Alkisah, pada zaman dahulu kala, terdapat sebuah kerajaan yang bernama Negeri Puspa Arum. Negeri itu dipimpin oleh seorang raja yang adil dan bijaksana, bernama Baginda Surya Mahkota. Baginda mempunyai seorang putra bernama Raden Jaya Perkasa.
Raden Jaya Perkasa adalah seorang pemuda yang rajin bekerja. Setiap pagi, sebelum matahari terbit, ia telah bangun dan membantu rakyat mengerjakan berbagai pekerjaan. Ia tidak pernah memilih pekerjaan berdasarkan besar kecilnya pujian yang akan diterimanya.
Pada suatu hari, Baginda memanggil seluruh pemuda di negeri itu. Baginda berkata, “Barang siapa yang mampu membangun sebuah jembatan yang menghubungkan dua desa sebelum musim hujan tiba, niscaya akan mendapat penghargaan dari kerajaan.”
Mendengar titah tersebut, banyak pemuda berlomba-lomba mengerjakan jembatan. Sebagian dari mereka bekerja hanya karena menginginkan hadiah. Mereka ingin menjadi orang pertama yang menyelesaikan pekerjaan agar dipuji oleh Baginda.
Raden Jaya Perkasa pun ikut bekerja. Akan tetapi, ia tidak memikirkan hadiah. Ia bekerja dengan sepenuh hati karena mengetahui bahwa jembatan itu akan digunakan oleh rakyat.
Setiap hari ia mengajak para pekerja bekerja dengan penuh semangat. Jika ada orang yang kelelahan, ia membantu. Jika ada pekerjaan yang sulit, ia mengerjakannya bersama-sama.
Melihat hal itu, seorang pemuda bernama Raden Wiratama berkata, “Mengapa engkau tidak berusaha menjadi yang paling cepat? Jika engkau bekerja lebih dahulu daripada yang lain, tentu Baginda akan lebih memujimu.”
Raden Jaya Perkasa tersenyum lalu menjawab, “Cepatlah dalam bekerja, tetapi jangan mendahului hak orang lain. Kita bekerja bukan untuk menjatuhkan saudara sendiri, melainkan untuk menyelesaikan pekerjaan dengan sebaik-baiknya.”
Hari demi hari berlalu. Raden Jaya Perkasa semakin terampil. Ia mampu menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat, tetapi tetap memperhatikan pekerjaan orang lain. Ia tidak pernah mengambil hasil kerja orang lain untuk mendapatkan pujian.
Akhirnya, musim hujan hampir tiba. Jembatan yang dikerjakan oleh Raden Jaya Perkasa dan para pekerja selesai tepat pada waktunya. Jembatan itu berdiri kokoh dan dapat digunakan oleh seluruh rakyat.
Baginda Surya Mahkota datang melihat jembatan tersebut. Baginda sangat kagum melihat hasil kerja mereka. Baginda kemudian bertanya kepada rakyat, “Siapakah yang paling banyak berjasa dalam pembangunan jembatan ini?”
Rakyat menjawab, “Raden Jaya Perkasa, Tuanku. Ia bekerja paling tekun dan selalu membantu kami tanpa mengharapkan pujian.”
Baginda pun memanggil Raden Jaya Perkasa dan memberinya penghargaan.
Namun, Raden Jaya Perkasa berkata, “Ampun, Baginda. Jembatan ini bukan hasil kerja hamba seorang. Semua orang telah bekerja bersama-sama. Jika ada penghargaan, berikanlah kepada mereka yang telah membantu.”
Mendengar jawaban itu, Baginda semakin kagum. Baginda berkata, “Wahai anakku, kini engkau telah memahami arti keberhasilan yang sesungguhnya. Orang yang tinggi derajatnya bukanlah orang yang meninggikan dirinya di atas orang lain, melainkan orang yang mampu mengangkat orang lain bersamanya.”
Sejak hari itu, Raden Jaya Perkasa semakin dihormati oleh seluruh rakyat. Ia kemudian dipercaya menjadi pemimpin yang membantu Baginda mengurus kerajaan.
Maka masyhurlah nasihat di Negeri Puspa Arum:
“Bekerjalah keras dan bersemangat tanpa pamrih. Berjalanlah cepat tanpa harus mendahului. Jadilah tinggi tanpa harus melebihi dan merendahkan orang lain.”
Amanat: Bekerjalah dengan sungguh-sungguh dan ikhlas. Jangan menjadikan keberhasilan sebagai alasan untuk mengalahkan atau merendahkan orang lain. Keunggulan yang sejati adalah ketika kita dapat maju bersama-sama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar