Nenek moyang kami di pedalaman Borneo selalu percaya bahwa hutan dan sungai tidak pernah berbohong. Jauh sebelum terompet perang berbunyi dan bunyi dentuman besi memecah heningnya rimba, pepohonan telah meranggas dan angin membawa bau bau kecurigaan.
Dahulu kala, sewaktu Sultan Umar Alamudin masih bertahta di Sambas, kami melihat orang-orang berwajah pucat dan tubuh kurus turun dari kapal asing yang aneh. Mereka bersimpuh di tanah, memohon dengan sangat agar diberi sepetak tempat tinggal di Larah. Orang-orang tua kami di suku Dayak melihat mereka dengan belas kasihan. Kami mengajari mereka cara berdampingan dengan hutan, dan tak jarang gadis-gadis kami dipersunting oleh mereka. Saat itu, mereka tampak seperti tetangga yang taat dan rajin.
Namun, emas mengubah segalanya. Lapisan emas di tanah kami bagaikan sihir hitam yang menghapus rasa terima kasih.
Saya masih ingat betul cerita tentang hari naas saat pesta Tajau. Tetua kami dan warga suku Dayak datang dari dalam hutan dengan hati polos dan gembira untuk ikut merayakan pesta orang-orang Cina tersebut. Kami diajak makan bersama, mendengarkan irama musik, dan diajak melihat rahasia di dalam tepekong. Penjaga-penjaga benteng kami melonggarkan ikatan senjata mereka, terbuai oleh tawa dan keramahan yang ternyata palsu.
Lalu, sebuah pukulan gong terdengar keras dari dalam tepekong.
Suara itu bukanlah tanda kehormatan, melainkan panggilan pembantaian. Dalam sekejap mata, senyum ramah berganti menjadi kilatan senjata tajam. Saudara-saudara kami ditusuk dari belakang saat masih memegang mangkuk minuman. Perempuan dan anak-anak Dayak yang berlari meminta belas kasihan dibantai tanpa ampun. Benteng kami direbut, darah suku kami membasahi tanah Larah, dan sejak hari itu, mereka menanggalkan topengnya. Mereka tidak lagi menjadi tetangga, melainkan penguasa yang tamak.
Bertahun-tahun setelahnya, kami rakyat Dayak hidup dalam penderitaan di bawah tirani kongsi-kongsi tersebut. Kami diperlakukan tak ubahnya hewan pengangkut barang. Raja-raja Melayu pun dibuat tak berdaya; upeti diputus dan hukum mereka diinjak-injak. Ketika bentrok antar-kongsi meletus, hutan kami terbakar dan ladang kami dirusak oleh perang saudara berdarah mereka sendiri.
Hingga akhirnya, bunyi dentuman yang lebih dahsyat terdengar dari arah pesisir Singkawang. Orang-orang kulit putih dari Jawa—pasukan Kompeni Belanda—datang membawa meriam-meriam besar dan kapal beruap.
Dari balik rimbunnya dedaunan di atas bukit, saya dan para pemuda Dayak mengamati pertempuran demi pertempuran yang terjadi di Lumar, Kulor, hingga Montrado. Kami melihat bagaimana pasukan Kompeni merayap di atas tanah liat berawa yang basah, tidur di atas dahan-dahan pohon kerdil saat hujan deras, dan menembakkan mortir ke arah benteng-benteng kongsi. Orang-orang Cina yang dulunya begitu congkik dan kejam kepada kami, kini berlari ketakutan ke dalam hutan atau membakar pasar-pasar mereka sendiri sebelum mundur.
Pada bulan Juni 1854, asap perang di Montrado perlahan menyusut. Dari puncak bukit, kami menyaksikan barisan ratusan prajurit Kompeni berbaris masuk ke jantung kota. Orang-orang yang dahulu membantai leluhur kami di pesta Tajau, kini berbaris mengenakan pakaian putih polos, bersimpuh dan berlutut di atas debu jalanan untuk memohon ampun.
Rakyat Dayak mengamati semua itu dalam diam dari balik pepohonan rimba. Kekuasaan kongsi yang dibangun di atas pengkhianatan akhirnya runtuh, digantikan oleh bayang-bayang penguasa baru dari seberang lautan. Kami mengelus hulu mandau di pinggang, menyadari bahwa meski satu penindas telah tunduk di tanah ini, hutan dan tanah kelahiran kami akan selalu menuntut kami untuk tetap waspada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar