Senin, 21 September 2026

Hikayat Mak Sumi dan Parang Patahi

Syahdan maka tersebutlah suatu penceritaan di dalam sebuah negeri nan makmur lagi subur, dinamai orang Negeri Bantang Salako. Adapun di negeri itu, terhampar belantara nan mahaluas lagi senantiasa dilitupi kabut tebal pada malam hari, tempat bermukim anak cucu manusia yang hidup beralaskan adat dan bersandarkan petunjuk para leluhur. Maka di dalam struktur kehiupan sosial komunitas tersebut, terdapatlah hamba-hamba Allah yang dikaruniai hikmat serta keahlian khusus nan tiada dimiliki oleh khalayak ramai, yang digelar orang tukang atau orang pandai.

Maka adapun hamba yang empunya penceritaan ini bernama Mak Sumi, seorang perempuan tua yang telah berkali-kali menyaksikan pergantian bulan dan musim. Dalam kalangan penduduk bantang, hamba digelar Tukang Pangarabanan—yakni bidan kampung yang memegang amanah memimpin persalinan (bapero’), menyambut titisan nyawa yang baru terbit dari alam gaib ke alam fana ini. Kemampuan yang ada pada dada hamba ini bukannya diperoleh dengan kemudahan, melainkan diwarisi daripada jalur keturunan dan panggilan gaib yang dipandu oleh roh pahiangan—yakni roh baik nan senantiasa mendampingi dan memberi petunjuk tatkala hamba menjalin tugas-tugas nan sarat marabahaya.

Sebermula maka pada suatu malam jumaat yang hening, angin pegunungan bertiup teramat dingin menembus celah-celah dinding buluh rumah panggung hamba. Tatkala sang suria telah lama beradu di balik perbukitan dan malam telah meniti ke puncaknya, datanglah seorang lelaki dewasa berlarat-larat dengan napas yang memburu. Ia mengetuk pintu rumah hamba dengan tergesa-gesa. Lelaki itu bernama Bada, seorang peladang dari hujung bantang.

"Ampunkan hamba, Mak Pangarabanan!" jerit Bada dengan suara yang parau lagi gemetar. "Sudilah kiranya Mak Segera melangkah ke rumah hamba. Istri hamba sedang bertarung nyawa untuk melahirkan anak kami yang pertama. Sakitnya telah merambat sejak senja tadi, namun sang bayi belum jua menampakkan tanda-tanda hendak keluar!"

Melihatkan keadaan Bada yang teramat cemas itu, maka hamba pun tidak melengahkan waktu lagi. Hamba mengambil sebuah botol kecil sebesar ibu jari yang berisi minyak sakral dan azimat-azimat rahasia—sebuah benda bertuah yang dinamai conekng, nan menjadi wadah dan sumber kekuatan superinsani hamba. Hamba sisipkan conekng itu ke dalam kemboja kain hamba, lalu melangkah membelah kegelapan malam yang pekat.

Maka tatkala sampai di halaman rumah Bada, hamba menyuruh Bada menyiapkan segala alatan kelengkapan adat untuk menangkal gangguan makhluk halus. Ketahuilah olehmu, bahwasanya tatkala seorang perempuan hendak melahirkan, bau darah amis yang merebak ke udara akan memanggil-manggil kehadiran iblis dan roh-roh jahat—terutamanya antu bantianak (hantu kuntilanak) nan amat dahaga akan darah ibu dan bayi.

Maka dengan sigap, Bada mengambil sebuah parang tua yang telah patah putingnya. Parang tua itu dipantakkannya tegak lurus ke dalam tanah tepat di sebelah pintu utama rumah panggungnya, lalu permukaannya diconteng-conteng dengan kapur sirih. Syahdan, pancangan parang patah dan garis kapur itu menjadi pagar gaib nan kukuh, sehingga roh-roh jahat tidak akan berani melintasi ambang pintu untuk mengganggu proses persalinan.

Hamba pun naik ke atas rumah. Di dalam kamar nan samar-samar dilintasi cahaya pelita minyak jarak, terbaringlah istri Bada yang bernama Kumang. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya, dan wajahnya pucat bagaikan kain kafan. Di samping pembaringan telah tersedia sebuah pantarotn—yakni piring sakral berisi beras kuning, selembar antek (sirih yang dioles kapur, pinang, dan gambir), sebatang rokok nipah, serta beberapa keping uang seadanya sebagai simbol paribaso atau etiket adat kepada roh-roh pembantu. Terletak pula di atas piring itu dua buah manik-manik batu nan dinamai samoopm.

Maka hamba pun duduk bersila di sisi Kumang. Hamba ambil conekng dari kemboja kain, lalu diletakkan dengan takzim di atas pantarotn. Setelah itu, hamba mengambil samoopm—dua manik batu bertuah—lalu mengikatkannya pada pergelangan tangan kiri hamba sebagai benteng diri. Hamba mengambil sejemput beras daripada pantarotn, lalu hamba berdiri menghadap ke arah timur, ke tempat terbitnya sang suria yang memancarkan kehidupan.

Hamba komat-kamit melafalkan mantera-doa kuno, memanggil-manggil kehadiran roh pahiangan agar sudi hadir menjadi mentor dan melapangkan jalan bagi sang bayi. Syahdan, selesai sahaja mantera dibaca, hamba pun melontarkan beras sejemput itu ke udara, melayang ke arah timur. Seketika itu jua, udara di dalam kamar terasa mendadak hangat, dan keheningan malam seolah-olah dipenuhi oleh naungan gaib nan menenteramkan jiwa.

"Dengar wahai Kumang," bisik hamba ke telinga perempuan muda itu seraya mengelus perutnya dengan minyak daripada conekng. "Pusatkan ingatanmu pada Sang Creator. Jangan engkau gentar, kerana roh pahiangan sedang berdiri melingkungi kita."

Hamba mulai memijat dan membidani (ngarabanan) perut Kumang dengan lembut namun mantap, mengarahkan posisi sang bayi agar sejajar dengan pintu kelahiran. Keriuhan kecil terjadi tatkala rasa sakit kembali menyerang Kumang. Ia menggemertakkan giginya seraya menggenggam erat tangan suaminya. Di luar rumah, berhembus angin kencang yang memukul-mukul dedaunan pisang; sayup-sayup terdengar derit kepakan sayap dari kegelapan hutan—tanda bahwasanya antu bantianak sedang memutari rumah, namun tidak sanggup menembus wibawa parang patah dan garis kapur di balik pintu.

Maka dengan petunjuk daripada roh pahiangan, hamba bimbing napas Kumang dengan sabar. "Hela napasmu, anakku... Teranlah tatkala gelombang sakit itu datang!"

Kumang mengumpul seluruh sisa tenaganya, merintih dan meneran dengan penuh kepasrahan. Maka pada saat yang maha penting itu, dengan izin Allah dan bantuan pahiangan, pecahlah tangisan nyaring seorang bayi laki-laki nan elok rupanya, membelah kesunyian malam di Bantang Salako. Tangisan itu bergema dengan nyaringnya, mengusir sekalian bayang-bayang kelam yang bergentayangan di luar rumah.

Hamba dengan sigap menyambut sang bayi, memotong tali pusatnya, menyucikannya dengan air hangat, lalu meletakkannya di atas dada sang ibu. Bada meneteskan air mata kebahagiaan seraya sujud bersyukur di sudut kamar.

Selesai sahaja tugas pembidanan itu, hamba tidak meminta upah berupa emas, perak, atau mata uang, kerana di dalam hukum adat kami, tugas seorang pangarabanan tidaklah dinilai dengan tarif atau harga. Hamba hanya mengambil isi daripada pantarotn—yakni beras, sirih, rokok nipah, dan sekeping uang seadanya—sebagai bentuk balas jasa yang sah menurut adat leluhur.

Maka beberapa bulan kemudian, tatkala sang bayi telah genap berusia tiga bulan, Bada dan keluarganya menggelar upacara ritual matuho atau batooh (basaru’ sumangat). Hamba kembali diundang dengan penuh hormat untuk menghadiri majelis kenduri tersebut. Di hadapan para tetua adat dan warga bantang, nama sang bayi diresmikan dan jiwa sang anak dipanggil (basaru’ sumangat) agar melekat kukuh pada raganya, diakui secara sah sebagai anggota keluarga dan komunitas suku Dayak Salako.

Atas jasa pembidanan itu, keluarga Bada memberikan epet—sebuah bungkusan sakral yang berisi daging ayam sebelah (barokng manok), sebungkus tumpi’, dan dua batang poe’ (pulut dalam bambu)—sebagai tanda penghormatan tertinggi kepada sang bidan kampung. Bahkan tatkala upacara ngabayotn dan sembahyang besar booh nyawo diselenggarakan oleh kampung, hamba sebagai pangarabanan senantiasa mendapat bagian babuk bersama-sama dengan para pengurus adat lainnya.

Demikianlah kisah perjalanan hidup hamba, Mak Sumi Sang Tukang Pangarabanan. Di balik rimba yang sunyi dan malam yang dingin, jemari tua hamba menjadi saksi atas benih-benih kehidupan baru yang mekar di bumi Salako. Selagi matahari masih terbit dari ufuk timur dan parang patah masih terpancang di tepi pintu, hamba akan senantiasa berdiri menuntun nyawa-nyawa baru melangkah ke alam fana ini dengan selamat.

Maka tamatlah hikayat Tukang Pangarabanan ini dengan segala selamat dan sempurnanya.

Tidak ada komentar:

Hikayat Sang Tukang Barayopm dan Jemari Pemikat Rimba

Syahdan maka tersebutlah suatu penceritaan kuno dari tanah Bantang Salako, sebuah petempatan tua yang dilingkungi belantara ulin nan megah l...