Asap dupa yang tebal meliuk-liuk di dalam ruang tengah rumah toko milikku, menyelimuti altar leluhur dengan aroma cendana yang pekat. Aku, Kapitan Ah-Lian, duduk terpaku dengan jemari gemetar. Dari luar jendela, derap langkah sepatu laras milik prajurit Kompeni terdengar berirama di atas tanah Montrado yang baru saja mengering dari darah.
Sembilan bulan perang telah meremukkan segalanya. Kongsi tempat kami bernaung selama berpuluh-puluh tahun kini tinggal nama. Dulu, kata-kata pengurus kongsi adalah hukum yang tak tertandingi; tempat emas digali, perdagangan diatur, dan perlindungan diberikan. Kini, maklumat yang dibacakan oleh perwira Kompeni di alun-alun Thang telah mencabut seluruh kekuasaan itu.
Namun, bukan hilangnya wewenang yang membuat mataku tak bisa terpejam selama berhari-hari. Adalah bayangan tiang-tiang kayu di tepi jalan Singkawang dan Montrado.
Aku teringat hari ketika sepuluh orang kawan kami dijatuhi hukuman gantung. Hukuman mati itu sendiri sudah cukup mengerikan, tetapi apa yang dilakukan Kompeni setelahnya melukai jiwa kami jauh lebih dalam: kepala mereka dipotong dan ditancapkan di atas tongkat kayu untuk dipamerkan selama dua minggu.
Bagi bangsa asing berkulit putih itu, pemenggalan adalah cara menanamkan ketakutan agar tak ada lagi yang berani memberontak. Namun bagi kami, pengikut ajaran Kon-fu-cu, itu adalah vonis keputusasaan yang abadi. Kami percaya bahwa ketika tiba saatnya roh melayang menuju surga, sang nabi akan ditarik masuk melalui kuncir rambut kami. Jika kepala terpisah dari jasad, bagaimana keselamatan kekal bisa diraih? Roh kawan-kawan kami akan terlunta-lunta di depan pintu surga selamanya, menjadi arwah penasaran yang menangis di kegelapan.
Malam itu, setelah para penjaga Kompeni lengah, beberapa warga pasar memberanikan diri mengambil jasad tanpa kepala yang ditinggalkan. Di dalam ruang belakang kedaiku, di bawah remang cahaya lampu minyak, kami menangis tanpa suara. Dengan jemari gemetar, para pengukir kayu terbaik di pasar membuat kepala tiruan dari kayu ringan dan kertas tipis. Kami melapisinya dengan cat halus dan memasangkan kuncir indah yang dipintal dari benang sutra terbaik.
Kami menjahitkan kepala kayu itu ke leher jasad kawan-kawan kami dengan rapi sebelum memasukkannya ke dalam peti mati. Kami berdoa dengan penuh kepasrahan, berharap para dewa di langit mau memejamkan mata dan mengizinkan kelicikan kecil ini meloloskan roh mereka masuk ke surga.
Keesokan harinya, aku dipanggil menghadap Asisten Residen yang baru, Kapten van Houten. Perwira jangkung yang dijuluki 'Kapten Penyerang' itu duduk di belakang meja kayu tebal. Wajahnya keras, ditegaskan oleh demam tropis yang membuat matanya cekung, namun tatapannya menembus hingga ke dasar jiwaku.
"Kapitan Ah-Lian," suaranya terdengar datar namun menekan. "Pekerjaan pengerjaan jalan dari Montrado menuju Singkawang dan Pangkalan Batu terhenti di wilayahmu. Mengapa orang-orangmu tidak keluar bekerja hari ini?"
Aku membungkuk dalam-dalam, menangkupkan kedua tangan di dada. "Tuan Asisten Residen... warga pasar dan pekerja tambang masih ketakutan. Perang baru usai, perdagangan lumpuh, dan pengerjaan jalan setiap hari membuat mereka tak punya waktu untuk mencari penghidupan. Lagipula, tanggul pertahanan di sekitar rumah kongsi belum dibongkar karena warga masih menggunakannya untuk menjemur pakaian."
Van Houten menatapku tanpa berkedip. Sebuah senyum tipis, dingin tanpa rasa humor, muncul di bibirnya.
"Menjemur pakaian, Kapitan? Alasan yang sangat menggelikan," jawabnya tajam. "Gubernemen tidak akan terkecoh oleh perlawanan terselubung seperti ini. Ingat pengumuman yang sudah ditempel di dinding pasar. Jika dalam delapan hari orang-orangmu tidak memegang cangkul untuk meratakan benteng dan membangun jalan, hukum rotan dan tiang gantung akan kembali berbicara."
Ancaman itu menghantam dadaku seperti pukulan godam. Aku tahu Van Houten tidak sedang bertaruh dengan kata-kata. Ia adalah orang yang sama yang berdiri paling depan saat menggempur benteng-benteng kami.
"Kami akan mematuhi perintah, Tuan," bisikku pelan seraya menundukkan kepala lebih dalam.
Sejak hari itu, tatanan baru benar-benar merayap masuk ke setiap jengkal Montrado. Pagi demi pagi, ratusan pekerja tambang dan warga pasar turun ke jalan, memotong semak belukar, meratakan bukit, dan memperlebar rute setapak berliku menjadi jalan raya yang lebar. Pasukan Kompeni berjaga di setiap sudut, memastikan tidak ada lagi pergerakan gerilya dari pengikut Liau Ngie Liong yang bersembunyi di hutan.
Ketika festival rakyat diadakan di alun-alun Thang untuk merayakan ketertiban baru, aku berdiri di tepi kerumunan pasar. Aku menyaksikan bagaimana pertunjukan panggung wayang kami bersahut-sahutan dengan tawa serdadu Eropa yang bermain balap karung, tarian pengayau warga Dayak, serta atraksi akrobat prajurit Afrika. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, rasa takut yang mencengkeram dada sedikit mengendur.
Beberapa bulan kemudian, aku berdiri di tepi jalan raya Singkawang yang kini telah dipenuhi kereta kuda dan pedagang beras. Aku melihat kereta kuda yang membawa Kapten van Houten berlalu menuju pantai untuk berlayar kembali ke negerinya karena sakit keras.
Aku menundukkan kepala saat kereta itu melintas. Van Houten telah menghancurkan dunia lama kami, memadamkan kekuasaan kongsi yang kami banggakan, dan menegakkan hukum dengan tangan besi. Namun di atas debu jalan raya yang baru ini, ia juga telah menghentikan pertumpahan darah dan mengembalikan napas kehidupan di pasar kami.
Sambil memilin ujung jubahku, aku menatap langit Montrado yang cerah. Zaman baru telah tiba, dan kami, orang-orang pasar yang bertahan hidup, harus belajar berjalan di atasnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar