Sebermula, maka inilah suatu riwayat yang keluar dari mulutku, Ene’ Panitah, yang memegang kuasa adat dan tatanan suci di atas puncak kayangan. Biarlah sekalian penghuni bumi dan langit mendengar, bagaimana jalannya hukum dan keadilan mesti ditegakkan, walau hati seorang ayah harus dirundung duka yang teramat dalam.
Syahdan, pada masa dahulu kala, aku bertakhta di ladang kayangan bersama Ene’ Duniang. Orang-orang di bumi menyangka ia adalah istriku, namun ketahuilah olehmu, bahwa kami tiada pernah bercampur dan bersetubuh layaknya manusia fana yang digerakkan oleh syahwat. Kami menjaga kesucian langit. Maka tatkala Ene’ Duniang memohon sebuah hajat kepada Yang-Yang si Jubata, maka dikaruniakanlah ke pondok kami seorang anak laki-laki yang kami namai Baruakng Kulup. Aku mengasuhnya dengan ketegasan hukum langit, karena kelak ia yang akan mewarisi rahasia semesta.
Hatta, demi Baruakng Kulup itu tumbuh remaja, hatinya senantiasa condong hendak turun bermain-main ke bumi. Aku tiada melarang, namun ketahuilah bahwa manusia di bumi itu tabiatnya bebal, suka memboroskan makanan, dan tiada tahu arti hemat. Kesucian kayangan tiada boleh bercampur dengan kebebalan bumi.
Akan tetapi, takdir malang mula mengintai akibat kelalaian Ene’ Duniang yang kurang waspada menjaga anak laki-laki itu bermain. Tanpa sepengetahuanku, sebutir padi suci—benda yang paling berharga di ladang kayangan ini—telah melekat pada tulang kering Baruakng Kulup saat ia turun ke bumi. Padi itu dimakan oleh Ne’ Umang-Umang dan khasiatnya membuat mereka segar seketika. Di sanalah manusia bumi yang cerdik lagi serakah mulai membujuk anakku untuk menyelundupkan harta suci kayangan.
Maka pada bulan yang keenam, ketujuh, hingga bulan kedelapan, aku melayangkan pandanganku mengintip ke arah bumi manusia. Alangkah murkanya aku tatkala melihat hamparan hijau dan kuning tanaman padi tumbuh subur di dekat dapur manusia! Anakku, Baruakng Kulup, telah mencuri padi itu dengan menyembunyikannya di dalam kemaluannya demi menuruti keinginan manusia bumi.
Maka meledaklah amarahku yang dahsyat. Aku menghadap Ene’ Duniang seraya membentak dengan mata menyala-nyala, "Coba lihat apa yang dilakukan Baruakng Kulup di bawah sana! Dia telah memberikan padi kita kepada manusia. Ini semua karena kau tiada waspada memperhatikan anak laki-laki itu waktu dia bermain!"
Ene’ Duniang hanya bisa menangis tersedu-sedu seraya meratap, "Apa yang bisa kita perbuat sekarang?"
Maka sahutku dengan tegas demi menegakkan hukum langit, "Akibat perbuatannya, manusia akan menjadi miskin karena tiada hidup hemat. Hukum harus dijalankan. Tunggu saja, aku akan memasang tombak lompat untuk membunuh anak itu!"
Maka aku pun memasang perangkap tombak maut di perbatasan kayangan. Aku tahu Ene’ Duniang terus menangis sambil membersihkan rambutnya, namun hukum tiada boleh pandang bulu. Akan tetapi, kasih seorang ibu rupanya melahirkan muslihat. Saat Baruakng Kulup mengendap-endap kembali ke atas, Ene’ Duniang menggeser seonggok bangkai babi betina tua tepat ke arah mata tombak jebakanku, lalu menyuruh anakku melarikan diri ke alam Subayan. Ketika aku memeriksa perangkap itu, istriku berkata, "Anak kita telah melarikan diri, dan hanya bangkai babi betina tua ini yang tertembus oleh tombak."
Aku terdiam. Aku tahu anakku lolos, dan aku membiarkannya pergi ke alam Subayan untuk menebus dosanya. Di sana ia menikah dengan Ne' si Putih dan melahirkan sewakul penuh burung-burung peramal. Ketika Baruakng Kulup kembali menghadapku dengan rasa bingung dan terbebani, aku berikan ia petunjuk, "Tusukkan sebatang bambu aur di tanah pada ujung serambi luar, lepaskan burung-burung itu satu per satu dan berikan nama."
Maka dilepaskannyalah burung itu seekor demi seekor; mulai dari Keto’, Kohoat, Caruit, Buria’, Biang, Jantek, Rooh, Anst, Jiji, Dugal, Tongo’, hingga Adain. Aku menitahkan, "Burung-burung itu adalah anak-anakmu, abang dari keturunanmu kelak. Mereka akan menjadi pembawa ketentuan adat dan pertanda peramal bagi manusia jika hendak membuka ladang padi." Setelah itu, kuperintahkan ia menceraikan istri arwahnya dan turun ke bumi untuk menikahi seorang manusia bernama Jamani.
Kalakian, anakku beroleh anak di bumi bernama Kuling Langit. Aku telah mengariskan hukum, bahwa cucuku itu tiada boleh melanggar suara dan larangan dari abang-abangnya (burung peramal) saat hendak bermain dan memakan buah langsat di halaman.
Namun pada suatu hari yang malang, cucuku Kuling Langit bersikap tegar hati. Ia melanggar isyarat buruk dari burung Keto’ dan Jantek yang melarangnya sampai tiga kali berturut-turut. Ia nekat memanjat pohon buah-buahan tersebut, hingga akhirnya terjatuh—debuk!—dan tewas seketika di atas batu-batuan. Itulah akibat yang nyata bagi siapa saja yang berani melawan hukum dan ketentuan adat.
Melihat jasad Kuling Langit dibawa terbang dengan penuh cinta oleh burung-burung peramal naik ke kayangan, hatiku yang keras akhirnya luluh. Aku melihat kesetiaan unggas-unggas itu kepada adiknya. Maka dengan kekuasaan sakti yang ada padaku, kubangkitkan kembali Kuling Langit dari kematian, lalu kuhadiahkan ia kehidupan abadi untuk tinggal bersama kami di kayangan dan tiada lagi kembali kepada manusia.
Arkian, setelah segalanya genap, aku memanggil kembali Baruakng Kulup. Hatiku tiada lagi dipenuhi amarah, melainkan kebijaksanaan. Kebalikan dari hukuman, aku berikan ia tugas mulia. Titahku, "Wahai Baruakng Kulup, kembalilah engkau ke tengah-tengah manusia di bumi. Ajarkanlah kepada mereka sekalian ketentuan-ketentuan adat dan arti dari bahasa burung-burung peramal itu."
Maka sejak hari itu hingga masa sekarang, sekalian orang Dayak di bumi amat memperhatikan bahasa burung dan mematuhi aturan berladang. Padi yang dulu dicuri kini menjadi berkat yang diatur oleh hukum adat yang kutinggalkan. Hukum langit telah tegak, dan bumi telah beroleh tatanannya.
Maka tamatlah Hikayat Ene’ Panitah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar