Nama aku Ah Kow. Keluarga kami sudah tiga generasi bermukim di sebuah kampung kecil di daerah pedalaman dekat Bengkayang. Ayahku mengelola kedai kelontong sederhana di tepi jalan kayu, sementara ibu bertanam sayur di pekarangan belakang. Selama bertahun-tahun, kehidupan kami menyatu dengan ritme pedalaman. Kami bertegur sapa hangat dengan tetangga-tetangga suku Dayak yang sering mampir membeli garam atau menukarkan hasil buruan dengan barang kebutuhan sehari-hari. Kami menganggap tanah ini sebagai rumah kami satu-satunya.
Namun, menjelang akhir tahun 1967, udara di pedalaman berubah menjadi dingin dan mencekam.
Di hutan-hutan sekitar kampung kami, berkeliaran kelompok-kelompok bersenjata yang menyebut diri mereka PGRS dan PARAKU. Mereka bersembunyi di balik lebatnya rimba, merampas pasokan makanan, dan mengklaim berjuang atas nama ideology komunis. Padahal, aku dan keluargaku hanyalah warga biasa yang sama sekali tidak paham urusan politik politik atau gerakan subversif itu. Kami hanya rakyat kecil yang ingin hidup tenang dan mencari makan dengan jujur.
Tetapi, kemalangan tak dapat ditolak. Di mata orang-orang pedalaman yang tersulut amarah, warna kulit dan bentuk mata kami menjadikan kami disamakan dengan para gerombolan bersenjata di dalam hutan.
Puncaknya terjadi pada suatu siang di pertengahan Oktober 1967.
Suara teriakan yang menggelegar dan kepulan asap hitam mendadak membumbung tinggi dari arah Kampung Taum dan lereng Gunung Merebuk. Teriakan perang bersahut-sahutan, disusul dentuman senapan lantak dan bau hangus kayu terbakar. Dari jendela rumah, aku melihat gelombang penyerangan datang bagaikan air bah yang membendung. Ratusan massa membawa mandau, tombak, dan sumpitan, mengepung rumah-rumah warga Tionghoa.
"Ah Kow! Lari! Cepat keluar dari rumah!" teriak Ayah hysteris seraya menarik lenganku dan Ibu.
Kami tidak sempat menyelamatkan harta benda sama sekali. Hanya baju yang melekat di badan dan sedikit perhiasan simpanan Ibu yang berhasil digenggam. Saat kami berlari menembus pintu belakang menuju semak-semak rimba, aku menoleh ke belakang dengan dada sesak. Kedai sederhana yang didirikan Ayah dengan keringat puluhan tahun terbakar hebat dilalap si jago merah. Dari kejauhan, jeritan histeris warga yang tak sempat melarikan diri terdengar memecah keheningan. Jeritan itu bercampur dengan kepanikan dan ratapan duka yang tak tertahankan.
Dalam sekejap, kami menjadi buronan di tanah yang kami anggap sebagai kampung halaman sendiri.
Kami berjalan kaki menyusuri jalan-jalan setapak, menghindari jalan raya karena takut berpapasan dengan aksi penyerangan yang terus menyebar ke Serimbu, Menjalin, Toho, hingga ke Mandor. Kaki Ibu melepuh dan berdarah, sementara Ayah berjalan dengan tubuh gemetar dipenuhi rasa cemas yang teramat sangat. Ketakutan dan kepanikan meliputi ribuan warga Tionghoa pedalaman lainnya yang bernasib sama dengan kami.
Di sepanjang jalan menuju kota, aku menyaksikan pemandangan yang menyayat hati. Ribuan orang—orang tua yang renta, wanita yang menggendong bayi, hingga anak-anak kecil—berjalan berbondong-bondong dalam barisan panjang yang seolah tak ada ujungnya. Mereka membawa bungkusan kain berisi sisa-sisa harta yang sempat diselamatkan. Wajah-wajah mereka pucat pasi, matanya hampa dan kehilangan harapan.
"Ke mana kita akan pergi, Ayah?" bisikku pelan di tengah gerimis malam yang dingin.
"Ke Singkawang atau Pontianak, Nak... Asal kita bisa selamat di bawah penjagaan tentara," jawab Ayah parau, matanya menatap lurus ke kegelapan jalan.
Setibanya di jalan raya antara Singkawang dan Pontianak, tampak truk-truk ABRI lalang memuat pengungsi yang kelelahan. Kami berhasil menaiki salah satu kendaraan penampungan. Lebih dari lima puluh ribu jiwa terkumpul di tempat-tempat pengungsian darurat yang didirikan oleh Palang Merah Indonesia dan pemerintah daerah. Di dalam tenda-tenda pengungsian yang sempit dan kumuh, ratapan kehilangan terdengar di setiap sudut. Banyak keluarga yang terpisah dari kerabatnya, dan tak sedikit yang kehilangan anggota keluarga tercinta selama eksodus mengerikan itu.
Beberapa minggu kemudian, kabar sampai ke telinga kami bahwa pertempuran di pedalaman telah mereda setelah terbentuknya Laskar Pangsuma dan dilakukannya tindakan pengamanan oleh aparat. Gerombolan komunis PGRS/PARAKU yang bersembunyi di hutan telah hancur dan terputus jalur pasokannya.
Namun bagi kami, kemenangan itu dibayar dengan kehilangan yang amat dalam.
Aku berdiri di tepi pantai kota Singkawang, memandang ombak laut yang bergulung hampa. Rumah kami di pedalaman telah menjadi abu, kebun dan toko kami telah lenyap, dan kehidupan yang kami bangun dengan penuh kedamaian kini tinggal kenangan yang menyakitkan. Kami selamat dari maut, tetapi kami kehilangan akar tempat kami tumbuh. Tragedi itu meninggalkan luka yang teramat dalam di dalam dada—sebuah jejak kelam tentang bagaimana rakyat kecil selalu menjadi korban dari kecurigaan dan konflik kekuasaan yang tak pernah kami inginkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar