suku Dayak Salako dipelihara dari zaman berzaman, membawa keberkahan pada padi di lumbung dan kedamaian pada budi manusia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar